SHOPPING CART

close
Merawat Cinta

Tidak Percaya pada Pasangan, Salahkah?

1. Sebagai orang yang beriman, kita hanya percaya seratus persen kepada rukun iman. Yang lain boleh kita percaya, boleh tidak.

2. Percaya kepada orang lain seratus persen itu adalah salah. Sebagaimana terlalu curiga sehingga seratus persen tidak percaya itu juga tidak benar. Termasuk kepada pasangan. Baik sebagai istri maupun suami.

3. Lalu harus bagaimana? Yah, biasa-biasa saja. Termasuk kepada pasangan hidup kita? Ya. Karena pasangan kita juga merupakan manusia biasa. Bukan malaikat, bukan nabi dan rasul. Tapi juga bukan setan.

4. Menjadi seorang manusia artinya bisa salah bisa benar. Sekarang bisa benar dan saleh/salehah, tapi nanti sebentar lagi bisa saja menjadi jahat atau bahkan super jahat. Demikian pula sebaliknya.

5. Bukankah kita sendiri juga manusia biasa, yang bisa salah dan benar dalam waktu yang sangat berdekatan. Maka hendaknya kita pun memperlakukan orang lain, termasuk pasangan kita, sebagai manusia biasa pula. Tidak lebih dan tidak kurang.

6. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa tersenyum dengan sempurna di hadapan orang yang sangat kita benci. Kita bisa dan biasa berpura-pura. Bukan karena kita ingin jadi orang munafik. Namun demikianlah tuntutan sosial. Bahkan juga tuntutan agama dalam konteks akhlak yang mulia. Itu pulalah yang dilakukan orang lain kepada kita. Jadi semua itu wajar dan normal. Tidak salah.

7. Dalam hidup ini lebih banyak yang tidak ketahui dan tidak kita pahami, daripada yang kita ketahui dan pahami. Dalam keadaan demikian, kita memerlukan iman atau kepercayaan. Karena iman dan kepercayaan akan membuat hidup kita jadi tenang dan nyaman. Minimal mengurangi perasaan gelisah dan takut.

8. Kita punya Allah yang bersifat Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Perkasa, dan seterusnya. Kita juga percaya bahwa ada yang namanya hukum karma. Orang berbuat baik ada balasannya. Orang berbuat jahat juga ada balasannya. Hendaknya kita fokus ke sini saja. Siapa tahu pasangan berbuat jahat itu juga sebagai balasan atas kejahatan kita sendiri, cuma kita yang tidak merasa jahat. Bukankah tidak pandai bersyukur itu juga merupakan suatu kejahatan yang besar di hadapan Allah Swt.?

9. Perasaan takut, sedih, bingung, marah, benci dan berbagai perasaan negatif yang lain merupakan bagian dari unsur-unsur kehidupan yang Allah ciptakan untuk kita. Dengan adanya perasaan-perasaan yang tidak kita inginkan itu, kita pun bisa semakin bersyukur. Karena ternyata kita jauh lebih sering merasa aman, senang, damai, ridha dan cinta. Termasuk kepada pasangan kita sendiri. Dan itu semua atas kemurahan dari Allah Swt.

10. Allah sudah berjanji. Bahwa laki-laki yang baik akan diberikan kepada perempuan yang baik. Ditegaskan-Nya, bahwa perempuan yang baik akan diberikan kepada laki-laki yang baik. Itu juga masih ditegaskan lagi, bahwa laki-laki yang jahat akan diberikan kepada perempuan yang jahat. Dan penegasan terakhir, bahwa perempuan yang jahat akan diberikan kepada laki-laki yang jahat. Demikian sempurna hukum, ketetapan dan kehendak Allah Swt.

11. Cara yang paling mudah dan dekat untuk mengubah pasangan menjadi lebih baik adalah mengubah diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik. Bukan dengan memata-matainya sepanjang waktu, menasihatinya siang dan malam, ataupun menyuruhnya rajin mendengarkan ceramah para ustadz dan pemuka agama.

12. Bila kita menjadi semakin buruk dan jahat, maka sama dengan kita membuat pasangan menjadi lebih buruk dan jahat. Tanpa kita sadari. Oleh karena itu, hendaknya kita lebih berhati-hati dalam bertingkah laku, terutama saat sendirian. Karena itu pula tingkah laku pasangan kita waktu dia sendirian atau tidak bersama kita.

13. Mengapa bisa demikian? Karena pasangan hidup adalah orang yang paling dekat dengan kita. Sangat mudah untuk saling mempengaruhi. Baik bersifat positif maupun negatif. Baik disadari maupun tidak.

14. Agama kita mengajarkan sebuah doa khusus untuk pasangan dan anak keturunan: Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun. Waj ‘alna lil muttaqina imama.

15. Artinya: Ya Allah Tuhan kami, berikanlah kepada kami: istri dan anak keturunan yang bisa menjadi penyejuk hati. Dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

16. Doa yang pendek dan singkat. Namun dahsyat, luar biasa. Dan Allah pasti mengabulkan setiap permohonan hamba-Nya.

17. Orang yang kafir saja Allah bersedia kabulkan doanya. Maka bagi orang yang beriman pasti lebih cepat Allah kabulkan. Yakin, percaya, pasti dikabulkan-Nya. Amin…

18. Lho masak sih Pak orang kafir kalau berdoa Allah kabulkan? Lho, kalau bukan Allah yang mengabulkan, siapa lagi? Tapi kan dia berdoa kepada selain Allah? Sebaiknya masalah ini kita serahkan saja kepada Allah. Biarlah Dia sendiri yang berurusan dengan para hamba-Nya. Baik hamba yang kafir maupun beriman. Memang kita sendiri sudah yakin 100% sebagai orang yang sah imannya?

19. Marilah kita perbanyak doa untuk diri kita sendiri, pasangan, dan anak-cucu kita. Bukankah anak-cucu kita adalah anak-cucu pasangan kita juga?

Allahu a’lam.

***

Tags:

0 thoughts on “Tidak Percaya pada Pasangan, Salahkah?

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.