SHOPPING CART

close

Pilih Mana: Smart Band Huawei atau Xiaomi? Ini Jawabannya!

Saya memang termasuk orang yang kolot. Orang yang cara berpikir dan berperilakunya sangat kuno. Namun pelan-pelan, biasaya karena terdesak oleh kebutuhan, saya pun bisa menyesuaikan diri.

Dulu hape. Saya adalah orang yang terakhir pakai smartphone di kantor. Orang-orang sudah pakai semua. Bahkan orang yang generasinya di atas saya, sudah pakai semua. Barulah saya pun terpaksa pakai. Maksudnya beli.

Hal itu karena saya orang yang merasa enggan meninggalkan kebiasaan lama yang sudah terasa nyaman. Buat apa mengeluarkan dana yang bagi saya lumayan banyak. Toh barang yang lama masih bisa berfungsi dengan baik.

Mungkin ini pengaruh didikan kedua orangtua saya. Yang sangat ketat dalam masalah keuangan. Sisa belanja harus ditabung. Untuk investasi dan tabungan hari tua. Atau untuk anak cucu di masa depan.

Beli tivi hanya sekali. Dipakai sampai puluhan tahun. Begitu pula tape recorder. Dipakai juga sampai puluhan tahun.

Tapi, yah. Kita sekarang hidup di zaman teknologi demikian pesat berkembang. Barang-barang yang masih bagus, harus ditinggalkan. Dengan alasan sudah dianggap kuno. Padahal barang itu baru berusia dua tiga tahun.

Baca Juga:

Inilah Sepeda Motor Yamaha V75 Keluarga Kami

**

Satu Hape untuk Seumur Hidup

Saya masih ingat, misalnya dulu pertama kali beli hape tahun 2000-an. Merknya Siemens. Bagian yang pertama kali saya perhatikan adalah kalender. Bukan apa-apa. Saya cek kalendernya tersedia sampai tahun 2020. Maka saya sangat senang. Saya berniat untuk memakai hape itu minimal sampai tahun 2020, barulah ganti hape yang baru. Atau bahkan untuk selamanya. Seumur hidup.

Namun apa yang terjadi. Belum lagi setahun, saya merasa sangat perlu untuk ganti hape. Bayangkan, Saudara-saudara! Niatnya mau pakai 20 tahun. Eh, belum setahun ternyata sudah ganti yang baru.

Dan demikianlah. Dari dua puluh tahun yang saya rencanakan pakai satu hape. Nyatanya jadi puluhan hape. Dengan perkembangan teknologi yang luar biasa. Tak terbayangkan akan jadi seperti sekarang ini.

Aduh mohon maaf. Rencana mau basa-basi sedikit, malah jadi keterusan.

Baca Juga:

Anda Mau Beli Sepeda Motor Laki?? Silakan Dipikir Lagi!!

**

Mengenal Smart Watch

Baiklah. Kali ini saya hanya ingin mengabadikan salah satu moment penting dalam hidup saya. Berkaitan dengan kebutuhan saya kepada teknologi, yaitu: smart band.

Awalnya saya sedang dalam perjalanan luar kota bersama rombongan Pusdiklat UMM. Waktu itu ke Kota Bandung. Mas Nafik, Sekretaris Pusdiklat bercerita tentang pentingnya smart watch untuk mengatasi masalah kelebihan berat badan. Itulah hasil pengalaman beliau. Maka secara instan saya pun menyatakan nanti mau beli smart watch kalau sudah balik ke Malang.

Dan jadilah setelah tiba di Malang saya browsing harga dan model smart watch. Juga tanya teman-teman di Fakultas tentang jenis smart watch yang mereka pakai. Maka pilihan saya pun jatuh pada Samsung. Yang kebetulan ada counter smart watch samsung di dekat sekolah anak saya yang nomor dua. Di mana tiap hari saya lewat depan toko itu untuk mengantar dan menjemput anak sekolah.

Baca Juga:

Hape Apa Yang Paling Bagus? Sudah Pasti Ini Jawabannya!

**

Alasan Tidak Jadi Beli Smart Watch

Sebenarnya saya cukup terpesona dengan cara penyampaikan informasi yang dipresentasikan oleh Mas Ilham. Marketer smart watch samsung di Jalan Tlogomas. Saya sudah sangat mantap. Hanya saja ketika saya pulang dan ketemu istri, biasalah, hak veto istri membatalkan impian saya itu. Kemahalan katanya.

Saya yakinkan istri beberapa kali, rupanya tidak membuahkan hasil. Malah saya sendiri yang akhirnya terpengaruh. Karena setelah itu saya cek berbagai opini orang-orang yang pernah pakai smart watch. Ada beberapa hal yang membuat saya memikirkan ulang keinginan untuk pakai smart watch.

Pertama, batere hanya bisa bertahan maksimal tiga hari. Jadi harus rajin cas batere. Ini bisa nambahi pikiran dan pekerjaan. Pengalaman orang-orang yang pernah pakai, akhirnya mereka punya alasan untuk meninggalkan smart watch sama sekali. Disimpan di almari aja. Karena malas cas batere, yang usianya terus berkurang. Dari tiga hari, lama-lama jadi dua hari. Lalu jadi tiap hari. Ribet.

Kedua, pakainya kurang nyaman. Karena ngganjel di tangan. Hal ini juga sudah saya alami sendiri. Saya pakai jam tangan itu tidak bisa lama. Keluar rumah saya pakai. Sampai rumah, saya buru-buru melepasnya. Karena berkeringat dan mengganggu fleksibilitas pergelangan tangan.

Ketiga, harga tentu saja. Maunya saya beli smart watch yang sudah jelas mereknya. Tapi jadi jelas juga harganya: mahal. Itu kalau beli satu. Kalau beli dua, maksudnya satu buat saya dan satu lagi buat istri. Tentu harganya jadi sangat mahal.

Berdasarkan tiga pertimbangan di atas, maka impian saya untuk memiliki smart watch itu pun kandas. Dengan telak dan final.

Baca Juga:

Perjalanan Panjang!! Mendapatkan Sepeda Motor Lanang!!

**

Tiga Alasan Beli Smart Band

Namun di tengah kebuntuan itu, justru saya memperoleh solusi yang benar-benar cespleng, yaitu: smart band. Wah ini sangat menarik. Karena beberapa alasan yang berkebalikan dengan smart watch:

Pertama, daya tahan batere yang sangat lama. Dengan pemakaian normal, bisa bertahan sampai dua minggu. Ini sungguh luar biasa.

Kedua, nyaman dipakai dalam waktu yang lama. Karena bentuknya yang relatif lebih tipis. Sehingga tidak mengganggu gerak pergelangan tangan.

Ketiga, harganya murah. Ini yang paling penting. Di bawah satu juta, bahkan ada yang hanya beberapa ratus ribu rupiah. Menarik, sangat menarik.

smart-band

Baca Juga:

Share Pengalaman!! Laptop Yang Pernah Saya Pakai!!

**

Huawei Smart Band 8

Maka tidak terlalu lama. Pada tanggal 11 Desember 2023. Setelah menimbang semua pilihan yang ada, saya pun jatuh hati pada Huawei Smart Band 8. Dan tanpa meminta persetujuan istri, saya meminta anak saya yang pertama untuk membelinya secara online.

Selama menunggu datangnya smart band itu, saya mengajak keluarga berekreasi ke Kota Blitar. Sowan ke makam Bung Karno. Lalu beristirahat di Hotel Tugu. Sorenya jamaah shalat di Masjid Ar-Rahman yang mirip Masjid Nabawi itu. Paginya ke Kampung Coklat, dan pulang.

Sampai pada hari Senin datanglah smart band yang saya tunggu-tunggu tersebut. Dan selama beberapa hari saya pun belajar bagaimana mengoperasikan smart band, terutama berkaitan dengan menu kesehatan. Tapi sebenarnya waktu saya banyak terbuang untuk menggonta-ganti antar muka smart band, hehe…

Mengapa saya pilih Smart Band 8 Huawei? Pertama, karena harga relatif murah.

Kedua, tampilan pas buat saya. Tidak kotak, tidak juga oval. Tapi persegi panjang. Sebenarnya saya paling suka yang bundar. Tapi tidak ada smart band yang bundar. Adanya yang memanjang. Kalau bundar, adanya smart watch. Dan saya tidak suka smart watch dengan beberapa alasan sebelumnya.

Ketiga, mereknya Huawei. Jadi memang saya suka merek ini. Di mata saya, merek Huawei sangat cantik. Baik hape, laptop, maupun smart band. Pokoknya saya merasa nyaman dan percaya dengan semua produk Huawei.

Baca Juga:

Printer Paling Pas untuk Kebutuhan Keluarga!! BROTHER!!

**

Xiaomi Smart Band 8

Melihat saya memakai smart band, istri saya nampaknya juga pingin punya. Maka saya minta anak untuk memesan smart band serupa, hanya beda warna. Punya saya warna hitam, untuk istri mau saya pesankan warna putih. Namun ternyata istri menolak.

Sampai dua atau minggu kemudian, ternyata istri mulai tergoda juga untuk memakai smart band. Mungkin dia melihat temannya pakai dan bagus, sehingga dia pun jadi pingin.

Saya tawarkan model yang lain. Kalau Huawei Smart Band berbentuk persegi panjang. Sementara Xiaomi Smart Band berbentuk oval. Sepertinya lebih cocok dengan ukuran lengan istri yang relatif kecil.

Maka tanggal 30 Desember 2023. Sekalian sebagai hadiah tahun baru, saya minta anak sulung untuk memesan secara online.

Dan ketika smart band itu hadir, istri pun tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Apalagi ketika kami menemukan fitur yang bisa menampilkan foto pribadi pada antar muka smart band.

Pertimbangan saya pilih Smart Band 8 Xiaomi:

Pertama, istri memang senang dengan bentuk dan warnanya. Pas di tangan perempuan yang biasanya mungil.

Kedua, sama dengan Huawei. Harga relatif terjangkau dengan kwalitas cukup bagus.

Ketiga, sudah sejak dulu kami cukup nyaman dan percaya dengan produk Xiaomi. Memang secara kwalitas masih lebih bagus Huawei, menurut saya. Tapi Xiaomi juga bagus.

Baca Juga:

Sebab-sebab Printer Cepat Rusak: Pengalaman Pribadi!!

**

Pengalaman Pakai Smart Band

Benar. Smart band sangat membantu kami untuk hidup lebih sehat. Bahwa ternyata badan terasa pegal, lemas dan tidak fit itu dikarenakan pola hidup yang tidak sehat. Malas jalan. Kurang gerak. Istirahat tidak teratur. Dan seterusnya.

Artinya, bukan semata karena makanan dan minuman saja. Boleh minum yang manis. Boleh makan yang enak. Selama diiringi gerak yang cukup dan olahraga alakadarnya, sebenarnya semua itu tidak masalah.

Karena itulah, sejak pakai smart band ini, saya jadi lebih senang dan bersemangat kapan saja ada kesempatan untuk jalan kaki. Dulu jalan kaki merupakan beban dan masalah. Bikin capek dan buang-buang waktu.

Sekarang, jalan kaki adalah kesempatan untuk menambah kebugaran untuk jangka pendek, dan kesehatan badan untuk jangka panjang.

**

Penutup

Jadi pilih mana, smart band huawei atau xiaomi? Jawabannya adalah: beli saja dua-duanya. Huawei untuk suami, xiaomi untuk istri. Sangat cocok, pas dan pantas. Sungguh…

Nah, itulah sedikit bagi pengalaman kami selama berinteraksi dengan smart band. Bahwa perlu kita memanfaatkan kemajuan teknologi untuk membantu kesehatan hidup. Dalam rangka menunjang semangat ibadah yang lebih baik dan produktif.

Semoga ada manfaatnya. Bila ada tambahan informasi, jangan sungkan menyampaikan pada kolom komentar, nggih…

Tags:

0 thoughts on “Pilih Mana: Smart Band Huawei atau Xiaomi? Ini Jawabannya!

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.