SHOPPING CART

close
Manajemen Harta

Mengapa Seorang Pria Lebih Berhak untuk Diterima Kerja daripada Wanita?

Seandainya saya mendirikan sebuah perusahaan, maka saya akan mengutamakan para pekerja dari kaum Adam. Bukan karena saya suka sesama jenis, nauzu billah min zalik.

Bukan pula karena saya punya dendam pribadi terhadap kaum Hawa. Bukan sama sekali. Tapi karena pertimbangan berikut ini:

Karena laki-laki wajib bekerja. Karena laki-laki wajib menafkahi dirinya sendiri. Karena laki-laki wajib menafkahi keluarganya.

Karena laki-laki punya dosa yang tidak bisa dihapus kecuali dengan bekerja. Karena laki-laki akan masuk neraka kalau hanya di rumah, meskipun dia rajin ibadah.

Sedangkan perempuan tidak seperti itu. Perempuan tidak ada kewajiban untuk bekerja. Perempuan bisa masuk surga dengan hanya di rumah saja.

Rajin ibadah, rajin tambah ilmu, berbakti pada orangtua, bakti pada suami, pandai merawat anak, baik pada tetangga, sudah. Insya Allah masuk surga.

“Lho, Pak. Lalu untuk apa dong, perempuan capek-capek sekolah dan kuliah?”

Untuk melaksanakan tugasnya sendiri. Tugas yang tidak kalah beratnya dengan tugas laki-laki. Tugas itu adalah menyiapkan generasi yang lebih baik daripada dirinya dan suaminya. Untuk itulah diperlukan ilmu yang setinggi mungkin.

Saudaraku yang dirahmati Allah, baik laki-laki maupun perempuan…

Ajaran Islam merupakan konsep yang sudah sempurna sejak awal. Bukan konsep coba-coba, alias trial and error.

“Tapi, bukankah diperlukan tahapan-tahapan dalam menegakkan syariat Islam?”

Memang benar, bahwa untuk menerapkan syariat Islam diperlukan tahapan-tahapan tertentu, sehingga tidak bertentangan dengan tujuan diterapkannya syariat Islam itu sendiri, sehingga mampu menjadi rahmat, bukan laknat. Itu iya, kita semua setuju.

Tapi bukan berarti kita melupakan dan mengesampingkan konsep yang asli. Konsep yang asli ya itu tadi. Perempuan tugas utamanya dalam rumah, laki-laki lebih banyak di luar rumah.

“Lalu bagaimana kalau ada perempuan yang dalam kondisi tertentu dia juga harus bekerja?”

Baiklah.

Kita semua juga setuju, bahwa ada kondisi dan pekerjaan tertentu, dimana perempuan lebih diutamakan daripada laki-laki. Tapi pengecualian ini tidak bisa kita gunakan sebagai standar umum. Pengecualian hanya bisa kita gunakan untuk kondisi tertentu saja.

Misalnya, ada seorang perempuan sebatang kara, tidak punya orangtua maupun sanak-saudara. Sehingga tidak ada yang memberinya nafkah. Maka dia layak mendapatkan prioritas untuk diterima sebagai pegawai.

“Wah, nanti malah tidak profesional dong, Pak.”

Bila laki-laki itu bukan orang yang memenuhi standar kompetensi yang kita butuhkan, meskipun dia orang yang sangat membutuhkan, tetap kita tolak dengan baik.

Maksud saya, bila ada tiga orang yang sama-sama memenuhi kriteria yang kita inginkan, maka kita lihat siapa di antara mereka yang paling membutuhkan. Dan menurut saya, secara umum laki-laki itu lebih membutuhkan pekerjaan daripada perempuan, karena beberapa alasan di atas.

Demikian yang bisa kami sampaikan. Bila masih ada yang perlu didiskusikan atau dipertanyakan, kita bisa buka sesi dialog dalam kolom komentar. Sekian, dan atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Tags:

0 thoughts on “Mengapa Seorang Pria Lebih Berhak untuk Diterima Kerja daripada Wanita?

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...