SHOPPING CART

close

Hadits Marfu’: Pengertian, Contoh, Macam-macam dan Status

الْحَدِيْثُ الْمَرْفُوْعُ

Hadits Marfu’

_____

 

Sebagaimana kita pahami dalam Ulumul Hadits maupun Musthalah Hadits, bahwa berdasarkan kepada siapa sebuah perkataan itu disandarkan. Maka ada istilah Hadits Marfu’, Hadits Mauquf dan Hadits Maqthu’. Sebenarnya, Hadits Mafu’ inilah yang menjadi fokus utama Musthalah Hadits. Karena penisbahannya pada pribadi Nabi Muhammad Saw.

***

A. Pengertian Hadits Marfu’

Secara bahasa, marfu’ artinya: sesuatu yang diangkat.

Diangkat di sini merupakan tanda kemuliaan. Karena disandarkan kepada pribadi yang paling mulia, yaitu Nabi Muhammad Saw.

Adapun secara istilah, para ulama mendefinisikan hadits marfu’ sebagai berikut:

ما أضيف إلى النبي صلى الله عليه وسلم من قول أو فعل أو تقرير أو صفة

“Hadits marfu’ yaitu apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat.”

Berdasarkan definisi di atas, maka hadits marfu’ adalah semua informasi yang disandarkan kepada Rasulullah Saw.

  • Baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat.
  • Baik yang menyandarkan itu seorang shahabat atau generasi di bawahnya.
  • Dan hadits marfu’ ini bisa jadi sanadnya muttashil (bersambung) maupun munqathi’ (terputus).
  • Bisa shahih dan bisa dha’if.

Baca juga:  Hadits Munqathi’ : Pengertian, Contoh dan Statusnya

***

B. Contoh Hadits Marfu’

Berikut ini kami sampaikan contoh hadits marfu’:

Rasulullah Saw. bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ

وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan memperoleh balasan berdasarkan apa yang dia niatkan.

“Maka siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan ridha) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada (ridha) Allah dan Rasul-Nya.

“Dan siapa yang hijrahnya karena urusan duniawi yang ingin dicapainya, atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Baca pula:  Arbain Nawawiyah 1: Semua Amal Tergantung Niatnya

***

B. Macam-macam Hadits Marfu’

Berdasarkan definisi di atas pula, hadits marfu’ itu ada empat macam, yaitu:

  • Hadits marfu’ qauli (perkataan)
  • Hadits marfu’ fi’li (perbuatan)
  • Lalu hadits marfu’ taqriri (persetujuan)
  • Dan hadits marfu’ washwi (sifat)

Silakan baca pula: 

Macam-Macam Hadits Mauquf Yang Marfu’ Hukman

***

1. Hadits Marfu’ Qauli

Definisi Hadits Marfu’ Qauli (perkataan)

“Hadits marfu’ qauli yaitu: bila ada seorang shahabat atau tabi’in berkata: bahwa Rasulullah Saw. berkata demikian dan demikian.”

Contoh Hadits Marfu’ Qauli

:عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم

.مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah, dia berkata:

Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan hanya mengharap ridha Allah, maka seluruh dosanya yang telah lalu akan dihapus.” (HR. Imam Bukhari.)

Hadits di atas termasuk hadits marfu’ karena telah mencukupi dua unsur, yaitu:

  • seorang shahabat (Abu Hurairah) menisbahkan perkataan ini kepada Rasulullah Saw.
  • matan hadits berupa perkataan Rasulullah Saw.

***

2. Hadits Marfu’ Fi’li

Definisi Hadits Marfu’ Fi’li (perbuatan)

“Hadits marfu’ fi’li yaitu bila ada seorang shahabat maupun tabi’in berkata: bahwa Rasulullah Saw. berbuat demikian dan demikian.”

Contoh Hadits Marfu’ Fi’li

عَنْ أَبِى أُمَامَةَ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ فَمَضْمَضَ ثَلاَثاً وَاسْتَنْشَقَ ثَلاَثاً وَغَسَلَ وَجْهَهُ وَكَانَ يَمْسَحُ الْمَاقَيْنِ مِنَ الْعَيْنِ

Dari Abu Umamah, bahwa Nabi Muhammad Saw. berwudhu. Beliau berkumur tiga kali, beristinsyaq tiga kali, dan membasuh wajah. Lalu beliau mengusap kedua sudut mata.” (HR. Ahmad)

Hadits di atas termasuk hadits marfu’ fi’li, karena sudah memenuhi dua unsur:

  • seorang shahabat (Abu Umamah) menisbahkan perkataan ini kepada Rasulullah Saw.
  • matan hadits berupa perbuatan Rasulullah Saw.

***

3. Hadits Marfu’ Taqriri

Definisi Hadits Marfu’ Taqriri (persetujuan)

“Hadits marfu’ taqriri yaitu:  bila ada seorang shahabat maupun tabi’in berkata: bahwa telah terjadi demikian dan demikian di hadapan Rasulullah Saw.  dan beliau tidak melarangnya.”

Contoh Hadits Marfu’ Taqriri

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنَا لَمَّا رَجَعَ مِنَ الأَحْزَابِ: لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلاَّ فِى بَنِى قُرَيْظَةَ. فَأَدْرَكَ بَعْضُهُمُ الْعَصْرَ فِى الطَّرِيقِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لاَ نُصَلِّى حَتَّى نَأْتِيَهَا، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: بَلْ نُصَلِّى لَمْ يُرَدْ مِنَّا ذَلِكَ. فَذُكِرَ لِلنَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata:

Usai Perang Ahzab, Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Hendaknya tidak ada seorang pun shalat Ashar melainkan di Bani Quraidhah.”

Di tengah jalan, sebagian dari mereka mendapati waktu Ashr. Sebagian di antara mereka berkata, “Kami tidak shalat kecuali telah tiba di sana.”

Sebagian lagi berkata, “Kami akan shalat, karena beliau tidak bermaksud melarang kita shalat.”

Lalu hal itu disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw.. Ternyata beliau tidak mencela salah satu di antara mereka.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas termasuk hadits marfu’ taqriri, karena sudah memenuhi dua unsur:

  • seorang shahabat (Ibnu ‘Umar) menceritakan tentang tiadanya pengingkaran Rasulullah Saw. terhadap peristiwa.
  • matan hadits berupa tidak adanya pengingkaran dari Rasulullah Saw. ketika mengetahui adanya peristiwa tersebut.

***

4. Hadits marfu’ washfi

Definisi Hadits marfu’ washfi (sifat)

“Hadits marfu’ washfi yaitu bila ada seorang shahabat maupun tabi’in berkata: bahwa Rasulullah Saw. memiliki sifat demikian dan demikian. Baik sifat akhlak maupun sifat jasmani.

Contoh Hadits marfu’ washfi

قالت عائشة لما سئلت رضي الله عنها عن خلق النبي عليه الصلاة والسلام ، قالت: كان خلقه القرآن

Ketika ada seseorang bertanya kepada Siti ‘Aisyah tentang akhlak Nabi Muhammad Saw. Dia berkata: “Akhlak beliau adalah al-Qur’an.”

(HR. Muslim)

Jadi hadits di atas disampaikan oleh seorang shahabat, dan menceritakan tentang sifat akhlak Rasulullah Saw. Sehingga hadits itu termasuk hadits marfu’ washfi.

***

D. Status Hadits Marfu’

Hadits Marfu’ itu belum tentu shahih. Juga belum tentu dha’if. Jadi hadits marfu’ itu ada yang shahih dan ada yang dha’i.

Sebagaimana dijelaskan, bahwa istilah hadits marfu’ ini hanya menunjukkan kepada siapa sebuah riwayat disandarkan.

Bila sebuah riwayat disandarkan kepada Allah Swt., maka riwayat itu disebut sebagai hadits qudsi.

Bila sebuah riwayat disandarkan kepada Rasulullah Saw., maka riwayat itu disebut sebagai hadits marfu’.

Jika sebuah riwayat disandarkan kepada seorang shahabat, maka riwayat itu disebut sebagai hadits mauquf.

Dan jika sebuah riwayat disandarkan kepada seorang tabi’in, maka riwayat itu disebut sebagai hadits maqthu’.

Baca juga:  Hadits Qudsi, Hadits Marfu’, Hadits Mauquf, Hadits Maqthu’

***

Penutup

Inilah beberapa pembahasan mengenai Hadits Marfu’ yang bisa kami sampaikan. Semoga ada manfaatnya.

Terima kasih.

Allahu a’lam.

________________

Bacaan utama:

Kitab Taisir Musthalah al-HaditsSyeikh Mahmud ath-Thahhanrahimahullah.

Artikel al-Hadits al-Marfu’ wa al-Maqthu’ wa al-Mauquf ma’a at-Tamtsil.  islamweb.net

Tags:

4 thoughts on “Hadits Marfu’: Pengertian, Contoh, Macam-macam dan Status

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.