SHOPPING CART

close
Menghafal Al-Qur'an

Tips Khusus Menjaga Hafalan al-Qur’an

Setelah menghafal ayat per ayat sampai ayat yang terakhir dalam sebuah surat, biasanya kita merasa telah menghafal surat itu dengan baik. Padahal tidaklah demikian. Apakah kita telah benar-benar menghafal surat itu dengan benar, bisa diketahui melalui ujian berikut ini:

1. Baca tiga kali berturut-turut tidak ada yang salah

Di antara tanda bahwa kita telah menghafal sebuah surat dengan baik, adalah kita bisa mengulang bacaan surat itu tiga kali berturut-turut tidak ada yang salah, meskipun hanya satu huruf. Bila masih ada yang salah, meskipun hanya satu huruf, sesungguhnyalah kita belum menghafalnya dengan baik.

Mungkin kita merasa bosan ketika melakukan tes ini. Atau bahkan merasa malas melakukannya. Pada saat seperti inilah, kita bisa mengetahui apa motivasi kita yang sebenarnya dalam menghafal al-Quran. Apakah benar karena cinta, atau karena terpaksa. Apabila benar karena cinta, tentu meskipun tiap hari bertemu berkali-kali tidak ada masalah. Justru semakin senang. Tapi kalau malas, berarti itu namanya terpaksa, meskipun tidak kita sadari bahwa kita sebenarnya sedang terpaksa.

2. Bacakan hafalan di depan orang lain

Setelah menghafalkan beberapa ayat dengan baik, lancar, tidak ada yang salah, setorkan hafalan itu kepada orang lain. Ini penting. Karena boleh jadi kita merasa telah menghafal dengan baik, tapi sebenarnya belum baik. Atau ada satu dua kata yang terlewatkan, seperti huruf wa, padahal seharusnya fa. Innallaha, padahal yang benar wallahu… Dan seterusnya. Untuk mengetahui sudah tepat atau belum hafalan yang kita lakukan, kita perlu minta tolong kepada orang lain untuk menyimak hafalan kita.

3. Minta orang lain mengetes hafalan melanjutkan bacaan

Bila kita bisa mengulang (muraja’ah) sebuah surat dari awal sampai akhir surat dengan lancar, belum tentu kita bisa melanjutkan bacaan dari tengah surat. Itu menandakan kita belum mengenal surat itu dengan detail. Mengenal surat secara detail membantu ingatan kita untuk bertahan semakin lama.

Untuk itu, kembali kita memerlukan bantuan saudara kita untuk mengecek hafalan kita. Caranya, seseorang kita minta membacakan sebuah ayat dalam suatu surat tertentu yang telah kita hafal, lalu kita lanjutkan ayat berikut. Atau orang itu kita minta membaca awal sebuah ayat, lalu kita lanjutkan potongan ayat berikutnya sampai beberapa ayat berikutnya.

4. Membuat sebuah game

Permainan atau game adalah cara belajar yang menyenangkan. Sejak kanak-kanak kita melakukan game dengan senang. Tanpa kita sadari, dalam game itu tersimpan berbagai keterampilan yang bisa diperoleh dengan cara yang menyenangkan. Padahal bisa jadi keterampilan itu akan sulit kita dapatkan dengan selain game. Demikian pula halnya dengan keterampilan menghafal al-Quran. Berikut ini beberapa game yang bisa dimainkan untuk membantu memperkuat hafalan:

a. Membaca berkelompok tiap ayat bergantian

Beberapa orang duduk bersama tanpa membuka mushaf al-Quran, misalnya tiga orang. Dengan sebuah surat, misalnya al-Naba’ yang ayatnya berjumlah 40 ayat. Ayat pertama dibaca orang pertama, ayat kedua dibaca orang kedua, ayat ketiga dibaca orang ketiga, ayat keempat dibaca orang pertama lagi, ayat kelima dibaca orang kedua, ayat keenam dibaca orang ketiga, dan seterusnya. Sampai ayat keempat puluh dibaca orang pertama.

b. membaca berkelompok beberapa ayat bergantian

Beberapa orang duduk bersama tanpa membuka mushaf al-Quran, misalnya tiga orang. Dengan sebuah sebuah surat, misalnya al-Naba’. Orang pertama membaca ayat pertama dan kedua. Orang kedua membaca ayat ketiga dan keempat. Orang ketiga membaca  ayat kelima dan keenam. Kembali ke orang pertama membaca ayat ketujuh dan kedelapan. Demikian seterusnya sampai akhir surat. Hal yang sama bisa dilakukan dengan membaca tiga ayat atau empat ayat untuk tiap orang, sesuai kesepakatan.

c. membaca berkelompok dari ayat terakhir

Sama dengan game pertama di atas, hanya saja dimulai dari ayat terakhir. Jadi ayat ke-40 dibaca orang pertama, ayat ke-39 dibaca orang kedua, ayat ke-38 dibaca orang ketiga, ayat ke-37 dibaca orang pertama, ayat ke-36 dibaca orang kedua, dan seterusnya. Sampai nanti ayat pertama dibaca oleh orang pertama.

Boleh jadi muncul pertanyaan, apakah itu tidak berdosa, karena merusak makna? Kita kembalikan saja kepada niat kita melakukan game ini. Apakah kita ingin merusak makna? Jawabannya sudah pasti: Tidak. Dan seribu kali lagi: Tidak. Mustahil, karena kita orang yang beriman. Bahkan kita ingin beribadah dengan menghafal al-Quran.

Hal ini sama saja dengan seseorang yang menghafal surat al-Ma’un. Ketika sampai ayat keempat, lalu berusaha menghafal ayat keempat itu, tentu saja ia akan mengulang-ulang ayat keempat itu berkali-kali: “Fa wailul-lil-mushallin…” Yang artinya: “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat…” Pertanyaan yang sama: Apakah orang itu berdosa? Tentu saja jawabannya adalah: Tidak. Sama sekali tidak. Bahkan insya Allah berpahala, bila niatnya ikhlas untuk-Nya. Ia mengucapkan atau melafadhkan ayat itu berulang-ulang adalah sebagai proses menghafal, bukan untuk merusak makna surat.

5. Murajaah setiap ada kesempatan

Ada orang yang merasa tidak bisa menghafal al-Quran karena tidak ada waktu. Padahal waktu terbanyak dalam proses menghafal adalah pada murajaah (mengulang apa yang telah kita hafal). Bukan pada menghafal.

Sebuah misal, untuk menghafal surat al-Jumu’ah yang memiliki 11 ayat ditargetkan waktu empat belas hari. Tiap hari akan dihafal satu ayat. Tiap hari akan disediakan waktu sebanyak sepuluh menit. Masing-masing ayat akan dihafal dan disambung dengan ayat yang sesudahnya dalam waktu lima menit.

 

Target hafalan : Surat al-Jumu’ah (11 ayat)
Target waktu : 14 hari

11 hari menghafal, 3 hari murajaah penuh

Target hafalan tiap hari : 1 ayat
Waktu menghafal tiap hari : 10 menit untuk menghafal

5 menit untuk murajaah

 

Biasanya kita fokus kepada lima belas menit itu. Padahal kalau kita hanya mengandalkan waktu yang lima belas menit itu, jelas kita akan kesulitan. Apalagi dengan bertambahnya hari, berarti ayat yang telah kita hafal semakin banyak.

Untuk menyambung sebelas ayat supaya menjadi satu kesatuan diperlukan waktu untuk berlatih secara berulang-ulang. Untuk itu diperlukan waktu yang relatif lama, yang pasti lebih dari dua puluh menit setiap hari. Lalu dari mana waktu tambahan yang diperlukan itu akan disediakan?

Hampir tiap hari kita meluangkan waktu untuk berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lian. Mengantar anak ke sekolah, ke kantor, ke rumah teman, ke toko untuk belanja,  menjemput anak, dan seterusnya….

Ketika sedang berkendara itu biasanya kita gunakan pikiran, tenaga, dan anggota tubuh hanya untuk menyetir sepeda motor atau mobil. Padahal sambil menyetir itu banyak kesempatan yang bisa kita lakukan untuk menambah perbuatan baik.

Biasanya kita ngobrol dengan orang yang bersama kita selama berkendara. Atau berdzikir, sambil memikirkan sesuatu selain mengendara. Tentu saja sebenarnya kita pun bisa melakukan murajaah hafalan sambil berkendara itu….

Atau bahkan, dengan murajaah sambil berkendara itu bisa kita jadikan sarana untuk mengetes hafalan kita. Tapi jangan sampai gara-gara murajaah kita jadi kehilangan kendali pada kendaraan. Bisa-bisa nanti ada larangan murajaah sambil berkendara, sama dengan larangan bertelephon sambil berkendara. Atau kita akan menjadi orang yang masuk koran karena mengalami kecelakaan gara-gara murajaah… Semoga tidak terjadi.

Selain berkendara, terdapat kegiatan lain yang serupa. Seperti menunggu kendaraan umum, duduk dalam perjalanan kendaraan umum, menunggu istri belanja, atau menunggu dosen datang.

6. Malas murajaah berarti siap kehilangan

Setiap berhasil menambah hafalan ayat, biasanya kita merasakan kenikmatan. Bahkan kepuasan yang tiada terkira. Itulah nikmat sebagai bagian dari rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya yang tulus-ikhlas beribadah. Hal ini membuat kita demikian bersemangat untuk menambah hafalan. Ayat demi ayat, sampai akhir surat. Namun permasalahannya, setelah berhasil menghafal sebuah surat, pada umumnya kita mulai dihinggapi perasaan jenuh atau bosan mengulang-ulang hafalan.

Ibarat orang yang menanam pohon, itulah yang sedang kita lakukan dalam proses menghafal al-Quran. Biasanya kita bersemangat menanam bunga-bunga yang menghiasi rumah. Namun kemudian kita menjadi begitu malas merawatnya. Malas menyirami. Malas mencabuti rumput yang mengganggu tanaman. Malas memberi pupuk. Malas menjaganya dari hama.

Bila hanya menanam lalu ditinggal begitu saja, besar kemungkinan pohon itu akan mati. Bila kita ingin pohon itu tumbuh subur, tentu harus dirawat dengan baik.

Demikian pula bila kita menghafal al-Quran. Bila kita hanya menghafal, malas murajaah, maka itu sama saja halnya dengan orang yang menanam pohon tapi malas merawatnya. Hanya bedanya, bila pohon itu kadang memperoleh sumber nutrisi dari alam. Sementara hafalan kita tidak akan bisa hidup tanpa usaha dari kita sendiri, yaitu murajaah. Bila kita bisa menyuruh atau membayar orang untuk merawat tanaman, kita tidak bisa membayar orang untuk menjaga hafalan kita sendiri. Itu mustahil….

7. Memperbaiki hafalan lebih berat daripada menghafal

Sungguh, memperbaiki hafalan itu lebih berat daripada menghafal untuk pertama kalinya. Sama halnya dengan memperbaiki hubungan yang rusak dengan orang lain itu jauh lebih susah daripada menjalin hubungan baik untuk pertama kalinya.

Ketika menghafal sebuah atau beberapa ayat yang belum pernah kita hafal, kita seperti berkenalan dengan seseorang yang baru pertama kali kita jumpa. Tanpa

8. Membaca hafalan dalam shalat

Setelah membeli sebuah sepeda motor atau mobil, tentunya kita akan menggunakan kendaraan tersebut untuk keperluan sehari-hari. Adalah tidak wajar, bila ada orang membeli kendaraan, lalu mendiamkannya tanpa guna sama sekali, selain ingin memiliki saja. Mungkin ia membeli mobil itu dengan alasan supaya tidak kalah dengan teman-temannya. Supaya kalau ada orang bertanya, apakah ia memiliki mobil, ia bisa menjawab dengan bangga.

Hal itu sepenuhnya adalah hak orang yang bersangkutan. Apalagi mobil itu dibeli dengan uang asli, dari usaha yang halal, dan dengan cara yang benar. Hanya tidak wajar, kalau menganggurkan mobil itu tanpa guna.

9. Membaca hafalan sebagai imam dalam shalat berjamaah

Ketika menjadi imam shalat jahar (shalat yang imam mengeraskan bacaan al-Fatihah dan ayat-ayat al-Quran, yaitu: Maghrib, Isya’ dan Shubuh), setelah al-Fatihah, bisa dipastikan kita hanya akan membaca surat atau ayat-ayat al-Quran yang telah kita hafal dengan baik.

Dalam shalat, apalagi ketika sedang menjadi imam, tidak ada orang yang berani membaca surat atau ayat-ayat yang belum dihafal dengan baik. Bukan ‘hanya’ berdosa, tapi juga takut dirasani orang banyak. “Orang belum becus baca al-Quran begitu jadi imam.” Mungkin begitulah jamaah akan memberikan komentar tanpa diminta.

Oleh karena itu, membaca hafalan sebagai imam dalam shalat berjamaah merupakan suatu tantangan sekaligus pemacu diri kita dalam menghafal al-Quran.

10. Tingkatkan pengetahuan

Hendaknya kita tidak pernah puas dengan satu dua guru untuk menambah pengetahuan. Sebagaimana kita pun hendaknya tidak pernah puas dengan satu dua buku dalam bidang ilmu yang sama. Selama masih ada kesempatan, kita gunakan kesempatan itu untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, termasuk segala seluk-beluk yang berkaitan dengan menghafal al-Quran.

Bila bertemu dengan seorang hafidh (hafal al-Quran), mintalah nasihat darinya. Apa rahasia suksesnya, bagaimana tata caranya, bagaimana menghadapi perasaan malas, dan seterusnya. Boleh jadi masing-masing hafidh akan memberikan jawaban yang berbeda-beda, sesuai dengan pengalaman dan kondisi dirinya. Insya Allah banyak manfaat yang kita dapatkan.

Tags:

0 thoughts on “Tips Khusus Menjaga Hafalan al-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...