SHOPPING CART

close

Hadits Mudraj: Pengertian, Macam dan Contoh

الْحَدِيْثُ الْمُدْرَجُ

Hadits Mudraj

 

Pengertian Hadits Mudraj

Secara bahasa, mudraj artinya: menyelipkan, memasukkan suatu benda ke dalam benda yang lain.

Secara istilah, Hadits Mudraj artinya:

ما غُيِّرَ سياق إسناده أو أُدْخِلَ في متنه ما ليس منه بلا فَصْلٍ

“Hadits yang susunan sanadnya dirubah, atau matannya disisipi dengan sesuatu yang bukan bagian dari matan yang sebenarnya.”

Berdasarkan definisi itu, maka hadits mudraj itu ada dua macam, yaitu:

– Hadits yang susunannya.

– Hadits yang matannya disisipi dengan sesuatu yan bukan matannya yang asli.

Silakan baca pula:  Macam-macam Hadits Dha’if karena Masalah pada Perawi

***

Macam dan Contoh Hadits Mudraj

Berdasarkan pengertian hadits mudraj sebagaimana kami jelaskan di atas, maka secara garis besar, hadits mudraj itu ada dua macam.

Yaitu hadits mudraj dalam sanad, dan hadits mudraj dalam matan.

Lalu hadits mudraj itu dibagi tiga: di awal matan, di tengah matan, dan di akhir matan.

Berikut kami jelaskan macam-macam hadits mudraj beserta contohnya masing-masing:

1. Hadits Mudraj dalam Sanad

Mudraj dalam sanad ini terjadi. Bila ada seorang perawi sedang menyampaikan suatu hadits. Lalu terjadi sesuatu yang membuat perawi itu mengatakan sesuatu yang bukan bagian dari hadits itu.

Kemudian orang yang mendengarnya mengira, bahwa perkataan itu merupakan bagian dari hadits. Padahal perkataan itu bukan bagian dari hadits.

Sehingga terjadi salah paham dan kekeliruan yang fatal.

Contoh Hadits Mudraj dalam Sanad:

Ada  seorang perawi bernama Tsabit bin Musa az-Zahid.

Suatu saat dia datang ke majlis Syarik bin Abdullah al-Qadhi yang sedang menyampaikan sebuah hadits sebagai berikut:

حدثنا الأعمش عن أبي سفيان عن جابر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم 

“Dari al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir, bahwa Rasulullah Saw. bersabda…”

Sampai di situ Syarik berhenti untuk memberi kesempatan kepada para muridnya untuk menulis.

Pada waktu itulah Syarik melihat Tsabit yang baru datang, dan berkata:

من كثرت صلاته بالليل حسن وجهه بالنهار

Maksud dari perkataan Syarik itu adalah pujian kepada Tsabit yang memiliki sifat zuhud dan ahli ibadah.

Namun ternyata Tsabit salah sangka. Dia mengira bahwa perkataan Syarik itu merupakan matan hadits. Sehingga kemudian, dia pun menyampaikan perkataan itu kepada para muridnya sebagai matan hadits.

***

2. Hadits Mudraj dalam Matan

Mudraj dalam matan ini terjadi. Bila seorang perawi memasukkkan suatu perkataan ke dalam matan tanpa kata pemisah.

Selanjutnya, mudraj dalam matan ini dibagi menjadi tiga. Mudraj di awal matan, mudraj di tengah matan, dan mudraj di akhir matan.

a. Contoh Hadits Mudraj di Awal Matan

Suatu saat, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan akan pentingnya membasuh tumit dengan sempurna. Marilah kita perhatikan hadits berikut ini:

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَسْبِغُوْا الْوُضُوْءَ وَيْلٌ لِلْاَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

“Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw. Beliau bersabada:

“Sempurnakanlah wudhu. Neraka bagi tumit yang tidak terkena air.”

Perkataan:

اَسْبِغُوْا الْوُضُوْءَ

“Sempurnakanlah wudhu.”

Sebenarnya bukan termasuk matan hadits. Dari mana hal itu bisa diketahui?

Tidak lain karena adanya hadits semisal yang diriwayatkan melalui sanad yang lain. Dalam masalah ini yaitu sanad dari hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Di mana dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Abu Hurairah berkata:

أَسْبِغُوا الوُضُوءَ، فَإِنَّ أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

“Sempurnakanlah wudhu. Karena sesungguhnya Abul Qasim (Nabi Muhammad) Saw. bersabda: Neraka bagi tumit yang tidak terkena air.”

Jadi rupanya, dalam hadits yang pertama itu, ada perawi yang kurang cermat dalam memahami matan. Dia memasukkan perkataan Abu Hurairah sebagai matan hadits. Sehingga terjadi kesalahan dalam matan hadits itu.

Nama perawi itu adalah Abu Qatthan dan Syubabah. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam kitab Tadribur-Rawi, karya Imam as-Suyuthi.

***

b. Contoh Hadits Mudraj di Tengah Matan

Suatu saat, Siti ‘Aisyah menyampaikan tentang kebiasaan Nabi Muhammad Saw. bertahannuts atau menyendiri di Gua Hira’.

Marilah kita perhatikan hadits di bawah ini:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَنَّثُ فِيْ غَارٍ حِرَاءٍ وَهُوَ التَّعَبُدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ

“Dari Siti ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

Adalah Nabi Muhammad Saw. biasa bertahannuts di Gua Hira’, yaitu beribadah, selama beberapa malam.

Matan yang berbunyi:

وَهُوَ التَّعَبُدُ

“Yaitu beribadah.”

Merupakan mudraj atau sisipan yang ditambahkan oleh Imam az-Zuhri.

***

c. Contoh Hadits Mudraj di Akhir Matan

Setiap kondisi memiliki keutamaannya masing-masing. Termasuk kondisi terburuk manusia, yaitu ketika dia menjadi seorang hamba sahaya. Yang tidak berhak memiliki apa-apa. Bahkan dirinya pun dimiliki oleh orang lain, yaitu tuannya.

Marilah kita perhatikan hadits berikut ini:

الْعَبْدِ الْمَمْلُوْكِ الْمُصْلِحِ أَجْرَانِ، وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَوْلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَالْحَجُّ، وَبِرُّ أُمِّي، لَأَحْبَبْتُ أَنْ أَمُوتَ وَأَنَا مَمْلُوكٌ

Seorang hamba sahaya yang berbakti pada tuannya, maka baginya dua pahala. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalaulah bukan karena jihad di jalan Allah, haji dan berbakti pada ibuku, tentu aku lebih meyukai mati dalam keadaan sebagai seorang hamba sahaya.”

Dalam matan hadits di atas terdapat idraj atau tambahan yang sebenarnya bukan bagian dari matan hadits itu. Yaitu kalimat:

وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَوْلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَالْحَجُّ، وَبِرُّ أُمِّي، لَأَحْبَبْتُ أَنْ أَمُوتَ وَأَنَا مَمْلُوكٌ

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalaulah bukan karena jihad di jalan Allah, haji dan berbakti pada ibuku, tentu aku lebih meyukai mati dalam keadaan sebagai seorang hamba sahaya.”

Karena dua alasan berikut:

– Mustahil Nabi Muhammad Saw. mengharap dirinya menjadi seorang hamba sahaya.

– Ibunda Siti Aminah telah wafat sejak Nabi Muhammad Saw. masih kecil. Sehingga beliau tidak perlu menjadi hamba sahaya untuk berbakti pada Ibunda.

Oleh karena itu, jelas bahwa kalimat itu merupakan tambahan dari Abu Hurairah sendiri. Bukan sabda Nabi Muhammad Saw.

***

Motif Terjadinya Idraj

Terdapat beberapa motif sehingga terjadi idraj atau tambahan dalam suatu hadits, yaitu:

– Kehendak menjelaskan hukum dalam masalah yang berkaitan dengan matan hadits.

– Usaha menjelaskan hukum suatu masalah yang berkaitan dengan matan hadits sebelum hadits itu selesai disampaikan.

– Keinginan untuk menjelaskan makna kosa kata dalam matan hadits.

***

Cara Mengetahui Adanya Mudraj

Ada beberapa jalan untuk mengetahui adanya idraj (sisipan atau tambahan) dalam sebuah hadits, di antaranya adalah:

– Dibandingkan dengan sanad dan matan hadits lain yang semisal.

– Mengecek komentar para ulama hadits terhadap hadits itu.

– Keterangan perawi adanya idraj dalam hadits tersebut.

– Mustahilnya Rasulullah Saw. menyampaikan hadits seperti itu.

***

Hukum Membuat Mudraj

Para ulama sepakat (ijmak). Bahwa membuat idraj (sisipan atau tambahan) dalam hadits itu hukumnya haram.

Kecuali dengan tujuan menjelaskan kosa kata dalam hadits itu. Seperti yang dilakukan oleh Imam az-Zuhri dan para ulama yang lain.

***

Penutup

Demikian sedikit penjelasan mengenai Hadits Mudraj. Bila ada pertanyaan maupun masukan tentang artikel, pembaca dapat menyampaikannya dalam kolom komentar.

Barakallahu fikum. Wa huwa a’lamu bis-shawab. 

________________________

Bacaan utama:

Kitab Taisir Musthalah al-HaditsSyeikh Mahmud ath-Thahhan.

Artikel:  Al-Idraj fil HaditsSyeikh Muhammad Thaha Sya’ban. 

Tags:

One thought on “Hadits Mudraj: Pengertian, Macam dan Contoh

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.