A. Pengertian Witir
- Secara Bahasa:
Kata “Witir” (وِتْر) berasal dari akar kata وَتَرَ (watara) yang berarti ganjil atau tidak genap. - Secara Istilah:
Shalat sunnah dengan jumlah rakaat ganjil yang dikerjakan setelah shalat Isya hingga sebelum subuh.
Dalil:
“Sesungguhnya Allah itu Witir (Ganjil) dan menyukai yang ganjil. Maka laksanakanlah shalat Witir!” (HR. Bukhari & Muslim).
Baca Juga: Shalat Tahajud dan Shalat Tarawih: Persamaan dan Perbedaan
***
B. Tata Cara Rasulullah SAW Melaksanakan Witir
- Jumlah Rakaat:
- 3 rakaat: Dilaksanakan dengan 2 rakaat + 1 rakaat (dipisah salam) atau 3 rakaat sekaligus dengan 1 salam.
“Rasulullah SAW biasanya shalat Witir dengan 3 rakaat: 2 rakaat lalu salam, kemudian 1 rakaat.” (HR. Nasa’i). - 1 rakaat: Jika waktu sempit.
- 3 rakaat: Dilaksanakan dengan 2 rakaat + 1 rakaat (dipisah salam) atau 3 rakaat sekaligus dengan 1 salam.
- Bacaan Surat:
- Rakaat 1: Surah Al-A’la (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى).
- Rakaat 2: Surah Al-Kafirun (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ).
- Rakaat 3: Surah Al-Ikhlas (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ).
- Qunut:
- Rasulullah SAW membaca doa qunut pada rakaat terakhir sebelum rukuk (HR. Abu Dawud).
- Contoh Doa Qunut:
اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ…
“Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang Engkau beri petunjuk…”
Baca Juga: Shalat Tahajud: Pengertian, Waktu, Tata Cara, Keutamaan
***
C. Perbedaan Pendapat tentang Witir
1. Witir 2-1 Rakaat
| Mazhab | Pendapat | Dalil |
|---|---|---|
| Syafi’i, Hanbali | Lebih utama dipisah salam (2+1 rakaat). | “Rasulullah SAW shalat Witir dengan 2 rakaat lalu salam, kemudian 1 rakaat.” (HR. Nasa’i). |
| Hanafi | Boleh 3 rakaat sekaligus dengan 1 salam. | “Nabi SAW pernah shalat Witir 3 rakaat tanpa duduk (tasyahud) kecuali di akhir.” (HR. Muslim). |
2. Qunut dalam Witir
| Mazhab | Pendapat | Dalil |
|---|---|---|
| Syafi’i | Qunut disunnahkan setiap Witir. | “Rasulullah SAW membaca qunut pada rakaat terakhir Witir.” (HR. Abu Dawud). |
| Hanafi | Qunut hanya pada separuh akhir Ramadhan. | Berdasarkan tradisi Umar bin Khattab RA. |
| Maliki | Tidak disyariatkan qunut Witir. | Tidak ada riwayat qunut Witir dari Nabi SAW di Madinah. |
Baca Juga: Shalat Tarawih: Pengertian, Dalil, 8 Rakaat atau 20 Rakaat
***
D. Lain-Lain
- Waktu Terbaik:
- Sepertiga malam terakhir (HR. Muslim).
- Jika khawatir tidak bangun, boleh sebelum tidur (HR. Bukhari).
- Kesalahan Umum:
- Menganggap Witir wajib (hukumnya sunnah mu’akkadah).
- Menggenapkan rakaat (misal: 2 rakaat tanpa 1 rakaat tambahan).
- Witir dan Tahajjud:
- Witir adalah penutup shalat malam. Jika ingin shalat Tahajjud setelah Witir, batalkan Witir dengan shalat 2 rakaat ringan (HR. Abu Dawud).
Tabel Ringkasan Hukum Witir
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Hukum | Sunnah mu’akkadah (sangat dianjurkan). |
| Jumlah Minimal | 1 rakaat. |
| Jumlah Maksimal | 11 rakaat (sesuai kebiasaan Nabi SAW). |
| Qunut | Disunnahkan (Syafi’i), atau hanya di Ramadhan (Hanafi), atau tidak (Maliki). |
Baca Juga: Hukum Satu Amalan Diniatkan Dua Ibadah Sekaligus Apakah Sah?
***
Kesimpulan
Witir adalah ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar. Perbedaan pendapat tentang tata cara dan qunut mencerminkan khilafiyah furu’iyyah yang perlu dihormati. Utamakan mengikuti sunnah Nabi SAW sesuai kemampuan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
_________________
Bacaan:
- Hadis:
- HR. Bukhari (No. 998), HR. Muslim (No. 1747).
- HR. Abu Dawud (No. 1425) tentang qunut.
- Kitab Fiqih:
- Al-Umm (Imam Syafi’i).
- Al-Mughni (Ibnu Qudamah).
Perhatian:
“Artikel ini disusun dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) berdasarkan referensi yang telah disebutkan sebagai Bacaan.”

Tinggalkan Balasan