SHOPPING CART

close
Kemuhammadiyahan

Usulan Perubahan Pokok Manhaj Tarjih

Berikut ini kami sampaikan rekap Usulan Perubahan Pokok Manhaj Tarjih Muhammadiyah No. 1-16:

1. Dasar utama Majelis Tarjih dalam beristidlal adalah al-Qur’an dan as-Sunnah.

Selengkapnya: Pokok Manhaj Tarjih No. 1.

2. Majelis Tarjih membuat keputusan dengan jalan musyawarah. Majelis Tarjih menyelesaikan masalah melalui ijtihad jama’i. Pendapat perorangan bukan merupakan keputusan majelis.

Selengkapnya: Pokok Manhaj Tarjih No. 2.

3. Majelis Tarjih tidak mengikatkan diri pada suatu mazhab. Pendapat-pendapat mazhab dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan hukum, sepanjang sesuai dengan jiwa al-Qur’an dan as-Sunnah.

Selengkapnya: Pokok Manhaj Tarjih No. 3.

4. Majelis Tarjih memiliki prinsip terbuka dan toleran. Setiap keputusan diambil berdasarkan dalil yang dipandang paling kuat, namun tidak ada anggapan bahwa putusan Majelis Tarjih yang paling benar. Koreksi dari siapapun akan diterima sepanjang dapat menunjukkan dalil yang lebih kuat. Dengan demikian, Majelis Tarjih dapat mengubah keputusan yang telah ditetapkan.

Selengkapnya: Pokok Manhaj Tarjih No. 4.

5. Dalam masalah pokok-pokok aqidah, Majelis Tarjih hanya menerima dalil-dalil yang bersifat mutawatir. Adapun dalam masalah cabang-cabang aqidah, dalil-dalil yang bersifat ahad bisa diterima.

Selengkapnya: Pokok Manhaj Tarjih No. 5.

6. Majelis Tarjih menerima ijma’ sebagai dasar suatu keputusan setelah memperoleh referensi yang memadai.

Selengkapnya: Pokok Manhaj Tarjih No. 6.

7. Dalam menghadapi dalil-dalil yang nampak saling bertentangan (ta’arudh adillah), Majelis Tarjih menggunakan salah satu dari beberapa metode ini secara berurutan, yaitu: metode Jam’u wa Taufiq, metode Nasikh-Mansukh, metode Tarjih, dan metode Tawaqquf.

Selengkapnya: Pokok Manhaj Tarjih No. 7.

8. Untuk menghindari terjadinya fitnah dan mafsadah, Majelis Tarjih menggunakan metode Sadd Dzari’ah sebagai dalil.

Selengkapnya: Pokok Manhaj Tarjih No. 8.

9. Sepanjang sesuai dengan maqashid syari’ah, Majelis Tarjih dapat mempergunakan metode ‘illah (ta’lil ahkam) untuk memahami kandungan dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah.

Selengkapnya: Pokok Manhaj Tarjih No. 9.

10. Untuk menetapkan suatu hukum, Majelis Tarjih menggunakan dalil-dalil yang ada secara komprehensif, utuh dan bulat.

Selengkapnya: Pokok Manhaj Tarjih No. 10.

11. Secara umum dalil-dalil dalam al-Qur’an dapat ditakhshis dengan hadits ahad. Khusus masalah aqidah yang bersifat pokok hanya bisa ditakhshis dengan hadits mutawatir.

Selengkapnya: Pokok Manhaj Tarjih No. 11.

12. Dalam membuat putusan masalah, Majelis Tarjih mengedepankan prinsip Taysir.

Selengkapnya: Pokok Manhaj Tarjih No. 12.

13. Untuk memahami nash al-Qur’an dan as-Sunnah dalam bidang ibadah, Majelis Tarjih dapat menerima penggunaan akal dan logika, sepanjang diketahui latar belakang dan tujuan nash tersebut.

Selengkapnya: Pokok Manhaj Tarjih No. 13.

14. Demi maslahat umat, Majelis Tarjih memandang sangat diperlukannya akal untuk memahami masalah yang bersifat duniawi.

Selengkapnya: Pokok Manhaj Tarjih No. 14.

15. Untuk memahami nash yang bermakna musytarak, Majelis Tarjih dapat menerima pemahaman sahabat.

Selengkapnya: Pokok Manhaj Tarjih No. 15.

16. Untuk memahami nash di bidang aqidah, Majelis Tarjih mendahulukan makna zahir daripada takwil.

Selengkapnya: Pokok Manhaj Tarjih No. 16.

Demikian. Allahu a’lam.

Tags:

0 thoughts on “Usulan Perubahan Pokok Manhaj Tarjih

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.