SHOPPING CART

close
Manajemen Harta

Bagaimana Rasanya Punya Rumah Sendiri?

Saya menikah pada tahun 2002 akhir. Bulan terakhir, di sepuluh hari terakhir. Dengan seorang gadis yang juga merupakan anak terakhir. Hehe…

Singkat cerita, kami hidup berumah-tangga di Malang, karena pekerjaan saya ada di sana. Kami ngontrak selama dua tahun di Kota Malang dan enam tahun di Kabupaten Malang. Selama itu pula siang-malam kami bermimpi punya rumah tinggal sendiri.

Mengapa kita semua ingin punya rumah sendiri?

Pertama dan yang paling utama, supaya tidak keluar uang setiap tahun untuk bayar sewa rumah. Untuk seorang pegawai swasta, uang dua juta rupiah di tahun 2002 bukanlah jumlah yang sedikit. Itulah jumlah yang kami bayarkan setiap tahunnya untuk memperoleh sewa rumah dengan dua ruang kamar tidur.

Kedua, punya rumah sendiri berarti naiknya status dan martabat sosial. Ketahuan masih ngontrak terasa sebagai aib besar yang sangat memalukan dan harus disembunyikan. Karena hal itu sama dengan ketidakmampuan kita dalam mengelola keuangan keluarga. Setidaknya itulah pendapat saya pribadi.

Ketiga, pindah kontrakan itu rumit dan melelahkan. Kelihatannya saja barang-barang rumah-tangga itu sedikit. Tapi ketika pindah rumah, barulah terbukti sangat banyak dan beraneka ragam. Besar kemungkinan benda-benda kesayangan jadi rusak atau bahkan hilang sama sekali. Demikian pula arsip-arsip penting dan surat berharga.

Dan masih ada sekian alasan lain, termasuk yang berkaitan dengan kejiwaan anak-anak. Tidak jarang anak menangis ingin pulang ke rumah kontrakan yang lama. Dia mengira rumah kontrakan itu adalah rumahnya sendiri. Dia sudah terbiasa dengan suasana rumah itu dan merasa asing dengan rumah kontrakan yang baru. Sehingga perlu waktu penyesuaian selama sekian hari.

Selama delapan tahun itu, tidak jarang saya memperoleh “teror” terselubung dari orang yang paling saya kasihi. Siapa lagi kalau bukan istri saya yang sangat cantik dan menawan itu? Padahal dia tidak pernah minta rumah yang besar, indah dan megah. Dia hanya pingin punya rumah sendiri. Biarpun kecil dan mungil, yang penting milik sendiri.

Dada saya selalu terasa sesak kalau istri sudah bicara tentang rumah tinggal. Kapan ya bisa punya rumah sendiri, adalah pertanyaan yang telah menjelma sebagai hantu yang tiap hari semakin besar dan menakutkan.

Adalah hobi saya pada waktu itu juga sampai sekarang berjalan-jalan naik sepeda motor keliling pinggiran kota untuk mencari informasi rumah yang murah dan terjangkau. Tiap ada kesempatan selalu saya gunakan untuk bertanya pada siapa saja tentang tema penting itu. Tiada henti berharap dapat durian runtuh. Rumah yang bagus dengan harga di bawah pasaran. Indah sekali saya bayangkan siang dan malam.

Dengan izin Allah pada tahun 2010 impian itu akhirnya menjadi nyata. Hanya dengan pertolongan dari-Nya, saya dipertemukan dengan orang-orang yang tepat, sehingga pada bulan Maret di tahun itu kami sudah bisa menempati rumah sendiri.

Bagaimana rasanya punya rumah sendiri?

Inilah saatnya saya menjawab pertanyaan besar dan penting itu. Ternyata punya rumah sendiri itu rasanya sama dengan punya pasangan hidup. Juga kurang-lebih sama rasanya dengan orang yang baru saja punya seorang momongan. Sama juga rasanya dengan mahasiswa yang baru saja lulus kuliah. Terasa plong gitu… Setelah sekian lama berpuasa.

Jadi belum punya rumah itu bisa saya ibaratkan sebagai orang yang sedang berpuasa. Demikian pula orang yang belum punya istri, belum punya anak, ataupun mahasiswa yang sedang kuliah. Semua itu adalah sama dengan puasa. Nah waktu memperoleh semua itu satu per satu bisa diibaratkan dengan waktu berbuka puasa.

Nah, bagaimana rasanya berbuka puasa?

Yah seperti yang sudah kita alami dan rasakan sendiri. Kita semua pasti bisa menjelaskan dengan baik. Karena penjelasan yang terbaik itu berasal dari orang yang pernah mengalaminya sendiri.

Ternyata, pada waktu berbuka itu kita selalu membuktikan, bahwa nikmatnya berbuka itu tidak seindah yang kita bayangkan sepanjang hari tadi. Tidak selezat yang kita bayangkan semenjak siang tadi. Bahwa berpuasa itu ternyata sesungguhnya lebih indah dan nikmat daripada berbukanya.

Namun tetap saja, ketika berpuasa itu kita selalu merasakan haus dan lapar. Dan berharap akan segera tiba waktunya berkumandang adzan Maghrib. Sehingga suara adzan Maghrib adalah musik terindah bagi orang yang sedang berpuasa, hehe…

Yah, inilah kehidupan dunia saudaraku… Jiwa kita yang lemah selalu terombang-ambing dalam pengejaran nikmatnya sesaat dan indahnya fatamorgana… Dan hanya kepada-Nya jua kita berharap untuk memperoleh kekuatan serta sikap istiqamah dalam kebaikan dan kebenaran… Semoga…

Tags:

0 thoughts on “Bagaimana Rasanya Punya Rumah Sendiri?

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...