SHOPPING CART

close

Hadits Mursal Shahabi: Pengertian, Contoh, dan Statusnya

Pendahuluan

Sebagaimana kita pahami, hadits Mursal merupakan salah satu jenis hadits dha’if. Karena sanadnya terputus. Yaitu dengan tidak disebutkannya nama seorang shahabat oleh perawi pada tingkat tabi’in.

Jadi ciri utama hadits Mursal itu adalah, seorang tabi’in langsung berkata, bahwa Rasulullah Saw. bersabda. Padahal seorang tabi’in itu tidak pernah bertemu Rasulullah Saw.

Tabi’in adalah murid shahabat. Shahabat adalah murid Rasulullah Saw.

***

Pengertian

Hadits Mursal Shahabi merupakan salah satu hadits yang terputus sanadnya, namun terputusnya itu terjadi pada tingkat shahabat yang dipastikan tidak mendengar hadits itu secara langsung dari Rasulullah Saw.

Para ulama mendefinisikan hadits mursal shahabi dengan cukup panjang sebagai berikut:

ما أخبر به الصحابي عن قول النبي صلى الله عليه وسلم أو فعله، ما لم يسمعه منه، أو لم يشاهده مباشرة، إما لصغر سنه، أو لتأخر إسلامه، أو لغيابه من مجلسه، وإنما رواه سماعا من غيره من الصحابة، دون ذكر ذلك الصحابي في السند.

Hadits yang disampaikan oleh seorang shahabat tentang perkataan atau perbuatan Nabi Muhammad Saw. Di mana shahabat itu tidak mendengarnya secara langsung dari beliau. Tidak pula melihatnya sendiri. Karena dia masih kecil, belum masuk Islam, atau pas tidak bersama beliau. Jadi shahabat itu memperoleh hadits tersebut dari shahabat yang lain. Tapi dia tidak menyebutkan nama shahabat yang lain itu dalam sanad.

Sebagaimana disebutkan dalam definisi di atas, pada umumnya sebuah hadits disebut sebagai Mursal Shahabi apabila diriwayatkan oleh seorang shahabat generasi kedua. Atau istilahnya adalah Shighar Shahabah. Seperti ‘Abdullah bin ‘Abbas, alias Ibnu ‘Abbas radhiyallah ‘anhu.

***

Contoh Hadits Mursal Shahabi

Misalnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibunda kita, Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang wahyu yang pertama kali diterima oleh Nabi Muhammad Saw. Padahal Sayyidah ‘Aisyah itu lahir empat tahun setelah wahyu pertama tersebut diturunkan.

Sehingga di sini terbuka kemungkinan, bahwa Sayyidah ‘Aisyah mendengar hadits itu tidak langsung dari Rasulullah Saw. Tapi dari shahabat yang lain.

Berikut ini terjemah hadits dimaksud:

Sanad:

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Uqail dari Ibnu Syihab -lewat jalur periwayatan lain-Dan Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’marAz Zuhri mengatakan, telah menceritakan kepadaku Urwah dari Aisyah radliallahu ‘anha,

Matan:

Aisyah menceritakan:

Wahyu pertama-tama yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam adalah berupa mimpi yang baik ketika tidur.

Beliau tidak bermimpi selain datang seperti fajar subuh.

Adalah beliau selalu pergi ke goa Hira’ untuk bertahannus di sana, yaitu beribadah beberapa malam. Beliau untuk hal tersebut berbekal, kemudian kembali kepada Khadijah agar dia dapat membekali beliau untuk keperluan seperti itu. Sampai akhirnya beliau dikejutkan dengan al-haq ketika beliau sedang berada di dalam goa Hira`. Malaikat datang kepada beliau dan berujar, “Bacalah!”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Aku menjawab: “Saya tidak bisa membaca!”

Lalu dia mendekapku dan menutupiku hingga aku kepayahan. Kemudian melepasku dan berkata: Bacalah!

Aku menjawab: Saya tidak bisa membaca!

Ia mendekapku lagi dan menutupiku untuk kedua kalinya hingga aku kepayahan, kemudian melepasku lagi seraya mengatakan: Bacalah!

Saya menjawab: Saya tidak bisa membaca.

Maka ia mendekapku dan menutupiku untuk kali ketiganya hingga aku kepayahan, kemudian melepasku lagi dan mengatakan: IQRO’ BISMI ROBBIKAL LADZII KHOLAQO sampai ayat ‘ALLAMAL INSAANA MAA LAM YA’LAM.

Pulang ke rumah

Kemudian beliau pulang dengan menggigil hingga menemui Khadijah dan berkata: “Selimutilah aku, selimutilah aku!”

Maka keluarganya pun menyelimuti beliau, sampai rasa ketakutan beliau menghilang.

Kemudian beliau berkata: “Wahai Khadijah, apa yang terjadi pada diriku?”

Beliau menceritakan peristiwa tersebut kepadanya dan berkata: “Aku mengkhawatirkan diriku.”

Maka Khadijah menjawab: “Sekali-kali tidak. Bergembiralah. Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sebab engkau suka menyambung silaturahim, berkata jujur, menghilangkan kesusahan serta menjamu tamu, serta membela kebenaran!”

Waraqah bin Naufal

Maka Khadijah pergi bersama beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushshay, anak paman Khadijah, atau saudara ayahnya. Ia adalah semasa jahiliyah beragama nashrani dan suka menulis kitab suci arabi. Ia menulis injil arabi dengan kehendak Allah, dan dia seorang kakek yang cukup umur dan buta.

Maka Khadijah berkata kepadanya: “Wahai anak pamanku, dengarlah (apa yang dituturkan) anak saudaramu.”

Waraqah bertanya: “Hai anak saudaraku, apa yang telah kau lihat?”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan apa yang telah beliau lihat.

Spontan Waraqah mengatakan: Ini adalah Namus yang pernah diturunkan kepada Musa. Duhai sekiranya ketika itu aku masih gagah perkasa dan masih hidup, ketika kaummu mengusirmu!”

“Adakah kaumku akan mengusirku?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Waraqah menjawab: Iya, tidak ada seorang pun yang membawa seperti yang kau bawa, melainkan ia akan dimusuhi. Jikalau aku temui hari-harimu, niscaya aku membelamu dengan gigih.

Kemudian tak berselang lama Waraqah meninggal dan wahyu berhenti beberapa lama hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedih.

Berita yang sampai kepada kami, kesedihan yang beliau alami sedemikian rupa. Hingga beliau beberapa kali ingin bunuh diri dengan cara menerjukan diri dari puncak gunung.

Setiap kali beliau naik puncak gunung untuk menerjunkan dirinya, Jibril menampakkan diri dan mengatakan: Hai Muhammad, sesungguhnya engkau betul-betul Rasulullah!

Nasihat ini menjadikan hatinya lega dan jiwanya tenang dan pulang.

Namun jika sekian lama wahyu tidak turun, jiwanya kembali terguncang. Dan setiap kali ia naik puncak gunung untuk bunuh diri, Jibril menampakkan diri dan menasehati semisalnya.

Ibnu Abbas mengatakan tentang ayat: ‘Faaliqul ishbah’ yaitu cahaya matahari ketika siang, dan cahaya bulan ketika malam.

(HR. Imam Bukhari)

Silakan baca pula:

Hadits Mursal: Pengertian, Contoh dan Statusnya

***

Status Mursal Shahabi

Mengenai status hadits Mursal Shahabi ini, para ulama berbeda pendapat sebagai berikut:

Pendapat Pertama

Hadits Mursal Shahabi termasuk hadits yang shahih. Karena seluruh shahabat dinilai sebagai perawi yang adil.

Hal itu berdasarkan keterangan beberapa hadits yang memuji-muji tentang keistimewaan para shahabat secara umum.

Ditambah berbagai keunggulan para shahabat secara umum sebagai pembela dakwah Islam bersama Rasulullah Saw. Sebagai pribadi-pribadi yang memperoleh tempaan secara langsung dengan tangan beliau sendiri.

Pendapat Kedua

Sementara itu ada juga yang berpendapat bahwa Mursal Shahabi termasuk hadits dha’if. Sama dengan hadits mursal pada umumnya.

Pendapat ini secara praktis tidak diambil oleh para ulama besar.

Dalam Kitab Shahih Bukhari maupun Kitab Shahih Muslim banyak terdapat hadits Mursal Shahabi ini. Artinya kedua imam besar ini menilai bahwa hadits Mursal Shahabi termasuk hadits yang shahih.

***

Sunni dan Syi’ah

Jadi jelas secara teori, hadits Mursal Shahabi ini merupakan salah satu bentuk hadits yang dha’if. Karena sanadnya terputus pada tingkatan Shighar Shahabah, sehingga dia masuk dalam kategori hadits Mursal.

Namun kemudian hadits jenis ini memperoleh pengecualian dengan istilah: Mursal Shahabi. Lalu dikategorikan sebagai hadits shahih. Dengan alasan yang cukup masuk akal, yaitu: pengkhususan akan keistimewaan para shahabat dibandingkan dengan para perawi pada tingkatan setelahnya.

Pada titik ini biasanya pembahasan materi Hadits Mursal Shahabi dalam perkuliahan menjadi panas dan sengit, khususnya bila ada mahasiswa yang agak ke-syi’ah-syi’ah-an. Dampak positifnya, mahasiswa yang semula tidak nyambung dengan materi ini jadi penasaran akan duduk perkaranya.

Tapi kalau sunni semua, biasanya kuliah ya tetap adem-ayem, yang ngantuk pun tetap ngantuk, hehe…

Penutup

Demikian sedikit penjelasan mengenai pengertian dan status hadits Mursal Shahabi. Semoga ada manfaatnya bagi kita bersama.

Allahu a’lam.

_____________________

Sumber:

Kitab Mabahits fi Ulumil HaditsSyeikh Manna’ al-Qatthanrahimatullah.

Artikel Hadits Mursal Lughatan wa Ishthilahan, faouaid.com

Tags:

0 thoughts on “Hadits Mursal Shahabi: Pengertian, Contoh, dan Statusnya

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.