SHOPPING CART

close

Inilah 12 Langkah Muhammadiyah dan Tafsirnya

Muhammadiyah telah berkali-kali mengadakan rumusan-rumusan yang merupakan usaha untuk memantapkan garis hidup dan perjuangan demi mencapai cita-citanya.

Dengan   rumusan-rumusan tersebut, pimpinan dan warga Muhammadiyah mendapatkan pegangan yang sesuai dengan keadaan dan perkembangan zaman.

Rumusan langkah perjuangan Muhammadiyah pertama kali disusun oleh K.H. Ahmad Dahlan beserta sejawat dan murid-murid pada tahun 1935.

Rumusan langkah perjuangan Muhammadiyah itu diberi nama:

12 Langkah Muhammadiyah

Kemudian rumusan itu memperoleh penafsiran oleh K.H. Mas Mansur pada tahun 1949.

***

A. Teks 12 Langkah Muhammadiyah

Berikut ini teks 12Langkah Muhammadiyah:

12 Langkah Muhammadiyah

1. Memperdalam iman

2. Memperluas paham agama

3. Memperbuahkan budi pekerti

4. Menuntun amalan intiqad

5. Menguatkan persatuan

6. Menegakkan keadilan

7. Melakukan kebijaksanaan

9. Mengadakan musyawarah

10. Memusyawaratkan putusan

11. Mengawasi gerakan ke dalam

12. Memperhubungkan gerakan luar.

***

B. Penafsiran 12 Langkah Muhammadiyah 

Berikut ini rumusan langkah Muhammadiyah beserta penafsirannya:

1. Memperdalam Iman

Hendaklah iman itu ditablighkan, disiarkan seluas-luasnya, diberi riwayat dan dalil buktinya, dipengaruhkan dan digembirakan, hingga iman itu mendarah-daging, masuk di tulang sumsum dan mendalam di hati sanubari para anggota Muhammadiyah semuanya.

2. Memperluas Paham Agama

Hendaklah paham agama yang sesungguhnya (murni) dibentangkan seluasnya, diujikan, dan diperbandingkan, sehingga para anggota Muhammadiyah mengerti dan meyakinkan bahwa Agama Islamlah yang paling benar, ringan, dan berguna, hingga dengan merasa nikmat mendahulukan amalan keagamaan itu.

3. Memperbuahkan Budi Pekerti

Hendaklah diterangkan dengan jelas tentang budi pekerti (akhlak) yang terpuji (mahmudah) dan sifat yang tercela (mazmumah), dibahas pemakaian akhlak-akhlak yang terpu­ji dan menjauhkan sifat yang tercela, sehingga amalan para anggota Muhammadiyah berbudi pekerti yang baik lagi berjasa.

4. Menuntun Amalan Intiqad

Hendaklah senantiasa melakukan perbaikan diri kita sen­diri (zelf correctie) dalam segala usaha dan pekerjaan itu. Buah penyelidikan perbaikan itu dimusyawarahkan secara khusus untuk mendatangkan maslahat dan menjauhkan mudarat.

5. Menguatkan Persatuan

Hendaklah menjadi tujuan kita menguatkan persatuan organisasi, mengokohkan pergaulan, persaudaraan, mempersamakan hak dan memerdekakan lahirnya pikiran-pikiran.

6. Menegakkan Keadilan

Hendaklah keadilan dijalankan semestinya walaupun terhadap diri sendiri, dan ketetapan yang sudah seadilnya dibela dan dipertahankan di manapun juga.

7. Melakukan Kebijaksanaan

Dalam gerak kita, tidaklah melupakan hikmat kebijaksanaan yang disendikan kepada Kitabullah dan Sunnatu Rasulillah. Kebijaksanaan yang menyalahi kedua pegangan itu haruslah dibuang, karena itu bukanlah kebijaksanaan yang sesungguhnya.

9. Mengadakan Musyawarah

Untuk mengadakan garis yang tentu dalam langkah-langkah amalan dan perjuangan ki­ta, hendaklah diadakan musyawarah-musyawarah, terutama untuk hal-hal yang khusus dan penting seperti usaha Da’wah Islam di seluruh Indonesia dan lain-lain.

10. Memusyawaratkan Putusan

Agar dapat meringankan dan memudahkan pekerjaan, hendaklah setiap putusan mengenai tiap-tiap Majlis/Bagian, dimusyawarahkan dengan pihak yang bersangkutan, sehingga dapatlah mentanfizkannya untuk mendapatkan hasil dengan segera.

11. Mengawasi Gerakan ke Dalam

Pandangan kita hendaklah kita tajamkan, mengawasi gerak kita yang ada di dalam Muhammadiyah, baik mengenai yang sudah lalu, yang masih berlangsung maupun yang akan dihadapi.

12. Memperhubungkan Gerakan Luar

Kita berdaya upaya untuk memperhubungkan diri dengan pihak luar, seperti persyarikatan-persyarikatan dan pergerakan-pergerakan lain di Indonesia dengan dasar silaturrahim, tolong-menolong dalam segala kebaikan, dengan tidak mengubah asas masing-masing. Terutama perhubungan dangan persyarikatan dan pemimpin Islam.

***

Selanjutnya tahun 1951 pada masa kepemimpinan Ki Bagus Hadikusumo lahirlah dokumen bernama Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah yang berisi beberapa pokok pikiran tentang prinsip-prinsip dasar Muhammadiyah yang dituangkan dalam Muqaddimah Anggaran Dasar.

Kemudian pada Muktamar Muhammadiyah ke-35 di Jakarta pada tahun 1962 lahirlah Kepribadian Muhammadiyah sebagai rumusan ideologi yang menggambarkan hakekat Muhammadiyah, dasar dan pedoman perjuangan serta amal usaha Muhammadiyah juga sifat-sifat yang dimilikinya.

Setelah itu muncul pemikiran untuk melakukan pembaharuan kembali khususnya bidang ideologi. Pemikiran ini kemudian melahirkan rumusan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah.

Di dalam MKCHM memuat tentang keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah sehingga dapat disebut sebagai ideologi Muhammadiyah yang disusun secara sistematis.

Konsep MKCHM diputuskan dalam sidang Tanwir Muhammadiyah tahun 1969 di Ponorogo, yang juga melahirkan Khittah Ponorogo.

Tanwir Muhammadiyah tahun 1969 itu sendiri merupakan amanah Muktamar Muhammadiyah ke-37 yang dilaksanakan tahun 1968. Muktamar tersebut mengambil tema “Tajdid Muhammadiyah”.

Pada tahun 1970 dalam Tanwir Muhammadiyah di Yogyakarta, MKCHM tersebut diolah kembali oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Lalu disempurnakan kembali dalam Muktamar Muhammadiyah ke-41 tahun 1985 di Surakarta.

Baca pula:  Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM)

______________________

Bahan bacaan: 

– Artikel: Inilah 12 Langkah Muhammadiyah Tahun 1949.

Tags:

One thought on “Inilah 12 Langkah Muhammadiyah dan Tafsirnya

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.