SHOPPING CART

close
Kajian HaditsTuntunan Shalat

Beberapa Fadhilah/Keutamaan Shalat: Kajian Hadits dan Fiqih

Sebagai sebuah kewajiban yang amat mulia, shalat memiliki berbagai keutamaan yang pantas untuk kita perhatikan. Berikut ini beberapa keutamaan shalat:

 

1. Amal yang pertama kali diperhitungkan

Shalat merupakan amal yang pertama kali akan diperhitungkan pada hari kiamat. Rasulullah Saw. bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ.

Yang pertama kali akan dihisab (diperhitungkan) pada amal seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Bila shalatnya baik, maka dia beruntung dan selamat. Bila shalatnya rusak, maka dia akan kecewa dan merugi. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Hal itu tidak lain menunjukkan betapa utamanya shalat dalam menentukan nasib kita. Ia bukan saja sebagai alat ukur kemuliaan di dunia, namun ia juga merupakan alat ukur keselamatan di akhirat. Semoga Allah I memberikan kemudahan kepada kita semua untuk mendirikan shalat dengan sebaik-baiknya…

 

2. Amal yang paling dicintai Allah Swt.

Shalat merupakan amal yang paling dicintai Allah. Marilah kita perhatikan riwayat di bawah ini:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا.

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi Muhammad Saw., “Amal apakah yang paling Allah cinta?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bila Allah mencintai amal tersebut, berarti Allah pun akan mencintai orang yang mengerjakan amal tersebut dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, Allah pun akan membenci orang yang melaksanakan amal itu dengan asal-asalan, apalagi orang yang tidak melaksanakannya sama sekali.

 

3. Membersihkan dosa

Shalat itu memiliki manfaat untuk menghilangkan dosa-dosa kita, sebagaimana air menghilangkan kotoran yang melekat pada diri kita.

Hadits Pertama

Marilah kita simak hadits berikut ini:

عَنْ أَبَانِ بْنِ عُثْمَانَ يَقُولُ: قَالَ عُثْمَانُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ بِفِنَاءِ أَحَدِكُمْ نَهْرٌ يَجْرِى يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، مَا كَانَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ؟ قَالُوْا: لاَ شَىْءَ. قَالَ: فَإِنَّ الصَّلاَةَ تُذْهِبُ الذُّنُوبَ كَمَا يُذْهِبُ الْمَاءُ الدَّرَنَ.

Dari Aban bin ‘Utsman, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Apa pendapatmu, bila di samping rumahmu ada sebuah sungai yang mengalir, lalu kamu mandi di situ lima kali sehari, apakah masih ada kotoran pada tubuhmu?” Mereka berkata, “Tidak sama sekali.” Beliau bersabda, “Sungguh shalat itu menghilangkan dosa, sebagaimana air menghilangkan kotoran.” (HR. Ibnu Majah)

Hadits Kedua

Juga hadits berikut ini, marilah kita simak dengan sebaik-baiknya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّى عَالَجْتُ امْرَأَةً فِى أَقْصَى الْمَدِينَةِ، وَإِنِّى أَصَبْتُ مِنْهَا مَا دُونَ أَنْ أَمَسَّهَا، فَأَنَا هَذَا، فَاقْضِ فِىَّ مَا شِئْتَ. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: لَقَدْ سَتَرَكَ اللَّهُ، لَوْ سَتَرْتَ نَفْسَكَ. فَلَمْ يَرُدَّ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا، فَقَامَ الرَّجُلُ فَانْطَلَقَ، فَأَتْبَعَهُ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلاً دَعَاهُ، وَتَلاَ عَلَيْهِ هَذِهِ الآيَةَ: (أَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَىِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ، إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ، ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ )، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: يَا نَبِىَّ اللَّهِ، هَذَا لَهُ خَاصَّةً؟ قَالَ: بَلْ لِلنَّاسِ كَافَّةً.

Dari ‘Abdullah, ia berkata: Ada seseorang menemui Nabi Muhammad r dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah bermesraan dengan seorang perempuan dari pinggir kota. Aku telah melakukan segala sesuatu bersamanya, kecuali jima’ (bersetubuh). Nah, sekarang saya ada di sini. Berikan kepada saya hukuman sekehendak Anda.”

Umar berkata pada orang itu, “Allah telah menyembunyikan aibmu. Sebaiknya engkau pun menyembunyikan aibmu itu.” Sementara Nabi Muhammad Saw. tidak memberikan jawaban sama sekali kepada orang itu. Akhirnya orang itu pergi.

Lalu Nabi Muhammad Saw. mengutus seseorang untuk memanggilnya kembali. Lalu beliau membaca sebuah ayat (yang artinya), “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.[1]

Kemudian ada orang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah hal itu khusus untuk orang itu?”

Beliau bersabda, “Untuk seluruh umat manusia.” (HR. Muslim)

 

4. Kunci surga

Shalat merupakan kunci surga. Hal ini menunjukkan pentingnya shalat dalam kehidupan manusia di akhirat. Rasulullah r bersabda:

مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ الصَّلاَةُ وَمِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الْوُضُوءُ.

Kunci surga adalah shalat, dan kunci shalat adalah wudhu. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Secara tidak langsung, hadits di atas juga memberikan pemahaman, bahwa orang yang tidak mau melaksanakan shalat tidak akan masuk surga.

Allahu a’lam.

_________________

[1] Hud: 114.

Tags:

0 thoughts on “Beberapa Fadhilah/Keutamaan Shalat: Kajian Hadits dan Fiqih

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.