SHOPPING CART

close

Tiga Macam Kebenaran: Pribadi, Musyawarah, Al-Haqq

Setiap hari kita berdoa, memohon kepada Allah:

“Ihdinas-shirathal-mustaqim.”

Tunjukkanlah kepada jalan yang mustaqim.

Secara umum doa itu kita maknai sebagai usaha menemukan jalan kebenaran. Jalan yang berbeda dari jalan orang yang dimurkai, dan jalan orang-orang yang tersesat.

Dengan demikian, kita hidup di dunia ini setiap hari, bahkan setiap saat selalu dalam proses pencarian dan penemuan yang tiada henti akan jalan kebenaran itu.

Dari sinilah kita perlu memahami dan memilah tiga macam kebenaran. Bila kita gagal dalam memahami dan memilah masalah ini, boleh jadi kita akan terjebak dalam pertengkaran tiada ujung dan pangkal. Yaitu perdebatan yang tidak bisa ditemukan sebab dan akibatnya. Alias debat kusir.

1. Kebenaran Pribadi

Maksudnya, adalah kebenaran yang kita usahakan secara sendiri-sendiri. Kita mencurahkan segala kemampuan untuk memecahkan masalah yang sedang kita hadapi dengan sungguh-sungguh. Tanpa meminta pendapat kepada orang lain.

Boleh jadi dalam usaha mencapai kebenaran itu kita telah melakukan rembug secara imaginer dengan para pakar dan ahli. Kita melakukan kajian perbandingan berdasarkan pendapat para pakar melalui buku-buku yang mereka tulis. Namun selama kebenaran itu kita simpulkan secara sendirian, maka tetap merupakan kebenaran yang bersifat pribadi atau individual.

Contoh:

Misalnya usaha kita untuk mencapai kebenaran, apakah shalat Shubuh itu yang benar pakai qunut atau tidak?

Lalu kita menelaah hadits-hadits yang berkaitan dengan qunut Shubuh dan membaca berbagai kitab yang menerangkan masalah ini. Setelah mempelajari masalah ini dengan serius, akhirnya kita memilih salah satu pendapat yang ada.

Pilihan ini merupakan kebenaran yang bersifat pribadi atau individual. Meskipun dalam proses pencarian itu kita telah melakukan kajian perbandingan berbagai pendapat yang ada.

Inilah kebenaran yang paling rendah. Kita tidak boleh memaksakan kebenaran itu kepada orang lain. Kebenaran ini hanya bisa mengikat diri kita sendiri.

Baca pula:

Memahami Makna: Syariat, Thariqat, Hakekat, Makrifat

***

2. Kebenaran Bersama (Musyawarah atau Rembug)

Yaitu kebenaran yang kita peroleh melalui proses musyawarah dengan orang lain.

Orang lain ini boleh jadi hanya satu orang. Jadi misalnya, saya bersama sahabat saya. Ini merupakan kebenaran bersama antara saya dan dia. Apa yang kami sepakati hanya mengikat kami berdua. Tidak lebih.

Ada musyawarah dalam sebuah organisasi. Maka hasilnya adalah kebenaran bersama dalam organisasi tersebut. Tidak mengikat organisasi lain.

Bila musyawarah itu dilakukan oleh sebuah lembaga negara, misalnya DPR, maka itu merupakan kebenaran bersama dalam sebuah negara. Yang belum tentu diakui kebenarannya oleh negara lain.

Jadi kebenaran ini hanya bisa mengikat orang-orang yang terhimpun dalam lingkup musyawarah itu. Baik secara langsung maupun tidak langsung.  Tidak mengikat mereka-mereka yang tidak terlibat dalam musyawarah.

***

3. Kebenaran Sejati (Al-Haqq)

Inilah kebenaran yang sesungguhnya. Yang diidamkan oleh setiap orang yang beragama dan mendambakan kebenaran hakiki.

Namun sayangnya, kita semua tidak mampu mencapainya, apalagi mengusai dan memonopolinya. Karena hanya Dia Yang Maha Mengetahui yang mengetahuinya. Adapun kita hanya mampu untuk berusaha dan mengusahakannya dengan segala keterbasan yang ada.

Inilah makna dari doa yang wajib kita baca sebagai orang Islam, dalam shalat lima waktu. Bahkan Nabi Muhammad Saw. pun membacanya dalam shalat. Yaitu doa dalam surat al-Fatihah:

Ihdinash-shirathal-mustaqim.

Tunjukkanlah kepada kami shirathal mustaqim.

Ini pula yang dimaksud dalam ayat:

Al-haqqu mir-rabbika.

Al-haqq itu dari Tuhan-mu.

***

Kesalahan dalam Memposisikan Kebenaran

Banyak di antara kita yang mengklaim kebenaran pribadi sebagai kebenaran sejati. Ataupun kebenaran bersama diklaim sebagai kebenaran sejati. Ini kesalahan yang sangat fatal.

Sehingga yang terjadi kemudian adalah saling klaim kebenaran dan menyalahkan pendapat orang ataupun organisasi lain.

Tags:

0 thoughts on “Tiga Macam Kebenaran: Pribadi, Musyawarah, Al-Haqq

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa PPUT (Bebas SPP & DPP)
Penerimaan Mahasiswa Baru

PENERIMAAN MAHASISWA BARU

Program Studi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyyah) FAI-UMM
(Diperpanjang Hingga 12 September 2022).

Tidak harus datang ke kampus. Daftar dan lengkapi persyaratan secara online saja.

Yuk buruan daftar: online.umm.ac.id

Info lengkapnya: pmb.umm.ac.id

Info lebih lanjut:
WA center PMB: 085215219000
IG: pmb_umm, hkiumm
Tiktok: pmb_umm, hkiumm

https://linkfly.to/pmbumm1964