perpustakaan pribadi lambang kemandirian dan niat yang penuh

Apakah Ada Hadits Dha’if dalam Kitab Shahih Bukhari?

Mayoritas hadis dalam Shahih al-Bukhari bersifat sahih tanpa keraguan. Sebagian kecil hadis (kurang dari 1%) dikritik oleh ulama tertentu, tetapi kritik ini tidak disepakati secara luas. Perbedaan pendapat ini adalah khilafiyah minor yang tidak mengurangi otoritas kitab Shahih al-Bukhari.

Nah pada kesempatan ini kita akan membahas masalah ini, apakah dalam Kitab Shahih Bukhari terdapat hadits yang dha’if?

Baca Juga:   Kitab Hadits: Shahih, Sunan, Musnad, Muwattha’, Mustadrak

***

 

1. Status Kitab Shahih al-Bukhari

Kitab Shahih al-Bukhari diakui sebagai kitab hadis paling otentik (setelah Al-Qur’an) oleh mayoritas ulama Ahlus Sunnah. Imam Bukhari (w. 256 H) menerapkan kriteria ketat (syarth al-Bukhari) untuk memastikan kesahihan hadis yang ia riwayatkan.

Namun, beberapa ulama muta’akhkhirin (belakangan) seperti Ibnu Hajar al-AsqalaniAl-Daraqutni, dan Ibnu al-Jauzi mengkritik sejumlah kecil hadis dalam Shahih al-Bukhari yang dianggap memiliki kelemahan (‘illah), meski tidak sampai derajat dha’if.

Baca Juga:   HADITS AHAD: Pengertian, Contoh, Macam dan Kedudukannya

***

2. Contoh Hadis yang Diperdebatkan

a. Hadis Lalat (No. 3320)

Matan:
“Jika lalat jatuh ke minuman kalian, celupkan seluruhnya, lalu buang lalat itu, karena salah satu sayapnya membawa penyakit dan sayap lainnya membawa penawar.”
Kritik:

  • Ibnu al-Jauzi dalam Al-‘Ilal al-Mutanahiyah menyatakan hadis ini memiliki syadz (keganjilan) karena kontradiksi dengan prinsip medis modern.
  • Al-Daraqutni mengkritik periwayat bernama Khalid bin al-Mihbar yang dianggap lemah.

b. Hadis Serigala Berbicara (No. 3326)

Matan:
“Seekor serigala menculik anak domba, lalu seorang penggembala mengejarnya. Serigala itu berkata: ‘Siapa yang akan menjaganya di hari binatang buas dibiarkan tanpa penjaga?’”
Kritik:

  • Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menyebut sanadnya bersambung, tetapi konteksnya dianggap tidak rasional oleh sebagian ulama modern.

c. Hadis Tinggi Adam (No. 6227)

Matan:
“Allah menciptakan Adam dengan tinggi 60 hasta.”
Kritik:

  • Al-Dzahabi dalam Mizan al-I’tidal menilai hadis ini memiliki periwayat bernama Abu az-Zinad yang kontroversial.

Baca Juga:   HADITS MUTAWATIR: Pengertian, Contoh dan Macam-macamnya

***

3. Tanggapan Ulama terhadap Kritik

  1. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani:
    Dalam Hady as-Sari, beliau menjelaskan bahwa kelemahan yang disebutkan para kritikus tidak merusak kesahihan hadis, karena Imam Bukhari telah memverifikasi kualitas periwayat.
  2. Imam an-Nawawi:
    Dalam Syarh Shahih Muslim, beliau menegaskan bahwa hadis-hadis dalam Shahih al-Bukhari telah disepakati kesahihannya oleh umat Islam.
  3. Ibnu Taimiyyah:
    Dalam Majmu’ al-Fatawa, beliau menyatakan bahwa kritik terhadap beberapa hadis Shahih al-Bukhari bersifat minor dan tidak mengubah status kitab ini sebagai rujukan utama.

Baca Juga:   HADITS GHARIB: Pengertian, Contoh dan Macam-macamnya

***

4. Tabel Ringkasan Kritik

No. Hadis Topik Kritikus Alasan Kritik Status Akhir
3320 Lalat dan penawarnya Al-Daraqutni Periwayat lemah (Khalid bin Mihbar) Sahih dengan syarat Bukhari
3326 Serigala berbicara Ibnu al-Jauzi Syadz (konten tidak rasional) Sahih
6227 Tinggi Adam 60 hasta Al-Dzahabi Periwayat kontroversial Hasan li ghairihi

Baca Juga:   HADITS AZIZ: Pengertian, Contoh dan Penjelasannya

***

Penutup

Demikian sedikit penjelasan atas pertanyaan, apakah dalam Kitab Shahih Bukhari terdapat hadits yang dha’if. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Bila ada tambahan keterangan ataupun koreksi, mohon disampaikan pada kolom komentar.

Wallahu a’lam bish-shawab.

________________

Bacaan: 

  • Hady as-Sari (Ibnu Hajar al-Asqalani).
  • Al-‘Ilal al-Mutanahiyah (Ibnu al-Jauzi).
  • Tahdzib at-Tahdzib (Ibnu Hajar).
  • Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin: “Tidak ada hadis dha’if dalam Shahih al-Bukhari.”

Perhatian:

“Artikel ini disusun dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) berdasarkan referensi yang telah disebutkan sebagai Bacaan.”

2 responses to “Apakah Ada Hadits Dha’if dalam Kitab Shahih Bukhari?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *