SHOPPING CART

close
Musthalah Hadits

Hadits Mudallas

Pendahuluan

Salah satu penyebab hadits menjadi dha’if adalah terputusnya sanad.

Terputusnya sanad itu ada yang sengaja dilakukan oleh seorang perawi secara terang-terangan, dan ada yang dilakukan secara tersembunyi.

Nah, perbuatan melakukan pemutusan sanad secara sembunyi-sembunyi inilah yang disebut sebagai tadlis.

Haditsnya disebut Mudallas.

Pelakunya disebut Mudallis.

Tadlis hadits kadang juga dilakukan dengan cara yang lain, yaitu dengan menyamarkan nama seorang perawi hadits. Supaya orang tidak mengenal nama perawi itu dengan mudah, salah sangka kepada nama perawi yang lain, atau bahkan memang supaya tidak dikenali sama sekali. Dengan berbagai macam motivasi.

Pengertian

Mudallas artinya sesuatu yang disembunyikan aibnya. Biasanya dilakukan oleh seorang penjual yang memiliki barang dagangan yang cacat. Lalu dia menyembunyikan cacat itu dari pembeli, supaya dikira sebagai barang yang sempurna. Istilahnya: mengelabui pembeli.

Hadits Mudallas artinya hadits yang disembunyikan aibnya. Untuk ditampakkan sebagai hadits shahih. Padahal itu hadits dha’if.

Jadi seorang mudallis merupakan seorang perawi hadits. Dia meriwayatkan suatu hadits yang sebenarnya punya cacat dalam masalah sanad. Lalu cacat itu dia sembunyikan dengan sedemikian rupa, supaya orang lain mengira hadits yang dia riwayatkan itu sebagai hadits shahih. Padahal dha’if.

Macam-macam Hadits Mudallas

Ada dua macam hadits Mudallas, yaitu hadits mudallas dengan tadlis sanad dan hadits mudallas dengan tadlis syuyukh.

A. Tadlis Isnad

Tadlis Isnad artinya menyembunyikan aib pada Sanad.

Tadlis Isnad ini ada beberapa macam, yaitu:

1. Seolah-olah mendengar suatu hadits secara langsung

Jenis tadlis hadits yang pertama, seorang perawi menyampaikan suatu hadits dari seorang perawi tsiqah yang pernah ditemuinya, padahal dia tidak pernah mendengar hadits itu darinya. Namun dia memperoleh hadits itu dari seorang perawi lain yang dha’if. Lalu dia menyampaikan dengan cara yang seolah-olah dia telah mendengarnya secara langsung dari perawi yang tsiqah itu.

Jadi memang perawi itu pernah bertemu dengan perawi tsiqah sebuah hadits yang dia sampaikan, namun sebenarnya tidak mendengar hadits itu darinya secara langsung. Tapi dari perawi lain yang dha’if. Lalu dia sampaikan hadits itu kepada orang lain dengan cara yang seolah-olah dia telah meneriman secara langsung dari perawi yang tsiqah itu.

Contoh:

Ada seorang perawi namanya Ibnu Uyainah, bahwa dia telah memperoleh hadits dari Zuhri. Zuhri ini merupakan seorang perawi yang tsiqah, alias terpercaya. Ibnu Uyainah hidup satu zaman dengan Zuhri dan pernah bertemu.

Lalu ada seseorang bertanya pada Ibnu Uyainah: “Apakah engkau mendengar sendiri¬† hadits itu dari Zuhri?”

Ibnu Uyainah menjawab: “Tidak. Bahkan aku tidak mendengarnya dari orang yang mendengarnya dari Zuhri. Namun aku mendengar dari Abdur Razzaq, dari Muammar, dari Zuhri.”

Abdur Razzaq dan Muammar merupakan perawi yang dha’if.

Perbuatan Ibnu Uyainah sebelum mengaku itu namanya tadlis isnad. Dia mengatakan bahwa seolah-olah dia telah mendengar langsung dari Zuhri. Padahal dia mendengar dari Abdur Razzaq. Abdur Razzaq dari Muammar. Muammar dari Zuhri.

Barulah setelah ada orang yang bertanya, Ibnu Uyainah mengaku telah melakukan tadlis isnad.

2. Seolah-olah pernah bertemu

Jenis tadlis hadits yang kedua, seorang perawi menyampaikan hadits dari seseorang yang sezaman dengannya, padahal dia tidak pernah bertemu dengannya. Dengan cara seolah-olah dia mendengarnya secara langsung, padahal tidak.

Misalnya dengan menyebutkan, si Fulan berkata. Atau dari Fulan. Tanpa menyebutkan, saya mendengar dari Fulan.

Bila dia menyatakan, saya mendengar dari Fulan. Maka hal ini berarti dia telah berdusta atau berbohong. Bukan lagi tadlis.

Sehingga pelakunya bukan lagi mudallis. Namun seorang kadzib atau fasiq.

Jadi tadlis ini sifatnya mengelabui. Dibilang berbohong tidak bisa. Tapi dibilang jujur juga tidak. Di sinilah kejelian seorang ahli hadits diperlukan untuk membongkar akal bulus seorang perawi yang nakal.

3. Tadlis Taswiyah

Ketiga, seorang perawi menyampaikan suatu hadits yang dia terima dari gurunya, namun kemudian dia menghapus seorang perawi yang berada di antara dua perawi tsiqah yang pernah bertemu.

Jadi misalnya begini:

Perawi A memperoleh hadits dari Perawi B yang tsiqah.
Perawi B memperoleh hadits itu dari Perawi C yang dha’if.
Perawi C memperoleh hadits itu dari Perawi D yang tsiqah.
Perawi B dan D pernah bertemu.
Lalu Perawi A ini menyebutkan, bahwa hadits itu dia peroleh dari Perawi B, dari Perawi D. Dengan lafaz yang seolah-olah Perawi B memperoleh hadits itu dari D secara langsung.

Jenis tadlis ini disebut dengan Tadlis Taswiyah. Karena dia berusaha menyamakan kedudukan semua perawi supaya kelihatan tsiqah semua, dengan cara menyembunyikan perawi yang dha’if.

Contoh:

Seorang perawi namanya Baqiyyah menyampaikan sebuah hadits dengan sanad sebagai berikut:

Dari Abu Wahab al-Asadi, dari Nafi’, dari Ibnu Umar.

Padahal sanad yang asli adalah:

Dari Ubaidillah bin Amr, dari Ishaq bin Abi Farwah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar.

Tadlisnya:

Ubadillah bin Amr nama panggilannya adalah Abu Wahab, dan memang seorang dari Suku Asad (al-Asadi). Di sanad ini disebut sebagai Abu Wahab dan disebutkan al-Asadi, supaya orang tidak memahami hal yang sebenarnya. Lalu tidak memperhatikan Ishaq bin Abi Farwah yang sebenarnya adalah dha’if.

Perbedaan Tadlis Isnad dengan Hadits Mursal

Dalam hadits mursal, perawi meriwayatkan sebuah hadits dari orang yang memang tidak pernah ditemuinya.

Adapun dalam hadits mudallas, perawi melakukan pengelabuan secara sengaja kepada orang lain dengan menyebutkan sanad yang membuat orang salah sangka.

Hukum Tadlis Isnad

Hadits Mudallas termasuk hadits dha’if, bahkan hadits dha’if yang paling buruk.

Orang yang melakukan tadlis isnad telah berbuat dosa. Karena telah menyembunyikan kebenaran.

Sampai-sampai al-‘Iraqi berkata, “Orang yang secara sengaja melakukan tadlis adalah orang yang dha’if (qadih).”

Orang yang paling terkenal melakukan tadlis isnad adalah seorang perawi yang bernama Baqiyyah. Sehingga ada ulama berpesan:

“Hadits yang diriwayatkan oleh Baqiyyah itu bukan hadits yang naqiyyah (shahih), maka hendaklah engkau melakukan taqiyyah (bersikap super hati-hati).”

B. Tadlis Syuyukh

Yaitu seorang perawi menyampaikan sebuah hadits yang dia terima dari seorang perawi, namun dia menyebutkan nama perawi itu dengan nama lain yang tidak masyhur sebagai perawi tersebut.

Dengan menyebutkan nama asli, nama panggilan, kabilah, daerah, keahlian, atau yang lainnya.

Dengan maksud menyembunyikan jati diri perawi tersebut, sehingga susah untuk dikenali.

Contoh:

Seorang perawi berkata: Dari Abdullah bin Abi Abdullah.

Padahal yang benar adalah: Abu Baka bin Abu Dawud as-Sijistani.

Hukum Tadlis Syuyukh

Tadlis Syuyukh ini lebih ringan daripada tadlis isnad. Karena seorang mudallis pada tadlis syuyukh ini tidak menghilangkan nama perawi. Meskipun juga menyusahkan orang lain untuk mengetahui nama perawi yang sebenarnya.

Orang yang melakukan tadlis syuyukh ini dihukumi sesuai niatnya.

Ada kalanya makruh, karena perawi meriwayatkan sebuah hadits dari perawi lain yang lebih muda darinya.

Namun juga bisa menjadi haram, apabila dilakukan untuk mengecoh orang. Sehingga salah sangka. Seorang perawi yang dha’if supaya dikira tsiqah.

Bagaimana Cara Mengetahui Sebuah Hadits Mudallas?

Ini masalah jam terbang. Hanya bisa diketahui oleh para ulama hadits yang jempolan. Bukan orang yang baru belajar hadits.

Maka orang seperti kita hanya bisa belajar teori hadits Mudallas. Namun secara praktis tentu masih jauh. Karena kita harus menghafal dan memahami biografi para perawi hadits dengan baik.

Penutup

Dengan mengenal Hadits Mudallas ini, kita paham:

– Bahwa tidak mudah menentukan status hadits. Karena ada hadits yang dha’if dengan sebab yang zhahir, ada sebab yang batin. Sama halnya dengan penyakit. Ada yang sederhana, ada yang kompleks.

– Perawi hadits itu memiliki karakter yang bermacam-macam. Ada yang tsiqah, ada yang dha’if. Namun kadang malah ada pula perawi yang culas dan licik. Oleh karena itu, seorang ahli hadits tidak boleh bersikap polos dan lugu. Inilah pentingnya seorang ahli hadits yang cerdas, pintar dan luas wawasan.

– Ternyata menjadi perawi yang tsiqah itu banyak tantangannya. Selain terpercaya akan keselamatan aqidah dan perilakunya, dia juga harus mampu mengalahkan berbagai interest pribadinya. Kalau tidak, maka dia sangat mudah terjerumus pada tindakan tadlis hadits yang sangat tercela ini.

Demikian sedikit penjelasan tentang hadits Mudallas. Semoga ada manfaatnya bagi kita bersama.

Allahu a’lam.

Sumber bacaan utama:

Mabahits fi Ulumil Hadits, Syeikh Manna’ al-Qatthan, rahimatullah.

***

Tags:

0 thoughts on “Hadits Mudallas

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.