SHOPPING CART

close
Arba'in Nawawiyah

Iltizam dengan Syariat (30)

Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Dan tanpa petunjuk-Nya, manusia akan selalu dalam ketersesatan. Terombang-ambing antara satu titik ekstrim yang satu kepada titik ekstrim yang berseberangan.

Allah Swt. tidak membiarkan manusia kebingungan. Maka Dia mengangkat para nabi dan menurunkan wahyu sebagai petunjuk terbaik bagi kehidupan umat manusia.

Allah tidak pernah sedikitpun mengambil keuntungan dan manfaat dari setiap perintah dan larangan-Nya. Semua hasil dan buah dari ketaatan manusia akan dipetik dan dinikmati oleh manusia itu sendiri.

Demikian pula, tidak ada sedikitpun kerugian bagi Allah atas setiap pembangkangan dan sikap durhaka yang ditunjukkan oleh umat manusia atas perintah dan larangan-Nya. Justru manusia sendirilah yang akan merugi dengan sikap keras kepala dan membandelnya.

Selain perintah dan larangan yang sudah jelas, terdapat hal-hal yang secara sengaja Allah diamkan tanpa perintah dan larangan. Sebagai kelonggaran bagi umat manusia untuk menentukan pilihannya sendiri sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing.

Selanjutnya marilah kita perhatikan hadits berikut ini. Semoga Allah Swt. berkenan membukakan pintu ilmu dan hikmah-Nya bagi kita semua.

Teks Hadits

عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ جُرثُومِ بنِ ناشرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ فَرَائِضَ، فَلَا تُضَيِّعُوهَا، وَحَدَّ حُدُودًا فَلَا تَعْتَدُوهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ، فَلَا تَنْتَهِكُوهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ، فَلَا تَبْحَثُوا عَنْهَا

حَدِيثٌ حسنٌ، رَوَاهُ الدارقطني وَغَيْرُهُ

Terjemah

Dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani Jurtsum bin Nasyir radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Saw., beliau bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan hal-hal yang wajib, maka janganlah kalian mengabaikannya. Dia telah menetapkan beberapa batasan, maka janganlah kalian melampauinya. Dia telah mengharamkan beberapa hal, maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Dia mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasih sayang buat kalian, yang bukan karena lupa, maka janganlah kalian mencari-cari tentangnya.”

(HR. Daruquthni dan yang lainnya, dengan status hadits hasan).

Catatan dan Keterangan

Selanjutnya berikut ini kami sampaikan beberapa catatan dan keterangan tentang hadits di atas:

– Jangan Mengabaikan Kewajiban

Bila Allah memberikan perintah yang bersifat wajib terhadap suatu perbuatan, maka pastilah perbuatan itu sangat penting bagi manusia. Hidup manusia pasti akan menjadi susah tanpa melakukan perbuatan tersebut.

Oleh karena itu, bila kita ingin bisa hidup dengan aman dan tenteram, hendaknya kita berusaha secara maksimal untuk memenuhi kewajiban tersebut. Meskipun secara zahir nampak pahit, pasti akan manis dan nikmat akibatnya.

Seperti kewajiban melaksanakan shalat lima waktu, puasa Ramadhan, zakat fitrah dan maal, sampai kepada haji. Sebagai rukun Islam hendaknya kita bersungguh-sungguh menata rencara hidup kita dengan baik. Sehingga berbagai kewajiban itu bisa kita laksanakan dengan baik dan tertib.

Jangan sampai kita mati sebelum melaksanakan ibadah haji, misalnya. Minimal kita wujudkan niat itu dengan kesungguhan menyisihkan sebagian rezeki yang kita terima, meskipun terasa kecil. Yaitu dengan membuka rekening tabungan khusus haji. Lalu tiap bulan kita menabung dengan jumlah tertentu sesuai dengan kemampuan. Bukan jumlahnya, namun kesungguhan kita dalam menyisihkan uang itu yang nanti akan kita jadikan bukti di hadapan Allah Swt. seandainya kita mati belum sempat berangkat haji.

– Jangan Melampaui Batas

Dalam mengejar kesenangan, tidak jarang manusia lengah dan tidak menyadari mana batasan yang dia harus berhenti dan menahan diri. Untuk itulah Allah Swt. memberikan batasan sebagai peringatan akan keterbatasan kemampuan dasar manusia.

Batasan yang telah ditentukan Allah hendaknya kita perhatikan dengan baik. Karena Allah paling mengetahui sampai di mana batas kemampuan kita. Sampai di mana batas kekuatan kita untuk menanggung tanggung jawab secara jasmani, rohani maupun kemampuan berpikir.

Sebuah misal, perut kita ini sudah pasti ada batasan di mana kita bisa mengisinya dengan makanan yang bermanfaat dan bergizi. Kita berusaha untuk menahan diri untuk tidak makan sebelum lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang. Melampaui batasan ini, bisa dipastikan perut kita akan menjadi gendut, apalagi usia sudah kepala empat.

Demikian pula dalam beristri misalnya. Bagaimanapun bagusnya kualitas rohani, jasmani maupun materi seorang manusia, ada batasan di mana tidak boleh dilampaui. Yaitu jumlah maksimal empat orang istri. Dan seterusnya, dan seterusnya.

– Jangan Melakukan Perbuatan Haram

Allah Swt. memberikan pernyataan yang amat tegas, bahwa semua yang ada di bumi ini adalah untuk manusia. Kita boleh mengambil manfaat seluas-luasnya. Namun hendaknya kita berhati-hati. Bahwa cara pemanfaatan yang keliru bisa merugikan diri kita sendiri. Dan bagaimanapun tingginya tingkat ilmu dan pengetahuan manusia, sejatinya dia adalah bodoh.

Karena itulah Allah Swt. memberikan petunjuka mana saja yang tidak boleh dilakukan dan dikonsumsi. Dari situlah ada istilah haram, yang harus benar-benar ditinggalkan umat manusia.

Dalam hal usaha meninggalkan yang haram ini hendaknya lebih serius kita perhatikan melebihi usaha kita untuk melaksanakan kewajiban. Karena yang wajib itu kita harus bersikap aktif. Pakai modal. Adapun yang haram ini kita cukup bersikap pasif. Modalnya hanya diam alias menahan diri.

– Jangan Membahas Yang Didiamkan

Ada hal-hal yang secara jelas diatur dalam syariat Islam. Baik aturan itu bersifat perintah maupun larangan. Namun ada banyak hal yang tidak diatur. Seperti warna pakaian dan makanan, warna kulit calon pasangan, atau model kendaraan yang menjadi pilihan. Semua itu diserahkan sepenuhnya kepada selera manusia. Dan jangan sampai kita memiliki pandangan bahwa Allah lupa tidak mengaturnya.

Pembahasan yang terlalu detail itu justru akan memberatkan manusia sendiri. Padahal di sinilah Allah hendak memberikan kebebasan kepada umat manusia untuk melakukan kreasi sesuai dengan kebutuhan hidup dan tuntutan zaman.

Penutup

Demikianlah beberapa catatan dan keterangan yang bisa kami sampaikan berkaitan dengan hadits di atas. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Amin…

Allahu a’lam.

Tags:

0 thoughts on “Iltizam dengan Syariat (30)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...