SHOPPING CART

close
Pengantar Studi Hadits

Kitab-kitab Hadits Populer

Sangat banyak kitab himpunan hadits yang disusun oleh para imam atau pakar hadits. Namun pada kesempatan kali ini penulis hanya akan menyebutkan kitab-kitab himpunan hadits yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia, yaitu:

1.     Al-Muwaththa’

Kitab ini lebih dikenal dengan nama Muwaththa’ Imam Malik, adalah karya Imam Malik bin Anas al-Madani, wafat tahun 179 H. Dalam kitab ini, Imam Malik menyusun urutan bab berdasarkan bab-bab fikih, dan mencakup hadits-hadits marfu’, mauquf dan maqthu’. Muwaththa’ Imam Malik adalah kitab yang pertama kali disusun dengan mengambil hadits yang shahih saja, namun juga menghimpun qaul (pendapat) shahabi dan tabi’in.[1]

2.     Al-Jami’ ash-Shahih

Kitab ini lebih dikenal dengan nama Shahih Bukhari, adalah karya Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il Bukhari, wafat tahun 256 H. Imam Bukhari adalah orang yang pertama kali menyusun dan membukukan hadits dengan hanya mengambil hadits yang shahih saja, dan mengesampingkan hadits yang dha’if. Oleh karena itu kitab ini memperoleh perhatian yang besar dari para ulama, bahkan dinyatakan sebagai himpunan berita paling valid di muka bumi setelah Al-Quran. Dan kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia  oleh Achmad Sunarto dengan judul Tarjamah Shahih Bukhari.

3.     Al-Jami’ ash-Shahih

Kitab ini lebih dikenal dengan nama Shahih Muslim, adalah karya Imam Abu al-Husain Muslim bin Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, wafat tahun 261 H. Kitab ini, sama dengan Shahih Bukhari, juga hanya memuat hadits yang shahih saja berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan oleh Imam Muslim. Menurut jumhur (mayoritas) ulama, Shahih Muslim ini menempati peringkat kedua setelah Shahih Bukhari. Dan kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh KH. Adib Bisri Musthofa dengan judul Tarjamah Shahih Muslim.

4.     Sunan Abu Dawud

Kitab ini adalah karya Imam Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats as-Sijistani, wafat tahun 275 H. Dalam kitab ini Abu Dawud menghimpun hadits shahih, hasan dan dha’if. Namun Abu Dawud telah menjelaskan semua hadits yang dha’if dan tidak bisa dijadikan dalil untuk beramal.[2] Dan kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh H. Bey Arifin dan A. Syinqithy Djamaluddin dengan judul Tarjamah Sunan Abi Daud.

5.     Al-Jami’

Kitab ini lebih dikenal dengan nama Sunan Tirmidzi, merupakan karya Imam Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa Tirmidzi, wafat tahun 279 H. Kitab ini menghimpun hadits shahih, hasan dan dha’if. Namun Tirmidzi telah menjelaskan sebagian besar derajat haditsnya. Dan kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Drs. H. Moh. Zuhri, Dipl, Tafl, dkk. dengan judul Tarjamah Sunan Tirmidzi.

6.     Al-Mujtaba

Kitab ini lebih dikenal dengan nama Sunan Nasa’i, adalah karya ‘Abdurrahman bin Ahmad bin Syu’aib an-Nasa’i, wafat tahun 303 H. Keistimewaan kitab adalah pada kejelian penyusun dalam membuat bab-bab pembahasan yang merupakan gabungan antara ilmu fikih dan ilmu isnad. Dan kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Bey Arifin, Yunus ‘Ali Al Muhdhor dan Dra. Ummu Maslamah Rayes dengan judul Tarjamah Sunan Nasa’iy.

7.     Sunan Ibnu Majah

Kitab ini adalah karya Muhammad bin Yazid bin Majah al-Qazwini, wafat 274 H. Para ulama menjadikan kitab ini sebagai penyempurna bagi enam kitab diatas, mengingat peranan besar yang dirasakan umat Islam pada kitab ini dalam bidang fikih.[3] Dan kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh H. Abdullah Shonhaji, dkk. dengan judul Tarjamah Sunan Ibnu Majah.

8.     Al-Musnad

Kitab ini lebih dikenal dengan nama Musnad Ahmad, adalah karya Imam Ahmad bin Hambal, wafat tahun 241 H. Kitab ini disusun bukan berdasarkan bab-bab fikih, namun disusun dan dikelompokkan berdasarkan nama shahabat. Dalam kitab ini, Imam Ahmad tidak hanya menghimpun hadits shahih dan hadits hasan saja, namun juga yang dha’if. Namun demikian, setelah melakukan telaah atas seluruh hadits dalam kitab ini, al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan pernyataan bahwa mayoritas hadits dalam kitab ini memiliki derajat jayyid (derajat baik, bisa menjadi landasan hukum).[4]

9.     Bulugh Al-Maram

Kitab Bulugh al-Maram adalah hasil karya al-Hafizh Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani. Di Indonesia, khususnya  di kalangan para santri, buku ini merupakan himpunan hadits hukum yang paling populer. Selain jumlah halaman yang tidak terlalu tebal, penyusunnya juga seorang yang tidak diragukan lagi keilmuan dan keshalehannya. Demikian penting kedudukan buku ini, hingga memperoleh perhatian besar dari dua ulama legendaris nusantara, yaitu: Tuan A. Hassan dan KH. Bisri Musthofa.

10. Terjemah Bulugh Al-Maram oleh A. Hassan

Meskipun lahir dan dewasa di Singapura, Tuan A. Hassan (1887-1958 M.) adalah ulama yang telah berjasa besar dalam bidang studi Islam, termasuk studi hadits, di tanah air. Dan salah satu karya penting A. Hassan adalah sebuah buku amat tebal berjudul Tarjamah Bulughul Maram. Beberapa catatan yang penulis anggap penting mengenai buku ini adalah sebagai berikut:

Meskipun berjudul Tarjamah Bulughul Maram, namun setelah membuka beberapa halaman, semua pembaca akan paham bahwa buku ini bukanlah sekedar buku terjemahan. Buku ini merupakan buku terjemah sekaligus syarah atau penjelas hadits-hadits yang ada di dalamnya. Di mana setiap selesai menerjemahkan dua atau tiga hadits, A. Hassan memberikan beberapa penjelasan atau keterangan ringkas namun padat akan maksud hadits-hadits itu, khususnya yang berhubungan dengan masalah-masalah hukum. Dengan demikian para pembaca bukan hanya disuguhi terjemahan hadits, namun juga diberi pemahaman yang benar mengenai hadits yang bersangkutan.

Hampir setiap halaman buku ini “dihiasi” oleh footnote yang menerangkan dhamir atau kata ganti yang bertebaran dalam terjemah hadits. Footnote ini juga berisi definisi-definisi penting untuk istilah-istilah fikih.

Selain tambahan penjelasan tersebut, buku ini juga dilengkapi dengan 55 pasal sebagai muqadimah untuk pembaca yang belum mengenal beberapa istilah penting dalam bidang hadits. Seperti istilah atsar, sanad, rawi, dst. Dalam muqadimah itu A. Hassan berkata:

“BULUGHUL-MARAM MIN ADILLATIL-AHKAM, karangan al-Háfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalání adalah suatu kitab fiqh yang kecil berdasar sunnah Rasúlulláh saw.

“Di abad yang akhir ini, kitab tersebut, kedengaran terpakai di mana-mana, dan Indonesia pun tidak ketinggalan, terutama di antara pelajar-pelajar di madrasah-madrasah dan pesantren-pesantren.

“Tetapi, kitab itu disusun oleh pengarangnya seolah-olah untuk orang-orang yang sudah tahu ‘ilmu Mushthalahul Hadíts, ‘ilmu Ushúlulfiqh, dan sudah mahir di dalam urusan fiqh dan Hadíts.

“Saya katakan demikian, karena di beberapa bab terdapat Hadíts-hadíts yang nampaknya berlawanan. Hadíts yang shahih dan yang lemah, hingga tidak mudah bagi orang yang tidak berpengalaman, mengambil fáidah daripadanya.”

Buku ini selesai ditulis pada tanggal 17 Agustus 1958, tiga bulan mendekati wafatnya Sang Guru Besar, yaitu pada tanggal 10 Nopember. Bisa dikatakan bahwa masa ini merupakan masa puncak ketajaman analisa ilmiahnya. Maka tidak heran, penulis menemukan kualitas terjemah yang demikian akurat dan efektif. Misalnya hadits no. 981:

مَا أَحْرَزَ الْوَالِدُ أَوْ الْوَلَدُ فَهُوَ لِعَصَبَتِهِ مَنْ كَانَ.

“Apa-apa yang didapat oleh bapa atau anak, maka adalah buat ‘ashabah-nya siapa sahaja ia.”

Atau hadits no. 1059:

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ : قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ عَلَى صَدَاقٍ، أَوْ حِبَاءٍ، أَوْ عِدَةٍ قَبْلَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لَهَا، وَمَا كَانَ بَعْدَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لِمَنْ أُعْطِيَهُ، وَأَحَقُّ مَا يُكْرَمُ عَلَيْهِ الرَّجُلُ ابْنَتُهُ وَأُخْتُهُ.

Dari ‘Amr bin Su’aib, dari bapanya, dari datuknya. Ia berkata: Telah bersabda Rasúlulláh saw. : “Siapa-siapa perempuan bernikah dengan mas-kahwin, atau pemberian, atau perjanjian sebelum kejadian nikah maka yang demikian itu (adalah haq) baginya; dan apa-apa (pemberian) sesudah kejadian nikah, maka yang demikian untuk siapa yang diberikan (pemberian itu) ; dan orang yang selayaknya seseorang diberi satu pemberian karenanya ialah anak perempuannya, atau saudara perempuannya.

Meskipun buku ini bisa digolongkan sebagai buku yang “kuno” (selesai ditulis pada masa Orde Lama), namun A. Hassan yang berjiwa profesional telah memakai teknik penulisan dan ejaan “modern”. Seperti huruf á untuk menunjukkan a panjang, í untuk menunjukkan i panjang, dan ú untuk menunjukkan u panjang. Sementara di jaman yang “modern” sekarang ini masih banyak ulama yang tidak memperhatikan perbedaan dalam menuliskan huruf-huruf tersebut.

11. Tarjamah Bulughul Maram oleh K.H. Bisri Mustofa

Lain dari buku terjemah yang lain, buku terjemah yang satu ini disusun oleh KH. Bisri Mustofa untuk membantu para pelajar dalam rangka meningkatkan kemampuan bahasa Arab pembacanya. Dengan jelas hal ini bisa dilihat dari cara beliau menerjemahkan buku tersebut, yaitu:

  • Membagi setiap hadits dalam beberapa bagian, lalu memberi nomor pada tiap bagian tersebut.
  • Menerjemahkan tiap bagian hadits tersebut sesuai dengan nomornya.

Dengan metode menerjemahkan seperti itu, tidak ragu lagi para pembaca yang bersedia menekuni buku ini akan memperoleh pemahaman yang orisinil dari hadits bersangkutan, sesuai dengan kadar pemahaman masing-masing orang. Oleh karena itu penerjemah memberi nama buku terjemah ini dengan: Sullamul Afham, yang kurang lebih artinya Tangga Pemahaman. Dalam pengantar buku ini beliau berkata:

“Sengaja tarjamah ini saya buat seringkas mungkin, sebab saya bermaksud agar kitab saya ini merupakan tangga bagi yang akan meningkat ke tingkat yang lebih tinggi daripada pengetahuan hadits-hadits Nabi saw.”

Itulah keunikan dan kelebihan buku ini.

Sebagian pembaca boleh jadi akan menilai bahwa metode yang diambil oleh penerjemah terasa aneh. Apalagi bagi pembaca yang sama sekali tidak bisa berbahasa Arab. Karena boleh jadi bukannya pemahaman yang didapat, namun justru pembaca pada “kelas ini” akan menemui kesulitan. Dan apabila metode yang ditempuh oleh penerjemah ini bisa disebut kekurangan, maka penerjemah telah mengantisipasi hal itu dengan memberikan keterangan tambahan pada tiap hadits sebagai kesimpulan hukumnya. Sehingga, sekali lagi semua pembaca akan memperoleh manfaat dari buku ini sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Bagi siapa pun yang mengenal sedikit saja sosok KH. Bisri Mustofa, maka dia akan segera paham akan perhatian beliau yang luar biasa dalam perjuangan pengembangan Bahasa Arab sebagai Bahasa Al-Quran, Bahasa Hadits, dan Bahasa Islam. Dan di antara perhatian itu dengan tegas beliau tampilkan dalam karya yang sampai sekarang (sepengetahuan penulis) belum ada duanya ini. Farahimahullahu rahmatan wasi’ah…. Semoga Allah memberikan rahmat yang seluas-luasnya kepada beliau…. Amin, ya rabbal-‘alamin.

12. Muntaqa al-Akhbar, Syarah dan Terjemahnya

Kitab Muntaqa al-Akhbar merupakan himpunan hadits hukum yang disusun oleh Imam ‘Abdus-Salam bin ‘Abdillah bin Abi al-Qashim bin Muhammad bin al-Hidhr bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Abdillah bin al-Harrani. Atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Taimiyyah al-Jadd (661-728 H.). Buku ini memuat lebih dari 5.029 hadits yang merupakan kumpulan hampir seluruh hadits dalam bidang hadits hukum. Selain disusun oleh seorang pakar hadits tiada banding pada masanya, kitab ini memperoleh keberuntungan besar dengan munculnya Kitab Nail al-Authar.

Buku Nail al-Authar ditulis oleh Imam Muhammad bin ‘Ali asy-Syaukani, yang lebih dikenal dengan sebutan Imam asy-Syaukani (1172-1250 H.). Nail al-Authar merupakan ringkasan sebuah syarah kitab hadits yang sangat besar, yaitu Fath al-Bari yang ditulis oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Secara garis besar, kitab Nail al-Authar memiliki keistimewaan sebagai berikut:

  • Menyebutkan sumber asli hadits-hadits yang ada dalam Muntaqa al-Akhbar (takhrij al-hadits), kemudian menjelaskan status hadits-hadits itu, serta pendapat para ulama mengenai makna hadits-hadits tersebut.
  • Menjelaskan makna kosa kata (mufradat) hadits-hadits Muntaqa al-Akhbar, baik secara bahasa maupun secara istilah.
  • Melakukan istinbath hukum terhadap hadits-hadits Muntaqa al-Akhbar tanpa sikap ta’ashub (fanatik golongan).
  • Menyebutkan pendapat para ulama mulai dari generasi shahabat, tabi’in, hingga para imam madzhab.
  • Berpedoman pada kaidah-kaidah ushuliyah dan syar’iyah, serta menjelaskan prosedur penerapan hukum yang bersifat cabang.

Berkenaan dengan Kitab Nail al-Authar ini, pada tahun 1990-an, ketika mulai nyantri di Pondok Pesantren Modern Islam As-Salaam Surakarta, penulis amat tertarik dengan salah satu jamaah kesantrian yang bernama Jamaah Nailul Authar. Sebuah jamaah yang boleh dibilang eksklusif, karena untuk menjadi anggota jamaah itu harus dipilih oleh anggota sebelumnya. Saking gandrungnya penulis dengan jamaah itu, juga karena himbauan ketua jamaah, penulis pun membeli buku Terjemahan Nailul Authar. Dan sampai sekarang, buku itu masih menjadi rujukan terbaik bagi penulis untuk berbagai kegiatan, baik kegiatan sosial di masyarakat maupun kegiatan akademik di kampus Universitas Muhammadiyah Malang tempat penulis bekerja dan mengabdikan diri sejak beberapa tahun yang lalu.

Penerjemah buku tersebut adalah sebuah tim yang beranggotakan tiga orang, yaitu:[5]

  • Mu’ammal Hamidy
  • Imron A.M.
  • ‘Umar Fanany, B.A.

Secara umum, buku ini telah memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan keilmuan bidang ke-Islam-an di negeri tercinta, khususnya dalam bidang hadits. Namun Allah Swt. memang telah berkehendak bahwa kesempurnaan hanyalah milik-Nya. Sedikit catatan yang penulis temukan selama berinteraksi dengan buku ini adalah sebagai berikut:

  • Sesungguhnyalah, buku ini bukan merupakan terjemahan Nailul Authar sebagaimana judul yang diberikan, namun buku ini adalah terjemahan Ringkasan Nailul Authar. Meskipun pada sampul buku tersebut terdapat keterangan berbahasa Arab: مختصر نيل الأوطار  (Ringkasan Nailul Authar), pembaca atau pembeli yang tidak teliti pasti akan menyangka bahwa buku itu adalah memang benar terjemahan Nailul Authar. Sampai kemudian orang itu membaca muqaddimah buku tersebut, barulah dia akan mengerti –atau bahkan kecele- bahwa buku itu “hanyalah” terjemahan Ringkasan Nailul Authar. Hal ini bisa dialami oleh orang yang mengerti bahasa Arab. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak mengerti bahasa Arab, tidak membaca muqaddimah buku tersebut, dan tidak pula memperoleh penjelasan dari orang lain? Tentu selamanya orang itu akan menyangka bahwa buku itu adalah benar-benar terjemahan Nailul Authar.
  • Setelah melakukan “studi banding” dengan hasil terjemahan hadits-hadits yang ada dalam buku tersebut dengan terjemahan penulis, penulis bisa mengambil kesimpulan, bahwa secara umum penerjemah buku tersebut tidak merujuk kepada penjelasan (syarah) yang ditulis oleh Imam asy-Syaukani. Sehingga orang cerdas sekalipun tidak akan bisa memahami beberapa kalimat terjemahan hadits disana, misalnya:
  • Hadits no. 3293.

عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ، قَالَ : رَأَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَبْلَ أَنْ يُصَابَ بِأَيَّامٍ بِالْمَدِينَةِ، وَقَفَ عَلَى حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ وَعُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ، قَالَ : كَيْفَ فَعَلْتُمَا، أَتَخَافَا أَنْ تَكُونَا قَدْ حَمَّلْتُمَا الْأَرْضَ مَا لَا تُطِيقُ ؟ قَالَا : حَمَّلْنَاهَا أَمْرًا هِيَ لَهُ مُطِيقَةٌ، وَمَا فِيهَا كَثِيرُ فَضْلٍ. قَالَ : اُنْظُرَا أَنْ تَكُونَا حَمَّلْتُمَا الْأَرْضَ مَا لَا تُطِيقُ. قَالَ : قَالَا : لَا. فَقَالَ عُمَرُ : لَئِنْ سَلَّمَنِي اللَّهُ، لَأَدَعَنَّ أَرَامِلَ أَهْلِ الْعِرَاقِ، لَا يَحْتَجْنَ إلَى رَجُلٍ بَعْدِي أَبَدًا.

Dari ‘Amr bin Maimun, ia berkata: Aku pernah melihat Umar r.a. di Madinah beberapa hari sebelum terkena musibah, yaitu ia berdiri di hadapan Hudzaifah bin al-Yaman dan ‘Utsman bin Hanif, lalu ia bertanya: Bagaimana kalian berbuat? Apakah kalian berdua takut memberi beban bumi dengan sesuatu yang ia tidak kuat? Mereka berdua menjawab: Kami memberi beban kepada bumi dengan perkara yang bumi itu kuat menanggung perkara tersebut, yaitu di bumi ini banyak anugrah. Umar berkata: Lihatlah, bahwa bumi itu telah kalian beri beban dengan sesuatu yang ia tidak kuat. Kedua orang itu menjawab: Tidak. Lalu Umar berkata: Sungguh seandainya Allah berkenan menyelamatkan aku, pasti akan kutinggalkan janda-janda penduduk Irak yang tidak membutuhkan seorang laki-laki pun sesudahku nanti untuk selama-lamanya. Dst.

“Memberi beban kepada bumi, apa maksudnya? Meninggalkan para janda, dari apa?” Membuat pembaca bertanya-tanya, namun tidak memperoleh jawaban.

  • Hadits no. 3566:

أَرَى لَهَا مِثْلَ مَهْرِ نِسَائِهَا.

Aku berpendapat, bahwa perempuan itu berhak mendapat mahar seperti mahar yang diterima perempuan-perempuan lainnya.

Tentu para pembaca akan bertanya-tanya, “Perempuan-perempuan lainnya? Siapakah perempuan-perempuan itu?” Sementara pada Bagian Penjelasan sama sekali tidak ada keterangan siapakah perempuan-perempuan yang dimaksud.

Ada kalanya penerjemah kurang teliti memahami hadits yang sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dimengerti. Seperti terjemah hadits no. 3314:

قَالَ : لَا دَرَيْتَ، فَمَا تُغْنِي إذَنْ.

Lalu Umar berkata: Jadi engkau tidak tahu. Dengan begitu maka Umar merasa tidak cukup.

Pada penggalan hadits tersebut, tim penerjemah menganggapnya sebagai dua kalimat. Padahal amat jelas, bahwa penggalan hadits itu merupakan satu kalimat saja.

Atau pada hadits no. 3582:

وَمَنْ دَخَلَ عَلَى غَيْرِ دَعْوَةٍ، دَخَلَ سَارِقًا وَخَرَجَ مُغِيرًا.

Dan barangsiapa menghadiri walimah tanpa diundang, maka ia masuk laksana pencuri dan keluar sebagai orang yang dicurigai.

Kata مُغِيرًا diterjemahkan dengan, “Sebagai orang yang dicurigai.” Tentu saja terjemahan ini tidak akurat. Karena kata اْلمُغِيْر  artinya adalah seorang perampok yang mengambil harta orang lain secara terang-terangan.

Atau pada hadits no. 3589:

إذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إلَى الطَّعَامِ، فَجَاءَ مَعَ الرَّسُولِ، فَذَلِكَ لَهُ إذْنٌ.

“Apabila salah seorang di antara kamu diundang ke walimah lalu ia datang dengan membawa utusan (teman), maka yang demikian itu hendaklah mendapat izin (dari pihak yang mengundang)”.

Atau pada hadits no. 3611:

دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ بُنِيَ عَلَيَّ.

Pernah suatu pagi seorang anak laki-laki Ali masuk ke rumah Nabi saw.

Namun semua catatan ini amat bisa dimengerti, mengingat tugas menerjemahkan Ringkasan Nailul Authar (yang bernama asli Bustan al-Ahbar Mukhtashar Nail al-Authar karya Syeikh Faishal bin ‘Abdul Aziz Al Mubarak) sama sekali bukanlah pekerjaan ringan. Bisa menyelesaikan terjemahannya “saja” –menurut hemat penulis- sudah merupakan prestasi besar.

Seperti halnya para Wali Songo yang telah bekerja keras meng-Islam-kan tanah Jawa, sehingga agama Islam sampai hari ini menjadi agama mayoritas di tanah air. Adalah tugas para juru dakwah berikutnya untuk berterima kasih dan melanjutkan dakwah para pendahulunya itu. Bukannya mengolok-olok, meremehkan, apalagi mencaci-maki kerja keras mereka. Oleh karena itu, penulis ucapkan, “Jazahumullahu khairan katsiran ‘anil-islami wal-muslimin….” Semoga Allah berkenan memberikan pahala yang sebesar-besarnya kepada mereka, atas perjuangan membela agama dan umat Islam.

[1] ‘Umar ‘Atar, Manhaj an-Naqd fi ‘Ulûm al-Hadîts. Beirut: 1995, hal. 251.

[2] Ibid, hal. 277.

[3] Ibid, hal. 278.

[4] Ibid, hal. 279.

[5] Nama-nama tersebut penulis salin apa adanya, tanpa menyesuaikan dengan “gelar” yang sekarang. Misalnya gelar Kyai Haji yang disandang oleh Mu’ammal Hamidy yang saat ini mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.

Tags:

0 thoughts on “Kitab-kitab Hadits Populer

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...