SHOPPING CART

close
Puasa dan Zakat

Beberapa Kesalahan dalam Berniat Puasa

Niat merupakan salah satu unsur terpenting dalam beramal. Oleh karena itu sudah sepantasnya kita memperhatikan niat, sehingga puasa diterima Allah Swt.. Berikut ini beberapa kesalahan niat berpuasa:

1.      Harus Melafalkan Niat

Pada bulan Ramadhan, kita memperhatikan bahwa ada jamaah shalat tarawih membaca niat puasa dengan suara lantang. Apakah niat berpuasa itu memang harus dilafalkan dengan suara yang lantang seperti itu?

Sesungguhnyalah Rasulullah Saw. tidak pernah melafalkan atau mengajari para shahabat melafalkan niat berpuasa, baik dengan suara lirih maupun dengan suara lantang. Rasulullah Saw. hanya berpesan:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ .

“Barangsiapa tidak berniat puasa sejak malam hari, maka tidak sah puasanya.” (HR. Nasa’i)

Dalam redaksi yang lain, beliau bersabda:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ .

“Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.” (HR. Nasa’i)

Bila kita perhatikan, sesungguhnya dalam hadits itu Rasulullah Saw. tidak memberikan syarat bahwa niat itu harus dilafalkan. Namun sebagai bentuk kehati-hatian, juga sebagai bentuk pembelajaran kepada kaum awam, niat itu dilafalkan secara jahar (suara lantang) di malam hari setelah shalat tarawih.

Namun demikian, tentu lebih utama bila kita kembali kepada sunnah Rasulullah Saw., sehingga lebih nyunnah, juga lebih selamat. Justru inilah bentuk kehatian-hatian yang sesungguhnya, yaitu tidak menambah, merubah, maupun mengurangi ajaran Rasulullah Saw., terutama dalam masalah ibadah mahdhah (ibadah ritual).

2.      Berniat Puasa untuk Menambah Kesehatan

Dewasa ini banyak penemuan ilmiah yang membuktikan bahwa puasa itu bisa meningkatkan kesehatan. Lalu apakah sah bila kita berpuasa dengan niat untuk menambah kesehatan?

Kita boleh berharap bahwa puasa yang akan kita laksanakan akan memberikan manfaat untuk meningkatkan kesehatan. Namun janganlah harapan ini menjadi niat yang utama. Yang demikian ini karena niat beribadah itu harus ikhlas untuk Allah semata. Allah Swt. berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ ، فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا .

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (al-Kahfi: 110)

Memang terdapat manfaat sampingan dari berpuasa. Ada sebuah riwayat menyebutkan, bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

اغْزُوْا تَغْنَمُوْا ، وَصُوْمُوا تَصِحُّوْا ، وَسَافِرُوْا تَسْتَغْنُوْا .

“Berperanglah, niscaya engkau mendapat harta rampasan. Berpuasalah niscaya engkau sehat. Dan bersafarlah, niscaya engkau tercukupi.” (HR. Thabrani).

Namun demikian, hendaknya kita bisa menempatkan manfaat sampingan ini secara proporsional. Pada prinsipnya, tujuan berpuasa itu adalah meningkatkan ketakwaan. Adapun manfaat puasa bisa meningkatkan kesehatan, itu adalah bonusnya. Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ .

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (al-Baqarah: 183)

3.      Berniat Puasa untuk Memperlancar Rezeki

Ada orang yang berpuasa dengan niat untuk memperlancar rezeki. Yang demikian itu dengan logika, bahwa apabila kita mentaati perintah Allah, maka Dia akan sayang kepada kita. Apabila Dia sayang kepada kita, maka apapun yang kita minta akan dikabulkan.

Logika demikian ada benarnya, namun juga ada salahnya. Memang benar, Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang tunduk patuh kepada setiap perintah dan larangan-Nya, termasuk dalam hal ini adalah taat melaksanakan perintah puasa. Allah Swt. berfirman:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ ، وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ ، وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ ، وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ ، وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ ، وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ ، وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ ، وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ ، أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا .

“Sesungguhnya laki-laki maupun perempuan yang muslim, mukmin, tetap dalam ketaatan, benar, sabar, khusyuk, bersedekah, berpuasa, memelihara kehormatan, banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)

Namun bukan berarti bahwa kemudian Allah akan mengabulkan setiap permohonan dari hamba yang dicintai-Nya. Atau karena cinta-Nya kepada seorang hamba, lalu Allah akan mengabulkan setiap permohonannya. Karena boleh jadi Allah akan memberikan kekayaan justru kepada orang-orang yang amat dibenci-Nya, seperti kisah Qarun yang ditenggelamkan ke dalam bumi bersama seluruh hartanya.

Memang kadang-kadang Allah mengabulkan permohonan hamba-Nya yang saleh, termasuk permohonan kekayaan, seperti kisah Nabi Sulaiman u. Allah Swt. berfirman:

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ .

“Ia (Sulaiman) berdoa: Ya Tuhanku, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Shaad: 35)

Namun kadang-kadang Allah tidak mengabulkan permohonan seorang hamba karena satu atau beberapa sebab, seperti: kurangnya syarat, ditunda hingga tepat waktunya, diberi ganti yang semisal, atau diberikan kelak di akhirat.

4.      Berniat Puasa Supaya Lulus Ujian Nasional

Bila kita perhatikan, ternyata ada sebagian guru atau ustadz yang menganjurkan para siswa atau santri untuk berpuasa supaya lulus dengan nilai yang bagus. Bahkan juga ada sekolah, madrasah, atau pondok pesantren yang menganjurkan para santri puasa, supaya mereka memperoleh nilai yang baik, khususnya waktu menjelang ujian nasional. Anjuran seperti itu, menurut penulis mengandung dua unsur kesalahan.

Pertama, agama Islam tidak pernah mengajari umatnya untuk mencapai tujuan-tujuan yang bersifat duniawi seperti itu dengan puasa. Bila mau menang perang, tentu harus dengan strategi perang yang bagus. Bila ingin kaya, tentu harus giat bekerja. Demikian pula bila ingin lulus ujian, tentu harus belajar yang baik.

Dalam beberapa kesempatan, Rasulullah Saw. justru memberikan perintah kepada para shahabat untuk membatalkan puasa. Tujuan membatalkan puasa itu, supaya mereka lebih bertenaga untuk melawan musuh. Bila mereka dalam keadaan letih karena berpuasa, secara hitung-hitungan siasat perang mereka akan mudah dikalahkan.

Oleh karena itu, sekolah, madrasah atau pondok pesantren tersebut sudah seharusnya mencari cara yang masuk akal, sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi masa kini, supaya para murid atau para santri lulus ujian nasional dengan nilai yang memuaskan.

Kedua, tujuan puasa dalam agama Islam itu sudah ditetapkan oleh agama Islam itu sendiri. Tujuan berpuasa dalam Islam itu bukan untuk urusan duniawi yang bagaimana pun mulianya tetap saja merupakan urusan duniawi. Tujuan berpuasa dalam Islam itu amat mulia, yaitu supaya derajat ketakwaan orang yang berpuasa itu semakin meningkat. Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ .

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (al-Baqarah: 183)

5.      Berniat Puasa untuk Mendapatkan Jodoh

Dengan logika yang kurang lebih sama dengan puasa yang dilakukan dengan niat memperlancar rezeki, ada juga orang yang berniat puasa untuk mempermudah ketemu jodoh.

Bila kita perhatikan, tidak ada satu pun ayat maupun hadits, yang secara langsung maupun tidak langsung, yang memberikan keterangan bahwa di antara tujuan berpuasa adalah mempermudah ketemu jodoh. Berdoa untuk meminta jodoh memang dianjurkan, sebagaimana dianjurkannya berdoa untuk keperluan yang lain. Tapi berpuasa yang secara khusus diniatkan untuk mendapatkan jodoh itu tidak kita temukan anjurannya.

Kita berpuasa, asalkan ikhlas dan kita lakukan dengan benar, insya’ Allah akan diterima sebagai ibadah yang mulia. Baik puasa sunnah, apalagi puasa wajib, merupakan ibadah yang dicintai Allah Swt.. Bila demikian halnya, dengan sendirinya, tanpa niat seperti itu kita akan dipertemukan dengan jodoh yang terbaik. Allah Swt. telah berjanji:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ .

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (an-Nûr: 26)

Seorang pegawai yang bekerja dengan baik, dengan sendirinya akan mendapatkan gaji yang layak berdasarkan peraturan lembaga. Tapi seorang pegawai tidak akan bisa bekerja dengan baik, apabila dia terlalu sibuk memikirkan gaji yang akan diterima. Boleh jadi bapak direktur kurang menyenangi pegawai yang bekerja dengan baik semata-mata karena gaji. Boleh jadi juga, bapak direktur amat senang bila memiliki pegawai yang nampak tidak senang uang, meskipun itu sekedar di permukaan saja…

Allah Maha Mengetahui, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, dan seterusnya dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Hendaknya kita niatkan semua amal kebajikan kita, termasuk puasa, semata-mata untuk mencapai ridha-Nya. Semua yang lain-lain itu akan datang dengan sendirinya. Bahkan termasuk doa, itu pun sekedar menjalankan perintah. Kita berdoa karena berdoa itu diperintahkan. Berdoa itu sendiri mendatangkan pahala, karena ia merupakan salah satu ibadah. Apakah doa itu terkabul atau tidak, adalah kebijakan mutlak Allah Swt..

6.      Berniat Puasa untuk Memperoleh Kesaktian

Terdapat banyak kasus, puasa digunakan sebagai sarana untuk memperoleh kesaktian secara fisik, seperti: tidak mempan senjata tajam, anti api, pukulan jarak jauh, dan lain-lain. Untuk sebagian lapisan masyarakat tertentu, khususnya anak-anak muda, kesaktian seperti itu mempunyai daya tarik yang luar biasa.

Untuk mempromosikan kemampuan aneh seperti itu, biasanya disertai keterangan spesial, bahwa kemampuan-kemampuan tersebut berasal dari Allah Swt. yang mengirimkan malaikat atau jin muslim. Secara tidak langsung, keterangan itu memberikan pengertian bahwa orang yang telah mencapai kemampuan seperti itu telah mencapai derajat kekasih atau wali Allah. Karena Allah mencintai orang itu, sampai-sampai Allah mengirimkan malaikat untuk mengabdi padanya. Subhânallâh, Maha Suci Allah…

Bila kita perhatikan, keterangan seperti itu benar-benar menyesatkan orang-orang awam. Justru praktik-praktik yang dilakukan untuk mencapai kesaktian semacam itu setidaknya telah melanggar beberapa ajaran Islam sekaligus. Pertama, niat puasa yang seharusnya hanya untuk Allah, secara halus sebenarnya telah dibelokkan untuk mendapatkan kesaktian. Dia meninggalkan syahwat, makan dan minum itu bukanlah untuk mencapai keridhaan Allah, namun untuk mendapatkan kesaktian.

Kedua, darimana kita bisa memastikan bahwa kesaktian itu merupakan bantuan dari malaikat atau jin muslim. Malah kita menemui fakta, orang-orang sakti itu sebenarnya mendapatkan bantuan dari jin-jin yang jahat. Dengan mudah hal ini bisa kita buktikan dengan metode ruqyah yang terkenal itu. Alhamdulillah, banyak orang Islam yang akhirnya taubat dengan bantuan para peruqyah.

Ketiga,  di mata seorang mujahid Islam, kesaktian semacam itu justru menunjukkan ketakutan seorang muslim untuk berkorban membela keyakinannya. Tanpa kesaktian itu, amat kecil kemungkinan dia berani maju ke medan laga, mempertaruhkan keselamatan raga dan jiwanya. Semua orang takut mati, tapi orang yang menggunakan kesaktian seperti itu akan kelihatan sebagai orang yang paling takut mati.

Keempat, orang yang memiliki kemampuan seperti itu diam-diam selalu menanti kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya di depan orang lain. Dari sinilah muncul sifat percaya diri yang semu. Ia percaya diri itu sebenarnya bukan berangkat dari ketaatan dan kedekatannya kepada Allah, tapi berasal dari kesaktian yang amat dibanggakannya.

Setidaknya itulah sebagian dari beberapa jebakan atau perangkap setan, yang dalam bahasa al-Qur’an disebut dengan langkah-langkah setan, di mana kita dilarang mengikutinya. Allah Swt. berpesan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ .

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah: 208)

Bila kesaktian seperti itu memang positif, tentulah Rasulullah Saw. telah mengajarkannya kepada para shahabat. Dengan demikian tidak perlu ada shahabat yang mati syahid, apalagi pribadi Rasulullah Saw. yang terluka parah dalam perang Uhud.

7.      Berniat Puasa untuk Memperkuat Stamina

Seperti yang kita rasakan ketika berpuasa, tubuh menjadi lemah. Karena itu, boleh jadi di antara kita menjadikan puasa sebagai kesempatan untuk memperkuat stamina. Lalu kita beranggapan bahwa semakin lama berpuasa, maka semakin baik pula bagi tubuh kita, karena hal itu menunjukkan kekuatan stamina kita.

Sebenarnyalah hal ini tidak dibenarkan dalam agama Islam. Puasa bukan untuk memperkuat stamina kesehatan. Malah ada sebuah riwayat, bahwa Rasulullah Saw. melarang seorang shahabat yang berpuasa dengan efek melemahkan tubuh.

Adalah seorang shahabat bernama ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Ia amat gemar berpuasa setiap hari. Karena puasa itu membuatnya lemah, Rasulullah Saw. melarangnya melakukan puasa seperti itu. Marilah kita simak riwayat berikut ini:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ لِى النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّكَ لَتَصُومُ الدَّهْرَ ، وَتَقُومُ اللَّيْلَ . فَقُلْتُ : نَعَمْ . قَالَ : إِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ هَجَمَتْ لَهُ الْعَيْنُ وَنَفِهَتْ لَهُ النَّفْسُ ، لاَ صَامَ مَنْ صَامَ الدَّهْرَ ، صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ . قُلْتُ : فَإِنِّى أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ . قَالَ : فَصُمْ صَوْمَ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا ، وَلاَ يَفِرُّ إِذَا لاَقَى .

Dari ‘Abdullâh bin ‘Amr bin ‘Ash t ia berkata: Nabi Muhammad Saw. bersabda padaku, “Apakah benar engkau berpuasa sepanjang masa dan senantiasa melakukan ibadah sepanjang malam (qiyamul lail)?” Aku menjawab, “Benar.” Beliau bersabda, “Bila engkau melakukan itu, maka mata menjadi lelah, dan badan menjadi lemah. Tidak ada puasa bagi orang yang puasa sepanjang masa. Puasa tiga hari (di setiap bulan) itu sama dengan puasa sepanjang masa.” Aku berkata, “Aku mampu melakukan yang lebih dari itu.” Beliau bersabda, “Bila demikian, puasalah seperti puasa Abu Daud u. Ia puasa sehari dan berbuka sehari (selang-seling). Dia ia tidak lari dari medan perang.” (HR. Bukhari)

Tags:

0 thoughts on “Beberapa Kesalahan dalam Berniat Puasa

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...