SHOPPING CART

close
Mendidik Anak

Tips Jitu Agar Anak Mau Menghafal al-Qur’an

Kegiatan menghafal merupakan tugas yang relatif berat dibandingkan dengan tugas-tugas yang lain. Untuk itu kita perlu membantu anak melaksanakan tugas yang tidak ringan itu dengan menciptakan suasana yang mendukung. Sebaliknya, kita berusaha menghindarkan segala suasana yang kemungkinan akan mengganggu anak dalam melaksanakan tugasnya.

1. Orang Tua Sudah Hafal Dahulu

Sebelum menuntun anak menghafal, hendaknya kita telah menghafal surat yang hendak kita tuntunkan kepada anak.

Kemudahan

Dengan menghafal terlebih dahulu ini, maka:

  • Anak percaya, bahwa surat itu benar-benar bisa dihafal.
  • Anak yang memang suka meniru, akan berusaha meniru orang tuanya untuk menghafalkan surat tersebut.
  • Kita memiliki pengalaman dalam menghafalkan surat tersebut. Sehingga kita pun mengetahui bagaimana anak juga bisa hafal dengan berkaca pada pengalaman kita sendiri.
  • Kita bisa mengetahui tingkat kesulitan menghafal surat tersebut. Dengan mengetahui tingkat kesulitan ini, kita pun bisa memperhitungkan seberapa cepat anak bisa menghafalkannya.
  • Kita bisa mengetahui ayat-ayat yang mudah untuk dihafal. Dan mengetahui pula ayat-ayat yang memerlukan perhatian ekstra.

Kesulitan

Sebaliknya, apabila kita sendiri belum hafal surat tertentu, tetapi menyuruh anak menghafalkan surat tersebut, maka:

  • Anak merasa tertekan. Karena orang tua menyuruhnya menghafal surat tertentu. Padahal orang tuanya sendiri belum juga hafal.
  • Karena tidak merasakan susahnya menghafal surat tersebut, Kita pun semakin ringan melakukan pemaksaan yang memberatkan bagi anak.
  • Karena belum ada pengalaman dalam menghafalkan surat tersebut. Kita juga tidak bisa mendeteksi mana saja ayat yang mudah dihafal, dan mana ayat yang memerlukan perhatian ekstra.

2. Memilih Ruangan Yang Tepat

Ruangan merupakan salah satu sarana yang turut membantu keberhasilan dalam menghafal. Ruangan yang kondusif akan mempermudah anak menghafal. Sebaliknya, ruangan yang tidak nyaman akan mempersulit proses menghafal.

Oleh karena itu, sebisa mungkin kita berusaha memilih tempat yang sesuai dengan kegiatan menghafal ini. Di antara kriteria ruangan itu adalah sebagai berikut:

Tidak panas dan tidak pengap

Ruangan tidak terlalu panas atau pengap. Ruangan yang terlalu panas atau pengap membuat anak tidak betah berlama-lama tinggal di sana. Dia selalu berharap sesegera mungkin meninggalkan ruangan tersebut.

Tidak ada orang lain

Di ruangan itu tidak ada orang lain, selain anak atau orang yang sedang menghafal surat dimaksud. Keberadaan orang lain yang sedang melakukan kegiatan lain di ruangan yang sama akan memecah perhatian anak.

Suasana tenang

Suasana ruangan diusahakan setenang mungkin, alias tidak berisik. Apabila suara televisi di ruangan sebelah terdengar terlalu keras, hendaknya volume bisa dipelankan. Adapun televisi yang ada dalam ruangan menghafal, sebaiknya dimatikan.

Namun demikian, ruangan yang tepat tidak menjadi jaminan bahwa proses menghafal pasti berjalan dengan baik. Ruangan hanya salah satu faktor saja. Apabila telah memenuhi faktor ini, berarti kita telah menambah peluang keberhasilan kegiatan ini. Selanjutnya, hendaknya kita juga memperhatikan faktor-faktor yang lain, baik yang telah maupun akan kami sebutkan.

3. Memilih Waktu Yang Tepat

Selain ruangan, kita pun sebisa mungkin memilih waktu yang tepat untuk melatih anak menghafalkan surat yang telah ditentukan.

Waktu yang terbaik untuk menghafalkan ayat-ayat al-Qur’an itu di antaranya adalah sebagai berikut:

Badan segar

Ketika anak dalam keadaan fresh atau segar. Keadaan ini akan membantu anak berkonsentrasi dengan baik, sehingga kegiatan menghafal bisa dilaksanakan dengan baik pula.

Setelah shalat

Tepat setelah anak melaksanakan shalat. Shalat merupakan salah satu sarana mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus membersihkan diri dari semua dosa yang telah kita lakukan. Secara umum, saat ini merupakan waktu yang baik untuk melanjutkan aktivitas yang bersifat ibadah, termasuk menghafal al-Qur’an dan melatih hafalan anak.

Bikin kesepakatan

Waktu yang telah disepakati bersama anak. Sebagai misal, kita telah bersepakat dengan anak, bahwa setiap habis shalat Maghrib anak akan melanjutkan hafalan. Dengan kesepakatan ini, anak akan memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan tugas secara lebih baik. Selain itu, hal ini juga akan melatih anak meluangkan waktu tertentu untuk menghafal al-Qur’an secara tertib.

4. Menghafal dengan Gembira

Kondisi jiwa yang gembira akan banyak membantu diri kita melaksanakan berbagai macam aktivitas, sebagaimana kondisi jiwa yang sedih membuat kita amat malas melakukan apapun. Oleh karena itu, selama anak menghafal, hendaknya kita selalu menjaga suasana yang menggembirakan hati anak. Sebaliknya, hendaknya kita menjauhkan diri dari semua kata-kata yang kasar, apalagi hukuman yang menakutkan atau menyakitkan, sehingga anak pun kehilangan keceriaannya.

Penulis memahami adanya anak-anak yang berhati keras. Mereka baru mau membaca setelah ditakut-takuti, atau baru mau menghafal setelah diberikan hukuman. Namun ancaman dan hukuman ini hendaknya diberikan pada kondisi tertentu saja, dan tidak menjadi kebiasaan. Untuk selanjutnya kita perlu memperhatikan alasan anak, mengapa dia malas membaca dan menghafal al-Qur’an. Boleh jadi kesalahan ada pada kita. Mungkin ruangan atau waktu yang tidak tepat, ataupun sebab yang lain. Kemudian kita segera mempersiapkan solusi yang memadai.

5. Menghafal Sedikit Demi Sedikit

Setiap surat dalam al-Qur’an selalu terdiri dari beberapa ayat. Surat-surat yang paling pendek sekalipun terdiri dari tiga ayat, yaitu: Surat al-‘Ashr dan Surat al-Kautsar. Oleh karenanya, kita yang memiliki kecerdasan rata-rata akan sangat kesulitan untuk menghafal sebuah surat dengan sekali baca atau sekali dengar. Kita memerlukan waktu dan perhatian yang baik untuk menghafalnya dengan sempurna. Demikian pula halnya untuk anak-anak.

Hendaknya kita tidak bersikap terburu-buru, baik menghafal maupun melatih anak menghafalkan setiap ayat. Hendaknya kita lakukan kegiatan menghafal dengan sedikit demi sedikit. Biarkan anak menghafal satu ayat dengan baik, sebelum dia menghafal ayat berikutnya. Bahkan kita harus melarang anak menghafal ayat yang baru, apabila dia belum menghafal ayat sebelumnya secara sempurna.

Biar lambat asal selamat. Demikian semboyan orang yang selalu bersikap hati-hati. Memang kalau bisa: ya cepat ya selamat. Semua orang pasti menginginkan itu. Namun apabila berjalan cepat kemudian celaka atau tersesat, tentu kita memilih yang selamat, biar pun lambat.

Kadang-kadang kita juga mendapatkan peringatan yang tertulis pada bak truk yang berjalan di depan kendaraan kita, “Awas gandengan, Mas.” Maksudnya, bila hendak menyalib truk gandeng tersebut, kita harus lebih berhati-hati dibandingkan bila kita hendak menyalib truk tanpa gandengan. Demikian pula bila kita hendak menghafal sebuah surat yang lebih banyak ayatnya daripada Surat al-‘Ashr dan Surat al-Kautsar, kita pun harus lebih berhati-hati.

Semakin panjang ayatnya, maka harus lebih hati-hati. Demikian pula apabila semakin banyak ayatnya.

6. Mesti Telaten

Sebagaimana kita maklumi, al-Qur’an diturunkan oleh Allah dengan bahasa Arab. Jangankan anak-anak, kebanyakan dari kita yang sudah dewasa pun tidak memahami makna ayat-ayat yang telah kita hafal dengan baik. Setiap hendak melatih anak untuk menghafalkan ayat-ayat al-Qur’an, hendaknya hal ini kita sadari baik-baik.

Selain itu, hendaknya kita mengingat, bahwa proses untuk menghafal setiap ayat memerlukan waktu. Untuk ayat yang terdiri dari satu atau dua kata, secara cepat kita bisa menghafalnya dengan baik. Namun untuk ayat yang terdiri dari lima ayat ke atas, tentu dibutuhkan waktu yang lebih lama.

Secara umum, menghafal ayat-ayat al-Qur’an itu jauh lebih mudah daripada menghafal hadits, apalagi bait-bait syair berbahasa Arab. Namun bukan berarti menghafal ayat-ayat al-Qur’an bisa dilakukan dengan sambil lalu dan asal-asalan.

Ada surat-surat tertentu yang memiliki redaksi ayat yang sama dengan ayat yang lain. Baik dalam satu surat ataupun surat yang lain. Sebagai contoh adanya redaksi ayat yang sama dengan ayat yang lain dalam satu surat yaitu ayat ke-3 dan ke-5 dalam surat al-Kâfirûn.

Marilah kita perhatikan bagaimana persisnya kedua ayat itu dalam surat yang sama berikut ini:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2)

وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4)

وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

Secara logika, adanya dua ayat yang sama persis dalam satu surat akan membantu kita bisa menghafal surat tersebut dengan lebih cepat.

Namun kenyataannya, keadaan ini membuat kita jadi bingung sendiri, apalagi anak-anak.

Oleh karena itu, diperlukan ketelatenan dalam menghafalkan maupun melatih anak-anak menghafalkannya.

7. Mereka Tetap Anak-anak

Kita tidak boleh lupa, bahwa anak-anak tetaplah anak-anak, meskipun mereka telah memiliki kemampuan dan keterampilan layaknya orang dewasa, seperti pandai membaca dan menulis. Ada kesalahan-kesalahan yang menurut mereka sepele, sehingga mereka menganggapnya bukan sebagai masalah sama sekali, padahal sebenarnya merupakan kesalahan yang fatal.

Kita juga tidak boleh lupa, bahwa mereka anak-anak yang belum baligh. Sekalipun berbuat salah, perbuatan mereka belum dihitung sebagai dosa yang harus mereka pertanggungjawabkan. Justru kita sebagai orang tualah yang memiliki tanggung jawab untuk mengarahkannya dengan bijak.

Sebagai orang tua kita memang harus berusaha sekuat tenaga melaksanakan usaha yang terbaik. Adapun hasilnya bukan merupakan tanggung jawab kita. Allah tidak pernah menentukan hasil sebagai beban. Dalam hal ini, Allah Swt. berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (al-Baqarah: 286)

Jangankan kepada anak-anak, kepada seorang hamba sahaya yang tugas utamanya adalah melaksanakan perintah majikannya, Rasulullah Saw. memberikan pesan untuk tidak memberikan beban yang di luar batas kemampuannya. Rasulullah Saw. bersabda:

وَلاَ تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ

“Janganlah engkau memberikan beban kepada hamba sahaya melebihi kemampuan mereka. Bila engkau memberikan beban kepada mereka, hendaknya engkau membantu mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak memberikan beban yang melebihi kemampuan anak-anak. Kita melatih hafalan anak-anak dengan suasana riang-gembira, waktu dan ruang yang kondusif, serta penuh kesabaran.

Semoga Allah Swt. memberikan kemudahan kepada kita semua…

Amîn ya Rabbal-‘âlamîn

___________

Sumber:

Buku Jurus Jitu Agar Anak Rajin Shalat, Cepat Hafal al-Qur’an dan Berbakti kepada OrangtuaAhda Bina, Lc.

Tags:

0 thoughts on “Tips Jitu Agar Anak Mau Menghafal al-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.