SHOPPING CART

close
Born To Be A Blogger

Ustadz Djalal dan Tazkiyatuna.Com

Sebelum mereview website beliau yang sangat bagus, saya akan memperkenalkan sosok beliau yang sangat inspiratif dan mencerahkan.

Secara pribadi saya mengenal Ustadz Ahmad Djalaluddin sudah cukup lama, yaitu ketika saya baru tiba di Kairo tahun 1996. Saya datang baru akan mulai kuliah s1, sedangkan beliau baru saja menyelesaikan s1 dan mulai kuliah s2. Di fakultas yang sama, yaitu Syari’ah wal Qanun, jurusan Syari’ah Islamiyah.

Kesan pertama bertemu beliau itu biasa-biasa saja. Karena orangnya tidak terlalu tinggi, juga tidak terlalu berotot. Cenderung pendiam, dan tidak suka bicara panjang lebar.

Beberapa Kenangan Baik bersama Ustadz Djalal

#1. Tinggal satu kontrakan

Dengan izin Allah, saya pernah tinggal satu kontrakan dengan beliau, yaitu di kawasan Masakin ‘Utsman, Nasr City, Kairo. Saya masih ingat betul, kamar beliau ada di bagian depan, dekat dengan pintu masuk rumah dan bersebelahan dengan ruang tamu.

Meskipun tinggal dalam satu kontrakan, namun saya jarang ketemu beliau. Karena ternyata beliau termasuk seorang aktivis yang super sibuk. Beliau lebih sering keluar rumah, daripada tinggal di rumah. Bahkan sampai berhari-hari.

#2. Pulang hanya untuk masak

Sebagaimana umumnya para mahasiswa yang sedang merantau jauh di negeri orang, kami memilih masak sendiri daripada beli. Pertimbangannya selain lebih murah, juga lebih mengenyangkan. Karena perut kita sudah sangat terbiasa diisi nasi. Kalau cuma roti meskipun banyak tetap cepat lapar.

Untuk keperluan tersebut, kami membuat jadual memasak. Alhamdulillah, di sana kami bisa belajar memasak dari kakak tingkat. Memasak alakadarnya, yang penting asin dan matang, hehe…

Hal yang menarik dari Ustadz Djalal berkaitan dengan jadual masak ini, beliau selalu pulang sesuai jadual tersebut. Habis itu pergi lagi sampai sekian hari. Pulang lagi ya pas ketika jadual memasak tersebut. Membuat saya selalu merenung. Hebat, senior saya ini. Padahal beliau juga iuran penuh sama dengan yang lain.

Kalau saya jadi beliau, pasti tidak akan pulang hanya karena jadual masak. Yah, mungkin itulah bedanya saya dengan beliau. Lebih banyak memikirkan orang lain daripada diri sendiri.

#3. Pakai sepatu tanpa izin pemiliknya tepat di depan yang punya

Di rumah kontrakan itu kami biasa pergi bersama untuk main bola di salah satu sudut daerah perumahan. Selain berolahraga, kami bisa berkenalan dengan lebih banyak teman dari berbagai pelosok nusantara.

Nah, waktu itu saya belum punya sepatu olahraga. Waktu berangkat dari rumah, saya perhatikan di rak sepatu ada beberapa sepatu olahraga yang nganggur. Maka saya ambil sepatu yang paling bagus, hampir bersamaan dengan Ustadz Djalal yang keluar dari kamarnya. Beliau hanya tersenyum, melihat saya mengenakan sepatu itu. Lantas beliau mengambil sepasang sepatu agak kusam yang ada di dekat saya dan langsung memakainya. Lalu kami turun bersama dengan lift. Oya, waktu itu kami tinggal di lantai delapan.

Tiba di lokasi main bola, ternyata saya baru tahu, bahwa ternyata sepatu yang saya ghashab itu adalah milik Ustadz Djalal. Salah seorang teman berkata:

“Lho, Kang Djalal pakai sepatu yang lama. Nostalgia ya, Kang? Ke mana sepatu yang baru? O, dipakai Ahda ya?”

Subhanallah, ternyata sepatu yang saya pakai itu milik beliau. Yang saya pakai begitu saja di depan yang punya. Sementara beliau pakai sepatu yang sudah jelek, bahkan sudah bertisik pada beberapa bagiannya. Ampun, Ustadz…

#4. Mengajari hidup berjamaah ketika bayar karcis bis

Waktu itu saya pulang dari kampus, kebetulan bersamaan dengan Ustadz Djalal dan beberapa orang teman yang lain. Sekian menit menjelang turun, Ustadz Djalal mendahului kami membayar karcis. Beliau mengeluarkan uang satu pound Mesir, dan berkata pada kami semua, para yunior beliau:

“Ini saya ada uang satu pound. Silakan ditambahi untuk kita semua.”

Saya sempat bengong memikirkan maksud kata-kata itu. Oh, rupanya beliau hendak mentraktir kita semua, tapi uang tidak mencukupi. Jadi beliau hanya bayar separuhnya. Beliau mengajak siapa yang punya uang lebih, silakan bayar satu pound lagi, supaya cukup untuk delapan orang.

Luar biasa, padahal kami sekitar delapan orang itu tidak begitu saling mengenal. Hanya tahu kita sesama orang Indonesia, dan sedang pulang kuliah dari kampus.

Mohon maklum jumlah mahasiswa Indonesia di Kairo memang sangat banyak. Ke mana bepergian di kota Kairo, hampir selalu kita bertemu dengan sesama mahasiswa Indonesia.

***

Sebenarnya masih cukup banyak yang ingin saya ceritakan. Namun baiknya saya akhiri sampai di sini. Khawatir nanti dikira minta hadiah sepeda, hehe…

Website Ustadz Ahmad Djalalaluddin

Berikut ini website beliau:

https://www.tazkiyatuna.com/

Ini website sangat bagus, dengan motto: Konsultasi Agama dan Kehidupan.

Berikut ini tampilan halaman utamanya:

Ustadz Djalal ini lulusan s1 Universitas al-Azhar, Kairo. S2 dari Sudan. S3 di UIN Malang, namun saya pernah baca disertasi beliau ditulis dengan bahasa Arab, diterbitkan oleh UIN Malang. Pendidikan beliau termasuk linear, syariah semua. Spesialis di bidang Ekonomi Syariah.

Oleh karena itu, warna yang paling kuat dalam website ini adalah ekonomi syariah.

Sebenarnya tema kajian yang beliau angkat sangat beragam. Mulai tafsir, hadits, fiqih, sirah nabawiyah, hingga sejarah. Namun sepertinya latar belakang pendidikan beliau tetap berpengaruh terhadap corak website yang beliau kelola.

Kontennya selalu berbobot. Sama berkualitasnya dengan materi yang biasa beliau bawakan dalam pengajian ataupun kajian ilmiah. Sistematis, lugas dan lengkap.

Tampilan website juga oke banget, tidak kalah dengan website profesional pada umumnya. Karena memang website ini termasuk website yang dihandle oleh admin yang handal dan terpercaya, yaitu Bapak Wahyu Tri Sasongko.

Website juga dilengkapi dengan konten video, meskipun baru ada beberapa. Sebenarnya sayang sekali, karena ceramah beliau juga sangat bagus. Enak diikuti dan berkualitas.

Ada juga menu audio, namun sepertinya masih kosong. Padahal kalau ada, saya yakin akan banyak yang download, termasuk saya sendiri.

***

Demikian. Semoga kita yang sudah punya website bisa bangkit, mengikuti langkah beliau ini, dan makin rajin bikin konten yang bermanfaat dan berbobot. Adapun yang belum punya, bisa kita mulai sekarang juga.

Tags:

0 thoughts on “Ustadz Djalal dan Tazkiyatuna.Com

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.