SHOPPING CART

close
Mendidik Anak

Apa Yang Harus Dilakukan Bila Anak Malas Menghafal Al-Quran

Ada kalanya seorang anak nampak demikian malas melakukan kegiatan menghafal. Boleh jadi dia sedang kurang sehat, atau amat lelah. Dalam keadaan demikian, hendaknya kita tidak terlalu memaksakan target hafalan. Dalam hal ini mereka adalah sama dengan kita, perlu perlakuan khusus untuk keadaan tertentu.

1. Tegas Tapi Sayang

Ada orang tua yang amat memanjakan anak-anaknya. Dalam jangka pendek, sikap memanjakan itu akan membuat anak semakin kekanak-kanakan. Dia pun akan suka memaksanakan kehendaknya, baik kepada orang tua maupun kepada teman-temannya. Dalam jangka panjang,  demi mendapatkan keinginannya, boleh jadi dia akan menghalalkan segala cara. Na’ûdzu billâh min dzâlik

Sebaliknya, ada orang tua yang amat keras kepada anak-anaknya. Dalam jangka pendek, sikap yang terlalu keras itu akan membuat jiwa anak selalu tertekan. Dia menjadi rendah diri, pemurung, dan merasa tidak berharga di depan teman-temannya. Dalam jangka panjang, karena keadaan sehari-hari tersebut, dia pun susah menjadi orang yang berpikiran maju dan berani.

Islam selalu mengajarkan keseimbangan, baik dalam bersikap maupun bertindak. Islam melarang semua yang berlebihan, termasuk dalam hal kasih sayang kepada anak.

2. Jangan Marah

Karena sudah merasa mengajari dengan benar, sementara anak tidak kunjung bisa menyelesaikan hafalan, malah nampak ogah-ogahan, boleh jadi hal itu membuat orang tua naik darah. Hal ini wajar saja dan manusiawi, tapi tetap tidak baik dan tidak benar.

Tidak terpuji

Mudah marah merupakan sifat yang tidak terpuji. Seorang hakim yang sedang marah pun dilarang memutuskan perkara, karena pada waktu marah itu pikirannya dipastikan sedang tidak stabil. Demikian pula halnya apabila kita sedang mengajari anak, apalagi mengajari menghafal, lebih-lebih menghafal al-Qur’an hendaknya sifat pemarah ini kita hindari sejauh-jauhnya.

Makin tertekan

Anak yang sedang dimarahi orang tuanya, jiwanya akan tertekan. Padahal dia sedang mengerjakan tugas yang cukup berat. Dia harus tetap berkonsentrasi penuh supaya bisa menghafalkan ayat-ayat yang ditargetkan.

Kesalahan fatal

Memarahi anak ketika sedang mengajarinya menghafal al-Qur’an, berarti kita telah melakukan beberapa kesalahan sekaligus.

Pertama, kita telah melanggar akhlak yang mulia, yaitu berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikan amarah.

Kedua, kita telah gagal memberikan teladan yang baik kepada anak, bahkan kita telah memberikan contoh yang kurang terpuji.

Ketiga, anak menjadi ketakutan, sehingga konsentrasinya berantakan. Bila demikian halnya, maka kegiatan menghafal telah kehilangan arah.

Bila amarah sudah tidak bisa ditahan, hendaknya kegiatan menghafal segera dihentikan. Hal ini lebih baik, sehingga tidak meninggalkan trauma bagi anak-anak.

Kita suruh saja anak-anak untuk menyelesaikan tugas yang lain, atau biarkan dia bermain sebentar, sehingga pikirannya kembali segar. Sementara itu kita pun bisa menyelesaikan pekerjaan yang lain, atau membaca kembali teknik mengajari anak menghafal. Jangan-jangan anak malas menghafal bukan karena kesalahan dia, tapi karena teknik menghafal yang kita terapkan tidak benar.

Jangan marah

Demikian pentingnya pesan untuk tidak mengumbar amarah ini, sampai-sampai Rasulullah Saw. pun pernah memberikan pesan tunggal untuk beberapa permintaan yang diajukan secara beruntun. Dari Abu Hurairah RA:

أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم: أَوْصِنِى. قَالَ: لاَ تَغْضَبْ. فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ.

“Ada seseorang berkata kepada Nabi Muhammad Saw., “Berilah aku pesan.” Beliau bersabda, “Janganlah engkau marah.” Orang itu mengulang-ulang permintaannya. Beliau selalu menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari)

3. Tetap Berpikir Positif

Setiap menemui persoalan dalam melaksanakan segala sesuatu, termasuk kegiatan menghafal al-Qur’an, hendaknya kita kembalikan kepada Allah I. Artinya, jangan sampai kita berburuk sangka kepada siapa pun, termasuk kepada anak.

Memang proses menghafal memerlukan teknik tertentu dan kesabaran yang prima. Kalau mengikuti hawa nafsu, setiap melihat anak keliru menghafal, apalagi bermalas-malasan, kita pun selalu ingin marah. Orang yang marah akan berpikir negatif. Semua yang baik akan nampak buruk, apalagi yang memang buruk. Sebaliknya, selama kita masih bisa berpikir jernih, jangankan yang baik, yang buruk pun bisa kita lihat sisi baiknya. Inilah pentingnya berpikir positif.

Mungkin saja Allah sedang menguji kesabaran kita. Boleh jadi inilah ujian praktis bagi ilmu yang telah kita miliki. Mampu atau tidak kita menemukan solusinya.

4. Cari Solusi

Setiap masalah pasti ada solusinya. Inilah semboyan yang tidak boleh lepas dari keyakinan kita. Sejenak marilah kita perhatikan hadits berikut ini:

عَنْ جَابِرٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

“Dari Jâbir, dari Rasulullah r, bahwa beliau bersabda, “Setiap penyakit ada obatnya. Bila obat telah sesuai dengan penyakit, maka penyakit akan hilang dengan izin Allah U.” (HR. Muslim)

Penyakit di sini tentu bukan hanya bersifat fisik, tapi juga bersifat non-fisik. Semua permasalahan pada dasarnya adalah penyakit, dan obatnya adalah solusi. Bila solusi yang ditawarkan tepat, maka semua permasalahan akan selesai.

Kita belajar tiada mengenal usia maupun tingkat pendidikan. Ilmu dan pengetahuan tidak pernah habis untuk dipelajari dan diteliti. Untuk itu, setiap permasalahan hendaknya kita jadikan sebagai kesempatan dan motivasi bagi kita untuk selalu menambah ilmu dan pengetahuan.

___________

Sumber:

Buku Jurus Jitu Agar Anak Rajin Shalat, Cepat Hafal al-Qur’an dan Berbakti kepada OrangtuaAhda Bina, Lc.

Tags:

0 thoughts on “Apa Yang Harus Dilakukan Bila Anak Malas Menghafal Al-Quran

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.