SHOPPING CART

close

Hadits Mauquf: Pengertian, Contoh, Macam-macam dan Status

الْحَدُيْثُ الْمَوْقُوْفُ

al-Hadits al-Mauquf

_____

 

A. Pengertian Hadits Mauquf

Para ulama mendefinisikan hadits mauquf sebagai berikut:

ما أضيف إلى الصحابي من قول أو فعل أو تقرير

“Semua yang dinisbahkan kepada seorang shahabat. Baik berupa perkataan, perbuatan maupun persetujuan.”

Berdasarkan definisi di atas, maka sebuah hadits mauquf itu ada yang sanadnya bersambung (muttashil) dan ada yang sanadnya terputus (munqathi‘).

***

Perbedaan Hadits Marfu’ dan Mauquf

Marfu’ artinya: diangkat.

Hadits marfu’ artinya: perawi mengangkat hadits itu sampai pada Nabi Muhammad Saw. Bahwa misalnya, perawi mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda demikian dan demikian.

Mauquf artinya dihentikan.

Hadits mauquf artinya: perawi menghentikan hadits itu hanya sampai pada shahabat. Bahwa misalnya, Ibnu Abbas berkata demikian.

Silakan baca pula:  

Hadits Marfu’: Pengertian, Contoh, Macam-macam dan Status

***

B. Macam-macam Hadits Mauquf

Berdasarkan definisinya, hadits mauquf itu ada tiga macam, yaitu:

  • perkataan,
  • perbuatan,
  • persetujuan.

Selain ketiga macam hadits mauquf itu, sebenarnya ada satu lagi. Yaitu hadits mauquf marfu’ hukman. Artinya: secara zahir adalah hadits mauquf. Namun secara hakekat merupakan hadits marfu’.

Silakan baca pula:

Macam-macam Hadits Mauquf Yang Marfu’ Hukman

***

C. Contoh Hadits Mauquf

Berikut ini contoh hadits mauquf sesuai dengan macam-macamnya:

1. Hadits mauquf qaulan (berupa perkataan)

Inilah salah satu contoh hadits mauquf qaulan:

قَالَ عَلِىٌّ: حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ

أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

Ali bin Abi Thalib berkata:

“Berbicaralah kepada orang lain dengan apa yang mereka pahami.

“Apakah engkau mau Allah dan Rasul-Nya didustakan?”

(Riwayat Imam Bukhari.)

Sedikit penjelasan atas hadits di atas:

– Yang berkata-kata dalam hadits itu adalah Ali bin Abi Thalib. Bukan Rasulullah Saw. Maka disebut sebagai hadits mauquf.

– Hadits di atas kemungkinan besar adalah hadits shahih. Karena Imam Bukhari merupakan muhaddits yang paling berhati-hati dalam menetapkan standar hadits shahih.

– Maksud hadits di atas, bahwa seorang ulama harus memperhatikan kemampuan intelektual jamaah. Jangan sampai menyampaikan ilmu yang akan membuat jamaah bingung. Inilah ilmu hikmah atau bijaksana.

Contoh yang lain:

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab al-Adabul-Mufrad, bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

أحبِب حبيبك هونًا ما
عسى أن يكون بغيضك يومًا ما
وأبغض بغيضك هونًا ما
عسى أن يكون حبيبك يومًا ما

“Cintailah orang yang engkau cintai dengan sekedarnya.

Boleh jadi dia akan menjadi orang yang engkau benci suatu hari.

Dan bencilah orang yang engkau benci dengan sekedarnya.

Boleh jadi dia akan menjadi orang engkau cintai suatu hari.”

**

2. Hadits mauquf fi’lan (berupa perbuatan)

Inilah  contoh hadits mauquf fi’lan:

أَمَّ ابْنُ عَبَّاسٍ وَهُوَ مُتَيَمِّمٌ

“Ibnu ‘Abbas menjadi imam dengan tayamum.”

(HR. Bukhari)

Sedikit penjelasan tentang hadits tersebut:

– Hadits di atas termasuk hadits mauquf. Karena pelakunya adalah Ibnu ‘Abbas, seorang shahabat. Bukan Rasulullah Saw.

– Hadits di atas disampaikan oleh Imam Bukhari sebagai pendahuluan bab tayamum dalam Shahih Bukhari. Menunjukkan keabsahan tayamum untuk shalat sendirian maupun sebagai imam.

– Riwayat tersebut masuk kategori shahih. Karena diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Contoh yang lain:

Berikut ini perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

اتَّبِعوا ولا تبتدعوا فقد كُفيتم

“Hendaknya kalian bersikap ittiba’, jangan bersikap bid’ah. Karena engkau telah tercukupi.”

Maksudnya:

– Untuk beribadah, kita cukup mencontoh dan meniru apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.

– Sikap bid’ah adalah dilarang. Khususnya dalam masalah ibadah. Jangan neko-neko. Jangan membuat tata cara ibadah yang baru. Yang tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.

– Karena tata cara kita beribadah telah sempurna. Dengan berbagai contoh dan teladan terbaik dari Nabi Muhammad Saw.

**

3. Hadits mauquf taqriran (berupa persetujuan)

Bahwa ada seorang tabi’in berkata, “Aku melakukan sesuatu di hadapan para shahabat. Mereka tidak menyalahkanku.”

Ketika tidak ada shahabat yang menegur perbuatan tabi’in tersebut, berarti para shahabat itu setuju. Diamnya para shahabat itu berarti mereka setuju. Artinya, perbuatan tabi’in itu tidak ada masalah.

Kami sudah mencari contoh real dari hadits mauquf taqriran. Namun belum ketemu. Bila di antara pembaca ada yang menemukan, mohon untuk kesediaannya berbagi dalam kolom komentar. Insya Allah akan kami tambahkan di sini. Terima kasih.

***

Status dan Kedudukan Hadits Mauquf

Hadits mauquf itu ada yang shahih dan ada yang dha’if.

Bila sebuah hadits mauquf dinyatakan shahih, apakah bisa dijadikan dalil?

Pada dasarnya, hadits mauquf bukan termasuk dalil. Karena hadits mauquf ini hanya merupakan perkataan dan perbuatan seorang shahabat.

Namun hadits mauquf yang shahih memiliki potensi untuk menguatkan hadits marfu’ yang dha’if. Karena perilaku shahabat merupakan bentuk pengamalan sunnah Rasulullah Saw.

Inilah kedudukan hadits mauquf secara umum.

Adapun hadits mauquf yang dihukumi sebagai marfu’ (marfu’ hukman), maka kedudukannya sama dengan hadits marfu’.

***

Demikian yang bisa kami sampaikan berkaitan dengan hadits mauquf.

Semoga ada manfaatnya bagi kita bersama.

Allahu a’lam.

___________________

Sumber Bacaan:

Kitab Taisir Musthalah al-Hadits, Syeikh Mahmud ath-Thahhan, rahimahullah.

Artikel al-Hadits al-Marfu’ wa al-Maqthu’ wa al-Mauquf ma’a at-Tamtsil.  islamweb.net

Tags:

2 thoughts on “Hadits Mauquf: Pengertian, Contoh, Macam-macam dan Status

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.