SHOPPING CART

close
Menghafal Al-Qur'an

Beberapa Kesalahan dalam Menghafal al-Qur’an

Terdapat beberapa kebiasaan yang dilakukan oleh para penghafal al-Quran secara umum. Dimana kebiasaan-kebiasaan itu dilakukan dengan harapan cepat menghafal al-Quran, namun malah membuat lambat bahkan gagalnya usaha menghafal. Kebiasaan-kebiasaan yang salah ini dilakukan, tanpa ragu lagi, berlawanan dengan cara menghafal yang benar. Oleh karena itu, pembaca akan mendapati bahwa pembahasan-pembahasan dalam bagian ini merupakan lawan dari pembahasan-pembahasan sebelumnya. Atau, bagian ini merupakan ringkasan dari bagian-bagian sebelunya. Atau, katakanlah, sebagai penegasan.

Berikut beberapa kebiasaan yang dimaksud, semoga kita bisa menghindarkan diri darinya:

1.      Menghafal karena terpaksa

Mungkin saja pada awalnya kita menghafal karena kesepakatan dengan orang lain, atau komitmen pada sebuah janji. Namun demikian, janganlah kita menghafal karena perasaan terpaksa. Karena semua yang dilakukan secara terpaksa tidak akan bisa berjalan dengan baik. Pekerjaan mudah pun bila dilakukan karena terpaksa tidak akan memberikan hasil memuaskan. Apalagi pekerjaan yang berat. Dan pekerjaan apakah yang lebih berat daripada menghafal al-Quran? Sebaliknya, pekerjaan seberat apapun, bila dilakukan dengan hati senang, insya Allah akan memberikan hasil yang memuaskan.

Memang niat berbuat baik, apalagi niat menghafal al-Quran, merupakan sebuah ibadah. Namun bila aktivitas itu dilakukan secara terpaksa, tentu tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Hal itu disebabkan dalam keadaan terpaksa, seseorang tidak akan memberikan kemampuannya yang terbaik. Ia hanya mengerahkan kemampuan yang semampunya saja. Ia tidak akan kreatif mencari cara bagaimana berhasil menghafal. Malah sebaliknya, ia menjadi kreatif mencari-cari alasan mengapa belum juga hafal.

2.      Menghafal tanpa perasaan

Ada orang menghafal al-Quran dengan asal-asalan. Ia tidak merasa bersalah ketika membaca al-Quran dengan asal-asalan. Ia tidak merasa bahwa al-Quran harus dihormati dengan baik. Bukan ‘hanya’ diamalkan dengan benar, namun juga harus dibaca atau dihafal dengan hati-hati. Bukankah setiap kita membaca al-Quran dengan benar tiap hurufnya bernilai pahala? Maka sebaliknya, bila kita membaca dengan asal-asalan, sehingga banyak kata yang dibaca salah, bukan pahala yang kita terima, melainkan dosa demi dosalah yang menimpa kita… Na‘udzu billah min dzalik…

Sikap yang demikian itu terbangun tanpa disadari yang berasal dari apa yang disebut dengan nafsu. Nafsu untuk ingin segera hafal. Nafsu itulah yang menghambat kita menghafal.

Hendaknya kita tidak memposisikan al-Quran sebagai benda mati, seperti orang Islam yang menginjak-injak al-Quran hanya karena ingin menunjukkan bahwa al-Quran itu sama dengan buku buatan manusia. Kita harus bisa memposisikan al-Quran sebagai kitab mulia, di mana selayaknya kita menjaga adab berinteraksi dengannya.

3.      Menghafal ayat secara serampangan

Menghafal ayat secara serampangan akan membuat proses menghafal sebuah ayat tidak pernah berhenti. Satu huruf salah dianggap sesuatu yang wajar. Karena dianggap wajar, maka tidak pernah berusaha memperbaiki. Sikap demikian adalah tidak benar. Al-Quran tidaklah sama dengan kitab-kitab agama lain, yang boleh ditulis sekedar maknanya. Asal maknanya sama, biar redaksinya berbeda, tidak ada masalah. Yang demikian tidak boleh diterapkan dalam al-Quran. Hendaknya kita menghafal huruf per huruf dengan hati-hati. Kita menghafal kata per kata dengan penuh hikmat. Dengan cara seperti ini, insya Allah proses menghafal lebih cepat diselesaikan.

4.      Menghafal mendekati hari setoran

Ketika hari Kamis akan setoran hafalan, misalnya, kita baru menghafal pada hari Rabu, atau Kamis paginya. Atau bahkan beberapa menit sebelum berangkat. Atau mungkin juga terlambat datang setoran, karena sebelum berangkat menghafal dulu. Sehingga ketika selesai setoran, pada saat itu juga, bisa jadi hafalan pun langsung buyar. Hafalan langsung menghilang, entah ke mana.

Jadi jangankan pekan depan, hafalan pada hari itu saja seketika bisa hilang. Sehingga tidak heran, dengan bertambahnya pekan, bukan hafalan yang bertambah, namun ayat terlupa yang bertambah. Pekan pertama hafal 7 ayat, pekan kedua tinggal 5 ayat, pekan ketiga sisa 3 ayat, pekan berikutnya malah sudah lupa semua. Hal ini bukan mustahil, karena benar-benar pernah penulis saksikan. Mungkin juga pembaca alami….

5.      Tidak berlatih menyambung ayat ke ayat

Ada orang yang menghafal beberapa ayat dengan cukup baik, namun tidak bisa menyambung hafalan pada ayat berikutnya. Ketika setoran, ia menunggu bantuan dari orang lain untuk menyambung hafalan antara satu ayat ke ayat yang lain. Ia menunggu orang lain membantunya mengingatkan awal ayat berikutnya.

Hal ini terjadi karena pada waktu proses menghafal tidak meluangkan waktu secara baik untuk berlatih menyambung hafalan dari satu ayat ke ayat berikutnya. Ia menganggap kalau sudah menghafal sebuah ayat, tinggal menghafal ayat berikutnya. Ayat kedua selesai, ia menghafal ayat ketiga. Ia menganggap semua ayat yang telah dihafal akan tersambung dengan sendirinya. Tentu saja anggapan ini salah, dan semua orang sudah membuktikannya.

Bila ingin lancar menyambung antara satu ayat dengan ayat yang lain, kita harus meluangkan waktu untuk berlatih menyambungnya. Caranya adalah murajaah semua ayat yang telah kita hafal dengan tertib, seperti kita membacanya di atas kertas.

6.      Menghafal dengan suara lirih

Menghafal dengan suara lirih, atau berbisik, nampaknya cukup mesra. Tapi juga akan menjadikan proses menghafal tidak optimal. Bukankah ketika setoran hafalan kita diharuskan membaca dengan suara yang cukup lantang, sehingga suara kita bisa didengarkan orang lain. Demikian pula bacaan sebagai imam shalat berjamaah mengharuskan kita membacanya dengan suara nyaring. Bila tidak terbiasa membaca dengan suara nyaring, kita akan menemukan kesulitan ketika harus membaca dengan suara nyaring. Untuk itu, hendaknya kita membiasakan menghafal atau murajaah dengan suara nyaring.

Lantang atau nyaring di sini ukurannya adalah ketika suara kita bisa didengar oleh orang yang berada di dekat kita secara jelas. Tidak samar-samar.

7.      Menghafal ketika antri setoran

Penulis sering menyaksikan teman yang baru menghafal ketika sedang antri setoran. Hasilnya bisa dipasktikan tidak sempurna, bahkan acak-acakan. Mungkin ia malu kalau sampai tidak bisa menyetorkan hafalan yang seharusnya. Tapi kebiasaan ini menunjukkan bahwa sebelumnya ia tidak mempersiapkan apapun. Sebelumnya ia tidak melakukan hafalan sama sekali. Jangankan murajaah, menghafal pun tidak.

Bila setiap kali setoran kejadian yang sama selalu berulang, bisa dipastikan, orang itu menghafal al-Quran dengan motivasi keterpaksaan. Atau mungkin juga nafsu. Bukan cinta. Sehingga hasilnya pun jauh dari memuaskan. Semoga Allah berkenan mengampuni saudara kita itu….

8.      Setoran sambil mengharap bantuan

Banyak juga di antara orang yang penulis amati, ketika setoran sebentar-sebentar ia berhenti. Orang lain yang tidak cermat akan mengira, bahwa orang itu sedang berusaha mengingat-ingat hafalannya. Namun karena hal itu berulang kali dilakukan oleh orang yang sama, secara pasti penulis bisa mengambil kesimpulan. Orang itu sebentar-sebentar berhenti bukan sekadar sedang berusaha mengingat-ingat hafalan. Sesungguhnyalah! Orang itu sedang mengharap bantuan dari orang lain untuk melanjutkan hafalannya. Bila demikian halnya, selamanya orang seperti itu tidak akan pernah menghafal dengan baik. Karena memang sejak awal menyandarkan diri pada bantuan orang lain. Oleh karena itu, penulis menghimbau kepada pembaca sekalian, janganlah membantu orang seperti itu melanjutkan hafalannya. Biarkan saja ia berhenti sampai pada bacaan ayat yang telah dihafalnya dengan baik.

Mungkin saja pembaca sekalian menilai saran dari penulis ini amat kejam. Membiarkan sahabat yang sedang memerlukan bantuan memang bertentangan dengan nurani. Namun kalau setiap kali keinginan dituruti, tentu akan membuat anak tidak pernah tumbuh menjadi dewasa. Apalagi teman itu bukan lagi kanak-kanak. Sudah sepantasnya ia bisa melakukan keperluan pribadinya secara mandiri.

Janganlah merasa ragu untuk mengakui bahwa sebelumnya kita tidak melakukan hafalan. Perasaan malu mungkin akan terbit. Dan memang seharusnya kita merasa malu. Dengan perasaan malu itulah kita akan sadar untuk memperbaiki keadaan kita yang sebenarnya. Semoga Allah memberikan kemudahan.

9.      Malas mengulang hafalan

Ketika proses menghafal sudah selesai, bukan berarti hafalan itu akan abadi dalam ingatan kita. Hafalan itu akan mudah hilang, seperti hilangnya sepeda motor baru yang diparkir sembarangan, apalagi tanpa pengamanan yang memadai. Setiap ada kesempatan, hendaknya bisa kita menggunakan untuk mengulang hafalan (murajaah). Sambil mengantri, sambil menunggu pasangan belanja, atau bahkan sambil berkendara. Istri saya senang sekali mendengarkan saya murajaah sambil menyetir kendaraan. Insya Allah pasangan Anda juga akan memberikan respon yang sama.

10.  Perasaan sudah hafal padahal belum

Boleh jadi suatu saat kita merasa telah menyelesaikan target hafalan dengan baik. Namun saat setoran hafalan, kita mengalami banyak kesulitan. Beberapa kali macet. Ada kata yang terlewatkan. Lupa dengan bacaan akhir ayat. Atau lupa dengan awal ayat berikutnya. Hal itu terjadi karena sesungguhnya kita belum menghafal dengan baik.

Untuk mengetahui sudah seberapa baik hafalan kita, ada baiknya kita melakukan ujian sendiri. Seperti mengulang sendiri hafalan ketika sedang menunggu datangnya angkutan umum, mengantri bahan bakar di pom bensin, atau sambil berkendara. Bila kita bisa mengulang hafalan dengan baik pada saat-saat santai seperti itu, insya Allah berarti hafalan kita sudah baik.

Tags:

0 thoughts on “Beberapa Kesalahan dalam Menghafal al-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...