SHOPPING CART

close

Hadits Syadz: Pengertian, Macam-macam dan Contohnya

Bila dua buah hadits bertentang. Lalu tidak bisa ditarjih maupun dicari jalan tengahnya, maka kedua hadits itu disebut sebagai hadits mudhtharib.

Kalau bisa ditarjih (ditentukan mana yang lebih kuat), maka yang rajih (lebih kuat) disebut sebagai hadits mahfuzh. Adapun yang lebih marjuh (lebih lemah) disebut sebagai hadits syadz.

Pembahasan hadits syadz ini sangat menarik. Meskipun mungkin agak rumit. Namun di sinilah letak uniknya. Semoga sajian kali ini cukup mudah untuk dipahami.

***

Pengertian Hadits Syadz

Secara bahasa, syadz artinya: aneh, janggal, nyeleneh, beda sendiri, tidak sama dengan kebanyakan.

Secara istilah, Hadits Syadz adalah:

ما رواه المقبول مخالفًا لمن هو أولى منه

“Hadits yang diriwayatkan perawi yang maqbul (lumayan tsiqah). Namun bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan perawi yang lebih tsiqah.”

Berdasarkan definisi di atas, hadits syadz itu sebenarnya sudah memenuhi lima syarat hadits shahih. Kecuali syarat yang keempat.

Kita review sejenak. Hadits shahih itu harus memenuhi lima syarat, yaitu:

  1. Sanadnya bersambung
  2. Semua perawinya adil
  3. Semua perawinya dhabith
  4. Tidak mengandung syadz
  5. Tidak mengandung ‘illah

Jadi hadits syadz ini termasuk hadits dha’if, karena mengandung syadz.

***

Peringatan Imam Syafi’i

Berkaitan dengan hadits syadz ini, Imam Syafi’i pernah memberikan peringatan sebagai berikut:

ليس الشاذ من الحديث أن يروي الثقة ما لا يرويه غيره، هذا ليس بشاذ، إنما الشاذ أن يروي الثقة حديثًا يخالف فيه الناس هذا الشاذ من الحديث

“Ada orang yang salah paham. Dikiranya hadits syadz itu adalah hadits yang diriwayatkan perawi yang tsiqah, tapi perawi lain tidak meriwayatkannya. Ini bukan hadits syadz. Sebuah hadits disebut syadz, apabila diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah, namun ternyata bertentangan dengan para perawi yang lain. Inilah yang disebut sebagai hadits syadz.”

***

Macam-macam Hadits Syadz dan Contohnya

Berdasarkan keterangan di atas, hadits syadz ini ada dua macam, yaitu: syadz pada sanad dan syadz pada matan. Berikut ini penjelasannya masing-masing:

1. Hadits Syadz pada Sanad

Ada kalanya sebuah hadits itu syadz pada sanadnya.

Contohnya adalah hadits berikut ini:

Hadits Syadz

Disebutkan dalam Sunan Baihaqi:

أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ : أنا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ، ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِسْحَاقَ الْقَاضِي، ثنا سُلَيْمَانُ، وَعَارِمٌ، قَالَا : ثنا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ عَمْرٍو، عَنْ عَوْسَجَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ :أَنَّ رَجُلًا مَاتَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ ـ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ـ وَلَمْ يَدَعْ وَارِثًا إِلَّا مَوْلًى لَهُ هُوَ أَعْتَقَهُ، فَأَعْطَاهُ النَّبِيُّ ـ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ـ مِيرَاثَهُ

Di mana dalam hadits itu sanadnya berhenti sampai ‘Ausajah. Alias diriwayatkan secara mursal.

Hadits yang pertama ini adalah contoh Hadits Syadz.

Secara singkat, hadits di atas diriwayatkan dengan sanad:

Hammad bin Zaid – dari ‘Amr – dari ‘Ausajah Maula Ibnu ‘Abbas.

‘Ausajah ini merupakan seorang tabi’in. Namun dia langsung masuk ke matan hadits, tanpa menyebutkan nama seorang shahabat. Sehingga menjadi hadits mursal.

*

Hadits Mahfuzh

Nah, sanad hadits di atas itu bertentangan dengan sanad hadits lain yang lebih kuat. Disebutkan pula dalam Sunan Baihaqi:

أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ، أنا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الصَّفَّارُ، ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِسْحَاقَ، ثنا عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ، ثنا سُفْيَانُ، عَنْ عَمْرٍو، عَنْ عَوْسَجَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ـ قَالَ: مَاتَ رَجُلٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ ـ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ـ وَلَمْ يَتْرُكْ وَارِثًا إِلَّا عَبْدًا لَهُ هُوَ أَعْتَقَهُ، فَأَعْطَاهُ رَسُولُ اللهِ ـ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ـ مِيرَاثَهُ

Secara singkat, hadits yang kedua ini diriwayatkan dengan sanad:

Sufyan – dari ‘Amr – dari ‘Ausajah – dari Ibnu ‘Abbas.

Jadi dalam hadits yang kedua ini, sanadnya bersambung sampai pada Ibnu ‘Abbas. Istilahnya muttashil.

Hadits yang kedua ini adalah contoh Hadits Mahfuzh.

*

Antara Mursal dan Muttashil

Dari mana kita bisa mengetahui bahwa hadits yang pertama itu merupakan hadits syadz. Sedangkan hadits yang kedua itu merupakan hadits mahfuzh? Yaitu berdasarkan penelusuran kepada hadits-hadits yang serupa. Misalnya adalah hadits berikut ini:

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ أَبُو حَفْصٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللهُ وَرَسُولُهُ مَوْلَى مَنْ لَا مَوْلَى لَهُ، وَالْخَالُ وَارِثُ مَنْ لَا وَارِثَ لَهُ

Secara singkat, hadits yang ketiga ini diriwayatkan juga secara muttashil. Tidak secara mursal.

*

Bagi kita yang bukan ulama hadits, masalah mursal dan muttashil itu tidak terlalu penting.

Namun bagi para ahli hadits, status itu adalah penting.

Karena salah satu syarat hadits shahih, bahkan syarat yang pertama, adalah sanadnya harus bersambung.

***

2. Hadits Syadz pada Matan

Selain terjadi pada sanad, sebuah hadits dinyatakan sebagai hadits syadz adalah karena matannya.

Contoh pertama:

Hadits Syadz

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :يَوْمُ عَرَفَةَ، وَيَوْمُ النَّحْرِ، وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Rasulullah Saw. bersabad:

“Hari Arafah, Hari Nahr, dan Hari Tasyriq bagi kita orang Islam adalah hari makan dan minum.”

Hadits Mahfuzh

  قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Rasulullah Saw. bersabda:

“Hari Tasyriq merupakan hari makan dan minum.

Letak syadz pada hadits

Dua hadits di atas adalah bertentangan. Di mana dalam hadits yang pertama ada tambahan, yaitu: hari Arafah dan hari Nahr. Sementara pada hadits yang kedua, yang lebih kuat, tidak ada tambahan tersebut.

Maka tambahan itu merupakan penyebab syadz-nya hadits yang pertama itu.

***

Contoh kedua:

Hadits Syadz
قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ فَلْيَضْطَجِعْ عَلَى يَمِيْنِهِ

Nabi Saw. bersabda:

“Bila salah seorang di antara kalian selesai melaksanakan shalat dua rakaat fajar, maka hendaklah dia berbaring dengan badan posisi miring ke kanan“. (HR. Tirmidzi)

Hadits Mahfuzh
كَانَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ إِذَا صَلَّى رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ اِضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ

Bila Nabi Muhammad Saw. melaksanakan shalat dua rakaat fajar maka Beliau membaringkan badan ke sisi kanan”. (HR. Bukari dan Nasa’i)

Antara qauliyah dan fi’liyah

Hadits yang pertama itu merupakan hadits qauliyah, perkataan Nabi Muhammad Saw.

Sedangkan hadits yang kedua merupakan hadits fi’liyah, perbuatan Nabi Muhammad Saw.

Hal ini dikuatkan oleh beberapa hadits yang lain yang juga merupakan hadits fi’liyah. Bukan qauliyah.

Bagi kita orang awam, apakah sebuah hadits itu qauliyah atau fi’liyah tidaklah begitu penting. Yang penting hadits. Maka pasti baik dilakukan.

Namun bagi para ulama, hal itu harus dipastikan. Qauliyah atau fi’liyah.

Karena qauliyah itu penekanannya lebih kuat daripada fi’liyah.

***

Penutup

Demikian sedikit penjelasan mengenai Hadits Syadz dan Hadits Mahfuzh. Bila ada tambahan maupun pertanyaan, kami persilakan disampaikan pada kolom komentar.

Semoga ada manfaatnya. Allahu a’lam.

__________

Bacaan utama:

Kitab Taisir fi ‘Ulumil HaidtsSyeikh Mahmud ath-Thahhan.

Artikel: Hadits Syadz, Syeikh Ali bin Salim Rawahi.

Tags:

0 thoughts on “Hadits Syadz: Pengertian, Macam-macam dan Contohnya

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.