SHOPPING CART

close
Pengantar Studi Hadits

Hadits Mursal Shahabi

Pendahuluan

Sebagaimana kita pahami, hadits Mursal merupakan salah satu jenis hadits dha’if. Karena sanadnya terputus. Yaitu dengan tidak disebutkannya nama seorang shahabat oleh perawi pada tingkat tabi’in.

Jadi ciri utama hadits Mursal itu adalah, seorang tabi’in langsung berkata, bahwa Rasulullah Saw. bersabda. Padahal seorang tabi’in itu tidak pernah bertemu Rasulullah Saw.

Tabi’in adalah murid shahabat. Shahabat adalah murid Rasulullah Saw.

***

Pengertian

Hadits Mursal Shahabi merupakan salah satu hadits yang terputus sanadnya, namun terputusnya itu terjadi pada tingkat shahabat yang dipastikan tidak mendengar hadits itu secara langsung dari Rasulullah Saw.

Pada umumnya sebuah hadits disebut sebagai Mursal Shahabi apabila diriwayatkan oleh seorang shahabat generasi kedua. Atau istilahnya adalah Shighar Shahabah. Seperti ‘Abdullah bin ‘Abbas, alias Ibnu ‘Abbas radhiyallah ‘anhu.

***

Contoh

Misalnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibunda kita, Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang wahyu yang pertama kali diterima oleh Nabi Muhammad Saw. Padahal Sayyidah ‘Aisyah itu lahir empat tahun setelah wahyu pertama tersebut diturunkan.

Sehingga di sini terbuka kemungkinan, bahwa Sayyidah ‘Aisyah mendengar hadits itu tidak langsung dari Rasulullah Saw. Tapi dari shahabat yang lain.

***

Status Mursal Shahabi

Mengenai status hadits Mursal Shahabi ini, para ulama berbeda pendapat sebagai berikut:

Pendapat Pertama

Hadits Mursal Shahabi termasuk hadits yang shahih. Karena seluruh shahabat dinilai sebagai perawi yang adil.

Hal itu berdasarkan keterangan beberapa hadits yang memuji-muji tentang keistimewaan para shahabat secara umum.

Ditambah berbagai keunggulan para shahabat secara umum sebagai pembela dakwah Islam bersama Rasulullah Saw. Sebagai pribadi-pribadi yang memperoleh tempaan secara langsung dengan tangan beliau sendiri.

Pendapat Kedua

Sementara itu ada juga yang berpendapat bahwa Mursal Shahabi termasuk hadits dha’if. Sama dengan hadits mursal pada umumnya.

Pendapat ini secara praktis tidak diambil oleh para ulama besar.

Dalam Kitab Shahih Bukhari maupun Kitab Shahih Muslim banyak terdapat hadits Mursal Shahabi ini. Artinya kedua imam besar ini menilai bahwa hadits Mursal Shahabi termasuk hadits yang shahih.

***

Sunni dan Syi’ah

Jadi jelas secara teori, hadits Mursal Shahabi ini merupakan salah satu bentuk hadits yang dha’if. Karena sanadnya terputus pada tingkatan Shighar Shahabah, sehingga dia masuk dalam kategori hadits Mursal.

Namun kemudian hadits jenis ini memperoleh pengecualian dengan istilah: Mursal Shahabi. Lalu dikategorikan sebagai hadits shahih. Dengan alasan yang cukup masuk akal, yaitu: pengkhususan akan keistimewaan para shahabat dibandingkan dengan para perawi pada tingkatan setelahnya.

Pada titik ini biasanya pembahasan materi Hadits Mursal Shahabi dalam perkuliahan menjadi panas dan sengit, khususnya bila ada mahasiswa yang agak ke-syi’ah-syi’ah-an. Dampak positifnya, mahasiswa yang semula tidak nyambung dengan materi ini jadi penasaran akan duduk perkaranya.

Tapi kalau sunni semua, biasanya kuliah ya tetap adem-ayem, yang ngantuk pun tetap ngantuk, hehe…

Penutup

Demikian sedikit penjelasan mengenai pengertian dan status hadits Mursal Shahabi. Semoga ada manfaatnya bagi kita bersama.

Allahu a’lam.

Sumber bacaan:

– Kitab Mabahits fi ‘Ulumil Hadits, oleh Syeikh Manna’ al-Qatthan, rahimahullah.

***

Tags:

0 thoughts on “Hadits Mursal Shahabi

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...