SHOPPING CART

close

Hadits Hasan Lighairih: Pengertian, Contoh dan Hakekatnya

Hadits Hasan itu ada dua, yaitu: Hasan Lidzatih dan Hasan Lighairih.

Hasan Lidzatih adalah hadits yang memang memenuhi hadis hasan dengan sendirinya.

Adapun hadits hasan lighairih adalah hadits yang hasan karena pertolongan hadits hasan yang lain.

***

Pengertian

Para ulama mendefinisikan hadits hasan lighairih ini dengan kalimat:

هو الضَّعيف إذا تعدَّدت طرقه ولم يكن سبب ضَعفه فسق الرَّاوي أو كذبه

“Hadits hasan lighairih yaitu hadits yang asalnya dha’if, namun sanadnya banyak, dan dha’ifnya bukan karena perawi yang fasiq atau kadzib.

Oleh karena itu, sebuah hadits hasan lighairih itu:

– asalnya adalah hadits dha’if

– memiliki sanad yang banyak

– dha’ifnya bukan karena ada perawi yang fasiq atau kadzib.

Perawi yang fasiq artinya perawi yang suka berbuat dosa. Baik dosa besar maupun dosa kecil.

Perawi yang kadzib artinya perawi yang suka berbohong.

***

Hadits Dha’if Karena Perawi

Sebuah hadits menjadi dha’if karena masalah perawi itu ada dua macam, yaitu masalah adil dan masalah dhabith.

Adil dalam ilmu hadits maknanya seorang perawi yang kepribadian dan perilakunya tidak bertentangan dengan syariat Islam. Atau istilahnya integritas. Berperilaku mulia.

Sedangkan dhabith itu tentang kemampun menghafal hadits atau mencatat dengan rapi. Sehingga ketika meriwayatkan sebuah hadits tidak terjadi kesalahan atau tercampur dengan hadits yang lain.

***

Dha’if Karena Perawi Tidak Adil: Tidak Bisa Dimaafkan

Seorang perawi dinyatakan tidak adil apabila:

– Terbukti berdusta tentang hadits.

– Dituduh telah berdusta tentang hadits.

– Biasa berkata dusta kepada orang lain.

– Diketahui berbuat dosa besar.

– Melakukan bid’ah yang menyebabkan kekafiran.

– Tidak dikenali jati dirinya.

Sebuah hadits yang dha’if karena hilang sifat adil ini selamanya menjadi hadits dha’if. Statusnya tidak bisa naik menjadi hasan lighairih, meskipun memiliki jalur periwayatan yang lain. Apabila sebab dha’ifnya sama-sama dikarenakan masalah adilnya perawi.

Namun adakalanya hadits seperti ini statusnya bisa naik, apabila hadits dha’if ini memiliki jalur yang banyak. Statusnya naik sedikit menjadi “hadits dha’if karena kurang dhabith”. Sehingga mendekati sifat hadits hasan. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar (Kitab Tadribur Rawi).

***

Dha’if Karena Perawi Tidak Dhabith: Bisa Dimaafkan

Seorang perawi disebut tidak dhabith apabila:

– Sering lupa.

– Sering keliru.

– Lemah hafalan.

– Hafalannya campur-baur.

– Kadang ragu-ragu.

Bila sebuah hadits diriwayatkan oleh orang yang tidak dhabit, namun adil, berdasarkan banyaknya jalur periwayatan oleh hadits yang semisal, maka bisa saling menguatkan.

Dalam hal ini, status hadits itu pun naik menjadi hasan lighairih.

***

Contoh Perawi Adil Namun Kurang Dhabith

Contoh seorang perawi yang adil namun kurang dhabith, adalah ‘Abdullah bin Lahi’ah.

Dia merupakan seorang qadhi atau hakim di Mesir.

Pada awalnya dia memiliki catatan hadits yang banyak. Namun kemudian kitab catatannya itu terbakar.

Sehingga dia pun menyampaikan hadits dari ingatannya saja.

Seringkali dia salah meriwayatkan hadits. Padahal kebanyakan hadits yang dia riwayatkan itu merupakan hadits yang shahih.

***

Contoh Hadits Hasan Lighairih

Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits sebagai berikut:

حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ قَال سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ بَنِي فَزَارَةَ تَزَوَّجَتْ عَلَى نَعْلَيْنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَضِيتِ مِنْ نَفْسِكِ وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَأَجَازَهُ

telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Ashim bin ‘Ubaidullah berkata; saya telah mendengar Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah dari Bapaknya bahwa ada seorang wanita dari bani Fazarah menikah dengan mahar berupa sepasang sandal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah kamu rela atas diri dan hartamu dengan dua sandal ini?” Dia menjawab; “Ya.” (‘Amir bin Rabi’ah) berkata; (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) membolehkannya.

Dalam sanad hadits itu ada seorang perawi bernama ‘Ashim bin ‘Ubaidullah. Ia adalah seorang perawi yang lemah (dha’if). Karena dia orang yang lemah hafalannya. Maka hadits ini merupakan hadits yang dha’if.

Namun hadits ini memiliki beberapa sanad yang lain. Sehingga menjadi hadits yang hasan lighairih.

***

Penutup

Demikian sedikit penjelasan mengenai hadits dha’if yang bisa naik statusnya menjadi hasan lighairih dan yang tidak bisa. Semoga ada manfaatnya untuk kita bersama.

Allahu a’lam.

__________________________

Sumber bacaan:

– Kitab-kitab musthalah hadits

– Blog: saaid.net

– Blog: alukah.net

– Kitab Mabahits fi Ulumil HaditsSyeikh Manna’ al-Qatthanrahimatullah.

Tags:

One thought on “Hadits Hasan Lighairih: Pengertian, Contoh dan Hakekatnya

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa PPUT (Bebas SPP & DPP)
Penerimaan Mahasiswa Baru

PENERIMAAN MAHASISWA BARU

Program Studi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyyah) FAI-UMM
(Diperpanjang Hingga 12 September 2022).

Tidak harus datang ke kampus. Daftar dan lengkapi persyaratan secara online saja.

Yuk buruan daftar: online.umm.ac.id

Info lengkapnya: pmb.umm.ac.id

Info lebih lanjut:
WA center PMB: 085215219000
IG: pmb_umm, hkiumm
Tiktok: pmb_umm, hkiumm

https://linkfly.to/pmbumm1964