SHOPPING CART

close

Tag: kaidah

  • kaidah

Kaidah Fiqih 33: Suatu Kebutuhan Yang Bersifat Hajiyat Bisa Menjadi Dharuriyat

اَلْحَاجَةُ قَدْ تَنْزِلُ مَنْزِلَةَ الضَّرُوْرَةِ Al-haa-ja-tu qad tan-zi-lu man-zi-la-tadh-dha-ruu-rah. Suatu kebutuhan yang bersifat hajiyat itu bisa menjadi kebutuhan dharuriyat.   Contoh: 1. Hukum duduk berhimpitan dengan lawan jenis yang bukan mahram itu haram. Namun diperbolehkan...
Read More

Kaidah Fiqih 32: Yang Wajib Itu Lebih Utama daripada Yang Sunnah

الْفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفَلِ Al-far-dhu af-dha-lu mi-nan-na-fal. Yang wajib itu lebih utama daripada yang sunnah. Contoh: 1. Bila kita bangun kesiangan, yang lebih utama adalah shalat Shubuh, bukan shalat Dhuha. 2. Bila kita punya hutang...
Read More

Kaidah Fiqih 31: Mengutamakan Yang Lebih Manfaat

الْمُتَعَدِّي أَفْضَلُ مِنَ الْقَاصِرِ Al-mu-ta-'ad-dii af-dha-lu mi-nal-qaa-shir. Yang mendatangkan manfaat tambahan itu lebih mulia daripada yang biasa saja. Contoh: 1. Membantu orang yang kesusahan itu lebih utama daripada ibadah sunnah. Karena orang ibadah sunnah itu...
Read More

Kaidah Fiqih 30: Mengutamakan Orang Lain dalam Hal Ibadah

الْإِيْثَارُ بِالْقُرْبِ مَكْرُوْهٌ Al-ii-tsaa-ru bil-qur-bi mak-ruuh. Mengutamakan orang lain dalam hal ibadah hukumnya adalah makruh. Contoh: 1. Bila ada kesempatan mengambil shaf pertama, janganlah kita memberikannya kepada orang lain. Hendaknya kita ambil untuk diri...
Read More

Kaidah Fiqih 29: Keadaan Yang Terlalu Longgar Harus Diberikan Batasan

إِذَا اِتَّسَعَ الْأَمْرُ ضَاقَ I-dzaa it-ta-sa-'al-am-ru dhaaq. Bila keadaan terlalu longgar, maka hukumnya menjadi ketat. Contoh: 1. Pada asalnya tidak ada aturan tentang gerakan dalam shalat selain gerakan shalat. Namun karena keadaan tersebut terlalu...
Read More

Kaidah Fiqih 28: Suatu Ijtihad Tidak Gugur oleh Ijtihad Yang Lain

الْإِجْتِهَادُ لَا يَنْقُضُ بِالْإِجْتِهَادِ Al-ij-ti-haa-du laa-yan-qu-dhu bil-ij-ti-haad. Suatu ijtihad tidak gugur oleh ijtihad yang lain. Contoh: 1. Seorang ulama berijtihad tentang hukum rokok, hingga dia sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa hukum rokok itu adalah...
Read More

Kaidah Fiqih 27: Ketika Ada Dua Pilihan Yang Sama-sama Buruk

إِذَا تَعَارَضَ مَفْسَدَتَانِ رُوْعِيَ أَعْظَمُهُمَا بِإِرْتِكَابِ أَخَفِّهِمَا I-dzaa ta-'aa-ra-dha maf-sa-da-taa-ni ruu-'i-ya a'-zha-mu-hu-maa bi-ir-ti-kaa-bi a-khaf-fi-hi-maa. Bila harus memilih dua pilihan yang sama-sama buruk, maka kita hindari yang paling buruk, dan memilih yang lebih...
Read More

Kaidah Fiqih 26: Pada Dasarnya Hukum Segala Sesuatu Adalah Halal

الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَة Al-ash-lu fil-asy-yaa-il-i-baa-hah. Pada dasarnya hukum segala sesuatu adalah halal. Contoh: 1. Hukum semua makanan adalah halal, kecuali yang diharamkan dalam al-Qur'an atau hadits. 2. Hukum semua jual-beli adalah halal, kecuali yang...
Read More

Kaidah Fiqih 25: Hukum Asal Farji Adalah Haram

الأَصْلُ فِي الْإِبْضَاءِ التَّحْرِيْمُ Al-ash-lu fil-ib-dhaa-'it-tah-riim. Hukum asal farji (kemaluan) adalah haram. Contoh: 1. Siapapun tidak boleh melakukan hubungan suami-isteri, sampai ada bukti keduanya merupakan suami-istri. 2. Melihat aurat orang lain itu hukumnya adalah haram,...
Read More

Kaidah Fiqih 24: Tata Cara Ibadah Itu Bersifat Baku dari Petunjuk Al-Qur’an dan Hadits

الْأَصْلُ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيْفُ وَالْاِتْبَاعُ Al-ash-lu fil-'i-baa-daa-tit-tau-qii-fu wal-it-baa'. Hukum asal dalam ibadah itu bersifat tauqif dan ittiba’. Contoh: 1. Jumlah rakaat dalam shalat lima waktu itu termasuk ibadah. Maka kita tidak boleh membuat sendiri....
Read More
  • 1
  • 2
  • 4