SHOPPING CART

close

Ustadzna Lolon Sumarlan, Aku Padamu Ustadz

Bagiku, Engkau adalah pintu gerbang dunia yang baru. Dunia ilmu.

Karena darimu aku belajar bahasa Arab. Langkahku yang pertama Engkau papah dengan kedua lenganmu yang kokoh. Sabar dan tulus. Dan selalu engkau berbaik sangka padaku.

Tentu saja aku tidak pernah lupa. Hari-hari itu begitu lekat dalam hati dan pikiranku. Begitu mudah aku temukan dan ulang dalam ingatanku. Seolah ia terjadi baru kemarin hari.

Subhanallah. Engkau begitu teliti membaca hasil kerjaku. Bukan baris demi baris. Bukan kata demi kata.

Namun huruf demi huruf. Harakat demi harakat.

Setiap ada kesalahan satu huruf saja. Setiap ada kesalahan satu harakat saja. Maka engkau lingkari yang salah itu dengan tinta merah. Lalu engkau suruh aku untuk menulis ulang satu kalimat secara lengkap. Dan kalau masih ada huruf yang salah. Masih ada harakat yang salah. Engkau pasti menemukannya. Lalu engkau pun menyuruhku untuk menulis ulang lagi. Dan itu bukan hanya engkau lakukan untukku. Namun untuk satu kelas…

Ya Allah. Engkau begitu sabar. Dan sungguh aku menikmati setiap detik bersamamu. Mungkin aku sedikit jengkel dengan kejelianmu. Namun sungguh aku sangat berterima kasih tiada hingga. Hingga sekarang.

Aku belajar bahasa Arab darimu. Bukan saja sejak merangkak. Bukan saja sejak merayap. Namun sejak aku belajar membalikkan tubuh.

***

Ustadz Lolon.

Nama itu begitu indah. Begitu lekat. Dalam hatiku. Dalam jiwaku. Menyatu.

Meskipun kebersamaan itu hanya berhitung bulan. Tidak sampai satu tahun penuh. Yaitu di Madrasah Takhashushiyah Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam, Punggawan, Surakarta.

Namun hari-hari itu. Adalah hari-hari yang paling menentukan arah dan perjalanan hidupku. Hingga puluhan tahun kemudian. Hingga hari ini.

Seingatku tiada pernah satu kata pun yang tidak sopan. Yang kasar. Yang menyakitkan. Tercela. Keluar dari lisanmu. Tidak pernah.

Tidak pernah pula engkau bersikap kasar. Kepadaku maupun semua temanku yang berjumlah ratusan.

Bila marah. Atau jengkel karena kesalahan kami. Maka engkau cukup meminta kami mengulurkan tangan. Lalu engkau memukul kami dengan pensil. Pukulan yang lembut.

Pernah sekali engkau pukul aku seperti itu. Yaitu ketika aku salah membaca harakat dalam setor hafalan qiraah.

Engkau berkata padaku:

“Mana tanganmu, Ahda.”

Aku ulurkan tanganku. Tak mengerti.

Lalu engkau sentuhkan pensil itu pada jari-jari tanganku. Aku masih tak mengerti. Aku masih mengulurkan kedua tanganku. Tak mengerti apa yang telah engkau lakukan. Aku menunggu engkau pukul tanganku dengan keras. Supaya aku jera dan mengingat kesalahanku.

Rupanya engkau mengerti akan kebingunganku. Maka engkau pun berkata:

“Sudah.”

Lho! Cuma segitu hukumannya. Hukuman macam apa ini? Namun dari situ. Aku merasa telah belajar ribuan hikmah.

Teguran sederhana. Pukulan tak terasa. Namun telah mengajariku ilmu ribuan halaman. Yang terpatri jauh dalam dasar jiwaku.

***

Ustadz Lolon.

Oh ya. Entah bagaimana. Dulu teman-teman pernah memanggilku dengan sebutan, “Ustadz Lolon.”

Lho, bagaimana bisa. Kata mereka. Entah bagaimana pula. Rupaku mirip denganmu.

Dan ya. Tentu saja aku senang sekali. Karena sebenarnya aku merasa engkau begitu tampan. Aku rasa tidak akan ada satu perempuan pun akan menolakmu. Setiap calon mertua pasti gembira dan bangga menerima lamaranmu. Karena akan melihatmu yang begitu ganteng dan gagah. Sebelum mereka tahu engkau begitu mulia, santun dan selalu penuh pengertian. Pemaaf dan pendidik sejati.

Dan satu saat. Waktu teman-teman mau bikin drama dalam lomba antar grup. Mereka memintaku untuk memerankan karaktermu. Tentu saja aku menolaknya. Sungguh aku tidak berani. Takut kuwalat. Selain aku memang tidak pandai bermain sandiwara.

***

Setahuku.

Puncak kehidupan adalah kematian. Dan puncak kematian adalah kehidupan yang sejati.

Sebagaimana puncak kesedihan adalah tawa. Dan puncak kebahagiaan adalah tangis.

Sebagaimana pula akhir dari hari yang cerah adalah kegelapan. Dan akhir dari malam yang pekat adalah fajar.

Demikian pulalah dirimu dan diriku.

Dulu pernah. Tiap hari kita berjumpa. Lalu sekian tahun tiada bersua.

Namun justru ketika tidak berjumpa itulah. Aku merasa aku lebih sering melihatmu. Aku merasa semakin dekat denganmu.

Kini ketika engkau telah “tiada” justru engkau abadi dalam diriku. Lebur dalam cinta.

Ustadzna Lolon Sumarlan

Sungguh, aku, padamu.

Tags:

2 thoughts on “Ustadzna Lolon Sumarlan, Aku Padamu Ustadz

  • Om Bram

    Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa’fuanhu……

    • Ahda Bina

      Amin amin amin ya Rabbal ‘alamin… Barakallah fikum, Om Bram…

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.