SHOPPING CART

close

Teladan Sifat Shidiq dalam Perilaku Para Nabi

Shidiq merupakan salah satu sifat utama bagi setiap nabi. Tidak ada satu pun nabi yang memiliki sifat kadzib.

1. Tiap Nabi Itu Dijamin Shidiq

Di antara tugas utama setiap nabi adalah menyampaikan wahyu kepada umatnya. Kita tidak bisa membayangkan seorang nabi mampu menjalankan tugas ini, apabila ia tidak bersifat shidiq. Seandainya nabi bersifat kadzib, maka umatnya akan selalu meragukan setiap wahyu yang disampaikannya.

Jaminan dari Allah

Oleh karena itulah, Allah Swt. telah memberikan jaminan bahwa seorang nabi, apalagi Nabi Muhammad Saw. sebagai nabi paling agung, sudah pasti bersifat shidiq.

Jaminan itu adalah sebagai berikut:

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ، لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ، ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ.

Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, niscaya benar-benar Kami beri tindakan sekeras-kerasnya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. (al-Haaqqah: 44-46)

Dengan demikian, dengan perasaan tenteram kita akan selalu mengikuti setiap perintah maupun larangan Nabi Muhammad Saw. Kita meyakini, bahwa setiap perintah dan larangan beliau adalah benar-benar wahyu dari Allah Swt.

Perintah untuk mengikuti

Menegaskan hal itu, Allah pun memberikan perintah kepada kita untuk selalu taat kepada Nabi Muhammad Saw. Allah berfirman:

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا.

Apa yang diperintahkan Rasul padamu, maka taatilah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (al-Hasyr: 7)

Bahkan ketaatan kepada Nabi Muhammad Saw. merupakan bagian dari keimanan kita sebagai seorang muslim.

Allah Swt. berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ، ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhya. (an-Nisa’: 65)

2. Teladan Para Nabi dalam Sifat Shidiq

Dalam keimanan sebagai orang Islam, kita meyakini bahwa setiap nabi bersifat shidiq. Tidak ada satu pun nabi yang bersifat kadzib. Demikian melekatnya sifat shidiq itu pada diri mereka, sehingga Allah pun memuji-muji mereka dengan sifat shidiq tersebut.

Allah menyebut para nabi sebagai pribadi yang bersifat shidiq itu tentu saja bukannya tanpa tujuan.  Allah menyebut-nyebut para nabi dengan sifat ini sebagai panutan bagi orang-orang yang beriman, di mana pun dan sampai kapan pun mereka berada.

Para nabi bersifat shidiq bukan karena tujuan-tujuan materi atau duniawi. Mereka bersifat shidiq karena sifat shidiq merupakan sifat yang mulia. Dan mereka tetap bersifat shidiq, meskipun harus menebus sifat shidiq dengan mengorbankan kesenangan duniawi, baik materi maupun non-materi.

a. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam merupakan nabi yang paling dekat dalam kehidupan kita sehari-hari setelah Nabi Muhammad Saw.. Dalam sehari-semalam, tidak kurang dari 20 kali kita menyebut nama beliau dalam ibadah paling penting, yaitu shalat, tepatnya pada bacaan tahiyat. Tiap tahun, kita pun memperingati pengorbanan beliau yang begitu mulia, yaitu pada hari raya Idul Adha. Dan ibadah haji sesungguhnya merupakan penghayatan atas ketaatan beliau bersama keluarga dalam menjalankan perintah-perintah Allah.

Dalam sebuah ayat, Allah pun menjelaskan sifat utama Nabi Ibrahim adalah shidiq. Allah berfirman:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقاً نَبِيّاً.

Dan ceritakanlah (wahai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya dia seorang yang shiddiq dan seorang nabi. (Maryam: 41)

b. Nabi Ismail dan Idris ‘alaihis salam

Dalam ayat yang lain lagi, Allah memberikan keterangan yang secara tegas, bahwa sifat shidiq merupakan sifat yang melekat dengan risalah kenabian. Secara khusus, dalam sebuah ayat Allah menerangkan sifat shidiq dalam diri Nabi Ismail dan Nabi Idris ‘alaihis salam. Allah Swt. berfirman:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ، إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولاً نَبِيّاً، وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ، وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً. وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ، إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقاً نَبِيّاً، وَرَفَعْنَاهُ مَكَاناً عَلِيّاً.

Dan ceritakanlah (wahai Muhammad), kisah Ismail di dalam al-Qur’an. Dia benar-benar seorang yang shidiq janjinya, juga seorang nabi dan rasul. Dan dia menyuruh keluarganya untuk melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan dia seorang yang diridhai di sisi Tuhannya. Dan ceritakanlah kisah Idris di dalam al-Qur’an. Sesunggunya dia seorang yang shidiq dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. (Maryam: 54-57)

c. Nabi Yusuf ‘alaihis salam

Banyak orang tua memberikan saran kepada anak perempuan atau anak menantunya yang sedang hamil, “Perbanyaklah membaca Surat Yusuf, supaya anakmu kelak tampan dan saleh seperti Nabi Yusuf.” Atau, “Perbanyaklah membaca Surat Maryam, supaya anakmu kelak cantik dan salehah seperti Bunda Maryam.”

Kisah lengkap dalam sebuah surat

Memang Nabi Yusuf merupakan salah satu nabi yang amat dekat dengan kita, umat Islam. Tidak ada seorang nabi pun yang kisah hidupnya diceritakan secara lengkap dalam al-Qur’an selain Nabi Yusuf ‘alaihis salam.

Kanak-kanak

Dalam Surat Yusuf itu, Allah Swt. menceritakan sejarah hidup Nabi Yusuf secara detail. Mulai beliau masih kanak-kanak, remaja, hingga dewasa.

Sejak beliau masih bersama kedua orang tua dan saudara-saudaranya. Dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya sendiri yang merasa iri padany. Diselamatkan sekaligus dijual oleh para pedagang yang sedang melintas. Hingga tinggal bersama seorang bangsawan Mesir.

Tumbuh sebagai pemuda yang rupawan

Di rumah bangsawan yang sekaligus majikannya itu, isteri sang majikan tergoda oleh ketampanan Nabi Yusuf yang luar biasa, sehingga wanita itu pun merancang strategi untuk merayu beliau. Karena iman yang kokoh dalam dadanya, Nabi Yusuf mampu menghindarkan diri dari dosa besar itu. Pada waktu yang kritis itulah, akhirnya mereka bertemu dengan sang majikan yang hendak masuk rumah.

Dengan kelihaiannya, isteri bangsawan itu menuduh Nabi Yusuf sebagai pihak yang mengkhianati kepercayaan tuannya. Tapi Nabi Yusuf dengan tenang menolak tuduhan tersebut, dan itu sudah cukup bagi mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Yusuf memang sudah dikenal sebagai pribadi yang bersifat shidiq.

Penentuan nasib

Namun untuk menjaga perasaan wanita tersebut, tampillah seseorang yang menengahi peristiwa itu.

وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا: إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ، وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ. فَلَمَّا رَأَى قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ: إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ.

Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya, “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu yang berlaku shidiq, dan Yusuf termasuk orang-orang yang bersifat kadzib. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang berlaku kadzib, dan Yusuf termasuk orang-orang yang bersifat shidiq.” Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia, “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu. Sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (Yusuf: 26-28)

Hidup dalam penjara

Ketika akhirnya Nabi Yusuf dijebloskan dalam penjara pun, sifat shidiq masih juga terpancar hingga ke luar penjara, bahkan ke istana kerajaan. Saat Raja Mesir melihat mimpi yang aneh dalam tidurnya, dan tidak seorang pun pembesar istana yang mampu menjelaskan tafsirnya, salah seorang pelayan istana yang dahulu pernah satu ruang tahanan bersama Nabi Yusuf pun memberikan usul untuk menanyakan tafsir mimpi tersebut kepada beliau. Lalu datanglah utusan raja untuk menanyakannya kepada Nabi Yusuf yang masih berada dalam penjara. Ternyata, kata-kata yang pertama muncul dari orang itu adalah pengakuan akan sifat shidiq Nabi Yusuf ‘alaihis salam.

يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ، لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ.

Yusuf, wahai shiddîq (orang yang sangat dipercaya)! Terangkanlah kepada kami (takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi yang gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus, tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai lainnya yang kering. Agar aku kembali kepada orang-orang itu. Agar mereka mengetahui. (Yusuf: 46)

Demikianlah teladan yang telah diberikan para nabi dalam sifat shidiq. Demikian melekatnya sifat shidiq itu dengan diri mereka, sehingga Allah pun memuji-muji mereka dengan sifat shidiq tersebut. Tentu saja ini disebut-sebut secara khusus oleh Allah Swt. sebagai panutan bagi orang-orang yang beriman, di mana pun dan kapan pun mereka berada. Mereka bersifat shidiq bukan karena tujuan-tujuan materi atau duniawi. Mereka bersifat shidiq karena sifat shidiq merupakan sifat yang mulia. Dan mereka tetap bersifat shidiq, meskipun harus menebus sifat shidiq dengan mengorbankan kesenangan materi dan duniawi.

3. Tuduhan Tanpa Dasar

Dalam al-Qur’an dikisahkan beberapa orang nabi yang dituduh oleh kaumnya sebagai seorang pendusta, termasuk Nabi Muhammad Saw.. Sudah jelas tuduhan mereka merupakan tuduhan yang ngawur dan tanpa dasar.

Nabi Musa ‘alaihis salam diberikan perintah untuk menyampaikan dakwah kepada tiga gembong orang kafir, yaitu: Fir’aun, Haman dan Qarun. Pada mulanya mereka merasa cukup mematahkan argumen Nabi Musa dengan melemparkan tuduhan, bahwa Nabi Musa hanyalah seorang ahli sihir yang pandai berdusta. Namun ketika Nabi Musa mampu mematahkan tuduhan tersebut, mereka pun menggunakan logika kekerasan (anarkisme). Marilah kita simak firman Allah berikut ini:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآَيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ. إِلَى فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَقَارُونَ فَقَالُوا سَاحِرٌ كَذَّابٌ. فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْحَقِّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا اقْتُلُوا أَبْنَاءَ الَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ وَاسْتَحْيُوا نِسَاءَهُمْ وَمَا كَيْدُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ.

Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata kepada Fir’aun, Haman dan Qarun. Lalu mereka berkata, “(Dia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.” Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami, mereka pun berkata, “Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersama dengan dia, dan biarkanlah wanita-wanita mereka hidup.” Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). (al-Mu’min: 23-25)

Demikian pula halnya dengan Nabi Muhammad Saw.. Karena panik, dan tidak mengerti apa yang harus mereka katakan untuk menghadang dakwah beliau, orang-orang kafir pun menuduh beliau sebagai seorang pendusta. Jelas tuduhan mereka merupakan tuduhan yang ngawur, karena sebelumnya beliau secara pribadi dikenal luas sebagai seorang yang benar-benar shidiq. Marilah kita perhatikan kembali firman Allah berikut ini:

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ، وَقَالَ الْكَافِرُونَ: هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ.

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (nabi) dari kalangan mereka, dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. (Shad: 4)

4. Nabi Ibrahim Pernah Berdusta?

Terdapat sebuah dialog antara Raja Namruz dengan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Dialog ini terjadi setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menghancurkan patung-patung Raja Namruz, ketika Raja Namruz sedang bepergian bersama punggawa istananya. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menghancurkan patung-patung itu tanpa seorang pun saksi melihatnya. Meskipun demikian, semua orang sudah memiliki dugaan yang kuat, bahwa pasti Nabi Ibrahimlah pelakunya. Dan hal ini sudah diperkirakan oleh Nabi Ibrahim. Karena itulah Nabi Ibrahim menyisakan sebuah patung yang paling besar untuk suatu tujuan yang sudah direncanakan. Lalu terjadilah dialog yang kemudian diabadikan dalam al-Qur’an. Allah Swt. berfirman:

قَالُوا: أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآَلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ؟ قَالَ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا، فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ.

Mereka bertanya, “Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami?” Ibrahim menjawab, “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.” (al-Anbiya’: 62-63)

Secara lahir, jawaban Nabi Ibrahim itu sebuah dusta. Tapi apabila ditinjau lebih dalam, jawaban Nabi Ibrahim itu berupa celaan terhadap perbuatan orang-orang kafir yang menyembah berhala.[1] Jangankan memberikan manfaat atau mendatangkan madharat, berbicara pun berhala itu tidak mampu.

Hal ini terbukti ketika mereka tidak bisa menjawab sama-sekali perkataan Nabi Ibrahim tersebut. Mereka mengakui kebenaran argumen Ibrahim yang tidak terbantahkan sedikit pun. Sehingga mereka hanya mampu menundukkan kepala karena saking bingungnya, karena tidak tahu apa yang harus dikatakan, selain mengakui kehebatan logika Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Bahkan mereka menjadi sadar akan kesalahan berpikir yang selama ini mereka lakukan.

فَرَجَعُوا إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ.

Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka, dan mereka pun berkata, “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri (zalim).” (al-Anbiya’: 64)

5. Kadzib Itu Paling Dibenci Nabi Muhammad Saw.

Sebagaimana Nabi Muhammad Saw. mencintai sifat shidiq, beliau pun amat membenci sifat kadzib. Tidak ada sifat yang lebih dibenci oleh Nabi Muhammad Saw. daripada sifat kadzib. Marilah kita simak hadits di bawah ini:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: مَا كَانَ خُلُقٌ أَبْغَضَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْكَذِبِ، وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُحَدِّثُ عِنْدَ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْكِذْبَةِ، فَمَا يَزَالُ فِى نَفْسِهِ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّهُ قَدْ أَحْدَثَ مِنْهَا تَوْبَةً.

Dari ‘Aisyah, ia berkata: “Tidak ada sifat yang lebih dibenci Rasulullah Saw. daripada sifat kadzib. Apabila ada seseorang berdusta di hadapan Nabi Saw., maka kejadian itu akan selalu beliau ingat, sampai orang itu bertaubat.”  (HR. Tirmidzi)

Hal ini menunjukkan betapa buruknya sifat kadzib. Sampai-sampai Nabi Muhammad Saw. yang dikenal sebagai seorang yang amat pemaaf tidak bisa melupakan perbuatan kadzib yang dilakukan oleh seseorang di hadapan beliau. Semoga Allah Swt. memberikan kemudahan kepada kita untuk selalu bersifat shidiq, dan menjauhi sifat kadzib…

6. Ada Kadzib Yang Bukan Kadzib

Demikian banyak ayat dan hadits yang secara tegas memberikan perintah kepada umat Islam untuk selalu bersifat dan bersikap shidiq. Namun demikian, ada beberapa keadaan tertentu yang memperbolehkan seorang muslim untuk berdusta.

a. Mendamaikan Dua Pihak

Salah satu keadaan tertentu tersebut adalah ketika seorang muslim hendak mendamaikan dua pihak yang sedang berselisih. Dalam usaha mendamaikan tersebut, boleh jadi dia harus berbohong kepada salah satu pihak, bahwa pihak yang lain sebenarnya memiliki etikad yang baik, meskipun sebenarnya tidak. Kemudian pada pihak yang lain itu, dia juga berbohong bahwa pihak pertama tidak pernah menuduhnya bersifat buruk, padahal sebenarnya adalah kebalikannya. Semua itu dia lakukan semata-mata untuk mendinginkan suasana, sehingga semua pihak bisa berpikir secara jernih.

Nabi Muhammad Saw. bersabda:

لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِى يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ، فَيَنْمِى خَيْرًا، أَوْ يَقُولُ خَيْرًا.

Tidak termasuk kadzib orang yang sedang berusaha melakukan perdamaian orang-orang yang sedang berselisih. Dia berusaha memunculkan kebaikan, ataupun mengatakan kebaikan. (HR. Bukhari dan Muslim)

b. Darurat Perang

Nabi Muhammad Saw. menyebut perang sebagai tipu-daya. Artinya, dalam perang itu masing-masing pihak sedang berusaha melakukan tipu-daya kepada musuhnya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ: سَمَّى النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَرْبَ خُدْعَةً.

Dari Abu Hurairah t ia berkata, bahwa Nabi Muhammad Saw. menyebut perang sebagai tipu-daya. (HR. Bukhari)

Dalam keadaan perang yang merupakan tipu-daya ini, kita diperbolehkan untuk melakukan berbagai perbuatan yang sebenarnya haram, seperti melukai dan membunuh musuh. Termasuk yang diperbolehkan di dalam perang ini adalah membuat tipuan kepada musuh.

c. Pujian kepada Pasangan

Selain usaha untuk mendamaikan dua pihak yang sedang bersengketa dan dalam usaha memenangkan peperangan, Nabi Muhammad Saw. memperbolehkan kadzib untuk satu hal lagi, yaitu: berbohongnya seorang suami kepada isterinya, serta sebaliknya. Nabi Muhammad Saw. bersabda:

لاَ أَعُدُّهُ كَاذِبًا: الرَّجُلُ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ يَقُولُ الْقَوْلَ وَلاَ يُرِيدُ بِهِ إِلاَّ الإِصْلاَحَ، وَالرَّجُلُ يَقُولُ فِى الْحَرْبِ، وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا.

Tidak aku anggap sebagai perbuatan kadzib: Seseorang yang sedang berusaha mendamaikan orang-orang yang sedang berselisih, dimana dia berkata-kata dengan tujuan mendamaikan. Orang yang berkata-kata dalam perang. Dan seorang suami yang berkata-kata kepada isterinya, demikian pula seorang isteri yang berkata-kata kepada suaminya. (HR. Abu Dawud)

Yang dimaksud dengan perbuatan kadzib seorang suami kepada isteri di sini adalah untuk memuji-muji isterinya, seperti masakan yang sebenarnya terlalu asin dikatakan lezat, atau warna kulit yang sebenarnya gelap dikatakan terang. Dengan sikap demikian, diharapkan keharmonisan rumah tangga tetap terjaga.

Apabila seorang suami berbohong kepada isterinya tentang jumlah gaji, atau ke mana saja dia telah pergi selama berhari-hari, bukan termasuk dalam kategori kadzib yang diperbolehkan di sini. Perbuatan kadzib seperti itu justru akan membuat rumah tangga jauh dari keadaan harmonis.

7. Antara Bercanda dan Berdusta

Adalah Nabi Muhammad Saw. seorang yang kadang-kadang suka bercanda. Namun bercandanya Nabi Muhammad tetap dengan cara yang santun dan tidak melanggar rambu-rambu ajaran agama.

Dua telinga

Suatu saat beliau memanggil Anas dengan sebutan, “Wahai anak yang memiliki dua telinga.”

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ: يَا ذَا الأُذُنَيْنِ. قَالَ أَبُو أُسَامَةَ: يَعْنِى مَازَحَهُ.

Dari Anas bin Malik, bahwa suatu saat Nabi Muhammad Saw. memanggilnya, “Wahai orang yang memiliki dua telinga.” Abu Usamah memberikan penjelasan, bahwa maksud beliau memanggil dengan sebutan itu adalah sebagai guraun.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Panggilan ini sederhana dan sesuai kenyataan, tapi apabila dirasakan memang cukup menggelikan. Pada kesempatan yang lain, ada seorang shahabat yang menemui Nabi Muhammad Saw. untuk suatu keperluan.

Lalu terjadilah dialog singkat berikut ini:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَحْمَلَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّا حَامِلُوكَ عَلَى وَلَدِ نَاقَةٍ. قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَصْنَعُ بِوَلَدِ نَاقَةٍ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَهَلْ تَلِدُ الإِبِلَ إِلاَّ النُّوقُ؟

Dari Anas bin Malik, bahwa ada seseorang menemui Nabi Muhammad Saw. untuk meminta bantuan kendaraan. Beliau menjawab, “Kami akan memberimu bantuan berupa anak unta.” Orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang bisa aku lakukan dengan seekor anak unta?” Beliau bersabda, “Bukankah semua unta itu merupakan anak unta?” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Bercanda namun jujur

Sekali lagi, beliau bercanda dengan cara yang benar-benar jitu, tapi tidak sampai berbohong. Karena beberapa kali mengetahui Nabi Muhammad Saw. suka bercanda seperti itu, seorang shahabat mempertanyakan sikap beliau tersebut.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تُدَاعِبُنَا. قَالَ: إِنِّى لاَ أَقُولُ إِلاَّ حَقًّا.

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Suatu saat para shahabat berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, engkau biasa bergurau dengan kami.” Beliau bersabda, “Aku tidak berkata-kata melainkan kebenaran.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Jadi beliau bergurau, tetapi tidak sampai melakukan sesuatu yang melanggar rambu-rambu ajaran agama. Berdasarkan keterangan ini, hendaknya para dai atau mubaligh tidak berlaku kaku dalam berinteraksi dengan orang lain, termasuk dengan para obyek dakwah. Namun juga karena asyik bergurau, kemudian melanggar aturan agama, seperti membuat-buat cerita bohong demi membuat jamaah tertawa terpingkal-pingkal.

[1] Ishaq bin ‘Uqail bin Muhammad Hasyim ‘Azuz al-Husni al-Makki (1415 H), I’lamul-Muslimin bi ‘Ishmatin-Nabiyyin. Beirut: Dar Ibn Hazm, 1995. Hal. 39.

_____________

Sumber dan Bacaan: 

– Buku Dahsyatnya 4 Sifat NabiAhda Bina A. Lc. 

– Buku ar-Rusul war-Risalat‘, Syeikh Umar Sulaiman al-Asyqat.

– Artikel Shifat al-Anbiya’ war RusulSyeikh Batul ad-Daghim. mawdoo3.com

Tags:

One thought on “Teladan Sifat Shidiq dalam Perilaku Para Nabi

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.