SHOPPING CART

close
Merawat Cinta

Makanya Jatuh Cinta Itu Nanti Saja Setelah Menikah

Love is blind. Cinta itu buta. Begitu kata orang. Atau, cinta itu membutakan. Sehingga orang yang sedang jatuh cinta tidak mampu membedakan mana perempuan yang cantik dan tidak. Mana yang laki-laki yang ganteng dan tidak.

Selain buta, cinta juga membuat orang yang sedang kasmaran menjadi tuli, alias budheg. Tidak bisa menerima nasihat yang sebagus apapun, karena telinganya tidak berfungsi dengan baik.

Jadi masih mending Pak Bolot, yang meskipun tuli, tapi masih bisa ngobrol dengan perempuan cantik. Atau diajak bicara masalah uang. Hehe…

Lebih dari itu, banyak kasus membuktikan, cinta juga menjadikan akal tidak berfungsi dengan baik. Orang pinter jadi blo’on. Genius jadi ediot. Hehe… Tidak bisa berpikir logis.

Nah, biasanya orang itu baru akan kembali normal setelah cintanya berkurang atau hilang sama sekali. Waktu itulah tiba-tiba saja orang yang tidak lagi kasmaran itu jadi normal. Terbuka matanya. Berguna telinganya. Kembali nalarnya.

Masih bagus kalau dia bisa kembali normal sebelum menikah. Bagaimana halnya kalau sudah menikah baru nyadar? Bisa-bisa perceraian di depan mata, karena kecewa berat.

Masih bagus kalau belum punya anak. Bagaimana kalau sudah punya anak baru nyadar? Bisa-bisa anak jadi korban juga.

Inilah di antara alasan mengapa banyak pasangan yang mampu berpacaran lebih dari tujuh tahun, tapi hanya mampu bertahan dalam ikatan keluarga selama tujuh bulan atau bahkan kurang.

Oleh karena itu, alangkah baiknya kalau kita bisa menunda perasaan cinta itu setelah menikah saja. Kita empet. Kita jaga jangan sampai jatuh hati sebelum hari pernikahan. Sampai akad ijab-kabul.

“Wah, ndak asyik, dong. Masak akad nikah dilaksanakan, padahal belum ada perasaan sama sekali?” Mungkin di antara pembaca ada yang berpikiran demikian.

Mohon tidak salah paham.

Yang kami maksud menunda atau ngempet itu sebenarnya kita sudah ada benih-benih perasaan cinta dan sayang. Tapi jangan biarkan perasaan itu tumbuh terlalu subur. Karena itu tadi. Cinta akan membuat kita buta, tuli, dan ediot. (Wah, sadis banget, hehe… )

Mumpung perasaan cinta dan sayang itu masih berupa benih, maka tidak akan terlalu mengganggu daya penglihatan, pendengaran dan nalar-logika kita.

Waktu seluruh kemampuan masih normal itulah, kita bisa mengambil keputusan yang jitu. Mengambil langkah yang mantap dan lebih bertanggung jawab. Yaitu menjawab model soal ujian yang paling sederhana, antara Ya dan Tidak.

Meskipun jawabannya juga sangat mudah, yaitu: Ya atau Tidak, namun bila kemampuan dasar untuk melihat, mendengar dan menalar itu sedang error, maka akibatnya sangat fatal.

Ada sebuah kaidah yang sangat bagus tentang bagaimana menjawab soal yang gampang-gampang susah seperti itu. Kaidah tersebut berbunyi:

“Bila Anda merasa ragu-ragu menjawab: Ya, maka katakan: Tidak.”

Kaidah itu memang sangat simpel. Tapi hanya bisa dilaksanakan oleh orang yang masih normaal. Sedangkan sudah jelas bahwa orang yang sedang kasmaran itu bukan termasuk orang yang masih normal. (Wah, kejam, kejam, kejam… Hehe… )

“Jadi bagaimana kalau kita sekarang belum menikah, dan sudah sangat sayang kepada calon pasangan?”

Tidak banyak yang bisa kami sampaikan sebagai nasihat, selain:

“Tetap jaga perasaan mulia itu dengan baik. Terus pertahankan sampai kapanpun. Lalu berdoalah kepada Allah dengan segenap ketulusan hati dan kerendahan diri, semoga Dia berkenan melanggengkan hubungan suci itu.”

Sebab bila tidak, saya hanya bisa berpesan singkat:
“Waspadalah… Waspadalah…”

Kiranya hanya ini yang bisa kami sampaikan. Kurang dan lebihnya mohon dimaafkan. Semoga bisa menjadi sedikit bahan renungan dan pertimbangan.

Bila ada tanggapan dan tambahan, kami persilakan untuk menyampaikan pada kolom komentar.

Terima kasih.

Tags:

0 thoughts on “Makanya Jatuh Cinta Itu Nanti Saja Setelah Menikah

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.