SHOPPING CART

close
Keluarga Sederhana

Beragama Membuat Kita Selalu Tersenyum

Yah. Hari itu saya sedang dapat tugas menguras kolam ikan. Yang tepat berada di depan ruang tidur utama.

Sudah beberapa hari tugas itu saya semayani. Hari berganti hari bahkan minggu berganti minggu. Jadi sudah sekitar satu bulan barulah saya laksanakan tugas itu.

Bukan karena waktu saya longgar. Tapi karena ikan-ikan di kolam itu sudah sangat mengkhawatirkan. Airnya sudah keruh. Dua hari sebelumnya satu ikan yang besar mati entah karena apa. Mungkin karena airnya sudah tidak kondusif dan layak. Atau memang sudah ajalnya…

Jadilah pagi itu saya ambil dua ember besar untuk menampung ikan-ikan, kemudian kolam saya keringkan. Sambil mengeringkan kolam itu saya cuci mesin saring dan busa-busa, serta saluran saringan air.

Waktu saya membutuhkan air untuk mengosek lantai kolam, ternyata air mati. Rupanya Pak Tukang mematikan saluran air, karena sedang menggarap kamar mandi tamu. Kebetulan istri minta renovasi sedikit.

Saya naik sebentar buat minum air putih. Pas banget, karena saya sangat kehausan. Juga agak lapar. Jadi sekalian bisa sarapan.

Satu jam kemudian saya kembali ke kolam. Saya lihat ikan-ikan agak megap-megap, sudah terlalu lama menunggu. Bahaya, bisa kekurangan oksigen. Karena mereka berjubel dalam ember.

Saya langkahkan kaki kanan masuk lantai kolam. Ternyata cukup licin. Dan saya rasakan kaki kanan saya tidak bisa berpijak dengan benar. Tapi langsung terpeleset dengan cukup cepat. Tiba-tiba saya rasakan pandangan saya jadi ke atas, tidak bisa tidak. Jadi saya rasakan pasti akan segera jatuh, nggeblak

Ya Allah, rasanya seperti nonton film yang dilambatkan… Pak Kuli yang lihat langsung teriak. Saya sudah berusaha menghindari terjadinya kecelakaan. Reflek badan saya tekuk semaksimal mungkin ke depan. Namun tetap saja punggung saya membentur lingir kolam… Uaduh… Ya Allah…

Istri dan anak-anak segera berhamburan ke tepi kolam. Juga Pak Tukang dan Pak Kuli. Semuanya riuh memberikan kata sambutan, pengantar dan penjelasan.

“Ya Allah, Mas… Kok iso iku lho…,” itu suara istri saya.

“Itu tadi punggungnya kena lingir kolam,” itu penjelasan dari Pak Kuli dan Pak Tukang.

“Ada apa, Abi kenapa? Abi jatuh, tidak apa-apa?” itu anak saya yang kecil. Selalu ingin tahu lebih banyak daripada yang lain. Setelah itu dia akan memberikan analisa dan penjelasan, dan penutup berupa nasihat-nasihat yang bermanfaat.

“Sudah tidak apa-apa. Cuma jatuh sedikit.” Ucap saya sambil menahan perih di punggung, tangan dan kaki. Istri langsung mengambil minyak tawon. Semua yang perih kena oles dan gosok. Saya hanya meringis.

Setelah itu cepat-cepat kolam saya kosek dengan sikat kawat. Lantai kolam saya bilas dua kali. Saluran air saya tutup. Kolam saya isi. Terakhir ikan-ikan saya lepas kembali ke kolam dengan napas lega. Alhamdulillah…

Habis itu mandi dengan cepat. Gogok gigi. Pakaian rapi. Terus ambil sepeda motor dan pergi ke Pak Pangat. Minta pijat.

Sejauh ini Pak Pangat selalu menjadi tumpuan kalau saya habis jatuh, keseleo, atau semua hal yang berhubungan dengan tulang dan urat badan. Tapi beliau ini sering ke luar kota, menjenguk anak-cucunya. Namun saya sangat gembira, karena saya lihat mobilnya ada di rumah. Insya Allah orangnya ada di rumah.

Sampai di rumah lagi, saya rasakan punggung yang paling sakit. Rasanya akan perlu beberapa hari untuk kembali pulih. Padahal sore itu saya harus menepati janji ke istri. Yaitu ke Depo Bangunan untuk belanja. Keramik, wastafel, wallpaper, dan lain-lain.

Di saat badan sakit, pikiran penuh dengan rencana yang tidak bisa dilaksanakan, saya merasa sakit jasmani dan ruhani. Ditambah anak saya yang kecil datang mengeluhkan gigi-gigi dan gusinya yang sakit. Dia minta dicabut, tapi dokter gigi tidak memperbolehkan. Karena pertimbangan usia yang belum cukup.

Lalu saya bilang ke anak,

“Kalau kita sakit, tapi sabar, maka Allah memberikan kita banyak pahala, dan dosa-dosa kita akan dihapus semuanya.”

“Semuanya?”

“Iya, semuanya sampai habis. Juga dapat pahala yang buanyak.”

Alhamdulillah saya lihat anak saya tersenyum, bahkan tertawa. Dia anak laki-laki yang punya prinsip sangat kuat. Dan saya selalu menghargai keyakinannya. Sembari sebisa mungkin meluruskan pengetahuannya yang kadang keliru.

Lho, bukankah saya sendiri juga sedang sakit. Berarti dosa-dosa saya juga akan Allah hapus dong… Alhamdulillah, lumayan…

Saya pun tersenyum sangat bahagia. Ah ya, agama memang akan selalu membuat kita bahagia. Selalu tersenyum apapun masalah yang menimpa diri kita. Asal kita ikhlas menerimanya sebagai yang terbaik…

Alhamdulillah…

***

Tags:

0 thoughts on “Beragama Membuat Kita Selalu Tersenyum

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...