SHOPPING CART

close

Tabligh: Pengertian dan Kemuliaannya dalam al-Qur’an-Hadits

Pengertian

Secara bahasa, tabligh artinya menyampaikan, seperti kita menyampaikan salam seorang teman kepada teman yang lain. Seperti pula kita menyampaikan sebuah pesan dari seorang teman kepada teman yang lain.

Secara istilah, tabligh artinya menyampaikan kabar, berita, atau informasi kepada orang lain. Dengan kata lain, tabligh artinya mengumumkan atau mengabarkan. Dengan demikian, makna tabligh secara istilah ini lebih khusus daripada makna tabligh secara bahasa.

Setiap nabi bersifat tabligh, artinya nabi selalu mengabarkan setiap wahyu yang dia diterima kepada umatnya. Tidak ada satu pun wahyu yang dia sembunyikan, sekalipun wahyu itu berupa teguran kepada nabi sendiri, seperti yang dialami Nabi Muhammad Saw. berkenaan dengan turunnya Surat ‘Abasa.

Selain menyampaikan setiap wahyu kepada umat yang ditemuinya, nabi juga mencari cara bagaimana seluruh umatnya bisa menerima wahyu tersebut dengan baik. Dengan demikian, seorang nabi bukan hanya menyampaikan wahyu tersebut kepada orang-orang yang dijumpainya, tapi juga memastikan, bahwa orang-orang yang telah menerima wahyu tersebut juga menyampaikan kepada orang-orang yang tidak bisa bertemu dengan nabi. Oleh karena itu, Nabi Muhammad Saw. memberikan perintah kepada para shahabat untuk menuliskan setiap ayat al-Qur’an dengan rapi, dan menghafalnya dengan tertib.

Lawan kata

Lawan dari sifat tabligh adalah kitman. Kitman artinya menyembunyikan sebagian atau keseluruhan dari wahyu yang sudah diterima, sehingga orang lain tidak mengetahuinya.

Nabi mustahil bersifat kitman. Adapun manusia biasa, banyak di antara mereka yang bersifat kitman, khususnya para pemuka agama dalam agama Yahudi. Mereka menyembunyikan sebagian besar dari Kitab Taurat dengan tujuan-tujuan tertentu. Dalam al-Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang mencela sifat para pemuka agama Yahudi itu, dengan harapan supaya kita tidak meniru sifat kitman mereka.

Sinonim

Berkaitan dengan kata tabligh ini, ada kata yang cukup sering digunakan oleh masyarakat muslim di tanah air, yaitu: mubaligh. Mubaligh merupakan pelaku perbuatan tabligh. Apabila tabligh merupakan sebuah aktivitas, mubaligh adalah orang yang melaksanakan aktivitas tersebut. Mubaligh juga biasa disebut dengan dai atau ustadz.

Istilah mubaligh, dai, dan ustadz biasa kita gunakan dalam percakapan sehari-hari dalam konteks kalimat yang sama. Namun sebenarnya ketiga istilah ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

Istilah mubaligh menekankan pada tugas menyampaikan, yaitu menyampaikan pesan-pesan ajaran Islam. Istilah dai menekankan pada tugas mengajak atau menyeru, yaitu mengajak dan menyeru orang lain untuk bersama-sama mentaati ajaran Islam.

Adapun istilah ustadz menekankan pada keilmuannya, karena ustadz ini makna sebenarnya adalah guru besar atau profesor. Tapi kita sudah terlanjur menggunakan istilah ustadz ini sebagai penghormatan bagi seseorang yang memiliki suatu kecakapan dalam bidang agama, seperti: menjadi imam dalam shalat lima waktu di masjid, menyampaikan pesan-pesan keagamaan, atau membaca ayat-ayat al-Qur’an dengan bacaan yang indah (qira’ah).

A. SIFAT TABLIGH ITU MULIA

Dalam al-Qur’an, kita mendapati perintah untuk bersifat tabligh yang ditujukan kepada para nabi, termasuk perintah yang secara khusus ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw.. Selanjutnya, sifat tabligh ini juga harus dimiliki oleh setiap mubaligh atau dai sebagai pewaris risalah kenabian. Tabligh itu merupakan sifat mulia, yang harus dimiliki orang-orang yang mulia.

1. Mulianya Sifat Tabligh dalam al-Qur’an

Di dalam al-Qur’an, Allah Swt. menjelaskan, bahwa tugas utama setiap nabi dan rasul adalah menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan. Dengan kata lain, setiap nabi dan rasul itu bertugas menyampaikan informasi dari Allah Swt.

Allah berfirman:

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُل.

Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. (an-Nisa’: 65)

Dalam ayat yang lain, Allah Swt. memberikan perintah kepada Nabi Muhammad Saw. untuk menyampaikan risalah kenabian.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ، وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ.

Wahai Rasul, sampaikanlah (tabligh) apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Bila tidak kamu kerjakan apa yang diperintahkan itu, berarti kamu tidak menyampaikan amanah-Nya. (al-Maidah: 67)

Penegasan tugas utama setiap rasul

Dalam ayat-ayat yang lain, Allah memberikan penegasan, bahwa tugas utama seorang rasul adalah mengabarkan atau bertabligh. Bagaimana tanggapan dari umatnya, sepenuhnya menjadi urusan antara seorang hamba dan Tuhannya. Allah berfirman:

مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ.

Kewajiban rasul tidak lain hanyalah tabligh (menyampaikan amanah dari Allah), dan Allah mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan. (al-Maidah: 99)

Allah juga berfirman:

فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ، وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ.

Maka sesungguhnya tugasmu hanya bertabligh (menyampaikan), dan Kamilah yang memperhitungkan (amal mereka). (ar-Ra’d: 40)

Dalam ayat yang lain, para nabi sendiri juga menyatakan kepada umatnya, bahwa tugas mereka sekedar bertabligh sebaik mungkin. Tidak lebih dari itu. Allah mengabadikan perkataan mereka itu dengan firman-Nya:

قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ. وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ.

Para nabi itu berkata, “Tuhan kami mengetahui, bahwa sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Allah kepadamu. Dan kewajiban kami hanyalah bertabligh secara jelas.” (Yasin: 16-17)

Taat atau tidak adalah urusan Allah

Selanjutnya Allah Swt. memberikan perintah kepada orang-orang yang beriman untuk selalu taat kepada para nabi, sebagaimana mereka taat kepada Allah. Namun apabila mereka tidak mau taat, maka tugas para nabi itu hanya bertabligh.

Allah berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ، فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ.

Dan taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul. Bila kalian berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu hanya bertabligh dengan jelas. (at-Taghabun: 12)

Kemudian pada gilirannya, orang-orang yang beriman pun memiliki kewajiban untuk bertabligh kepada seluruh umat manusia. Bertabligh ini merupakan syarat utama bagi terpenuhinya sifat sebagai sebaik-baik umat. Allah berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ، تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ.

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, bila kalian menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. (Ali ‘Imran: 110)

2. Mulianya Sifat Tabligh dalam Sabda Nabi Muhammad Saw.

Demikian penting kedudukan tabligh dalam ajaran Islam, pada banyak kesempatan Nabi Muhammad Saw. memberikan perintah kepada umatnya untuk melaksanakan sifat tabligh ini.

Meskipun hanya satu ayat

Sebuah misal, secara umum beliau berpesan:

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً.

Sampaikanlah kabar dariku, meskipun hanya sebuah ayat. (HR. Bukhari)

Dalam pesan tersebut, Nabi Muhammad Saw. memberikan perintah kepada umatnya untuk melaksanakan sifat tabligh ini. Bertabligh sesuai dengan kemampuannya, karena Allah Swt. tidak memberikan beban kepada seorang hamba melebihi kemampuannya.

Apabila memang hanya mampu bertabligh satu ayat, hendaknya satu ayat itu disampaikan kepada orang yang belum mendengarnya. Baik menyampaikan bacaan ayat tersebut, menyampaikan penjelasannya, maupun menyampaikan contoh prakteknya. Dan hanya menyampaikan satu ayat ini bukanlah aib. Justru orang yang sebenarnya mampu bertabligh dengan banyak ayat, tapi tidak melakukan tabligh, merupakan orang yang memiliki sifat tercela, yaitu sifat kitman.

Celaan bagi yang tidak mau bertabligh

Pada kesempatan yang lain, Nabi Muhammad Saw. bersabda:

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِى نَصِيبِنَا خَرْقًا، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا. فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا.

“Perumpamaan antara orang yang taat kepada aturan-aturan Allah dan orang yang suka melanggar itu, seperti suatu kaum yang melakukan undian tempat di atas kapal. Sebagian di antara mereka pun mendapat tempat di bagian atas, dan sebagian yang lain mendapat tempat di bawah. Apabila ingin memperoleh air, orang-orang yang mendapat tempat di bagian bawah itu harus melewati orang-orang yang mendapat tempat di bagian atas tadi.

“Lalu orang-orang yang tinggal di bawah itu pun berkata, “Andai kita membuat lubang di bagian bawah kapal, tentu kita tidak perlu mengganggu orang-orang yang tinggal di atas. Apabila mereka membiarkan orang-orang itu melakukan rencana itu, maka pasti mereka semua akan celaka. Namun apabila mereka mencegah rencana itu, maka mereka semua akan selamat.” (HR. Bukhari)

Kisah Bani Israel

Tabligh dalam hadits di atas bukan hanya membacakan ayat-ayat ilahi, namun juga memberikan peringatan kepada orang yang sedang berbuat salah. Hal ini juga ditegaskan dalam sabda Nabi Muhammad Saw. pada kesempatan yang lain.

Marilah kita perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud di bawah ini:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَوَّلَ مَا دَخَلَ النَّقْصُ عَلَى بَنِى إِسْرَائِيلَ، كَانَ الرَّجُلُ يَلْقَى الرَّجُلَ، فَيَقُولُ: يَا هَذَا اتَّقِ اللَّهِ، وَدَعْ مَا تَصْنَعُ، فَإِنَّهُ لاَ يَحِلُّ لَكَ. ثُمَّ يَلْقَاهُ مِنَ الْغَدِ فَلاَ يَمْنَعُهُ ذَلِكَ، أَنْ يَكُونَ أَكِيلَهُ وَشَرِيبَهُ وَقَعِيدَهُ. فَلَمَّا فَعَلُوا ذَلِكَ ضَرَبَ اللَّهُ قُلُوبَ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ. ثُمَّ قَالَ: (لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِى إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ) إِلَى قَوْلِهِ (فَاسِقُونَ). ثُمَّ قَالَ: كَلاَّ وَاللَّهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَلَتَأْخُذُنَّ عَلَى يَدَىِ الظَّالِمِ، وَلَتَأْطُرُنَّهُ عَلَى الْحَقِّ أَطْرًا، وَلَتَقْصُرُنَّهُ عَلَى الْحَقِّ قَصْرًا.

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata:

Rasulullah Saw. bersabda, “Sifat lemah itu pertama kali terjadi pada Bani Israel, ketika seseorang menemui seseorang yang lain, lalu dia berkata, ‘Wahai Fulan, bertakwalah kepada Allah, dan tinggalkanlah apa yang sedang engkau perbuat, karena perbuatan itu tidak halal bagimu.’ Kemudian dia menemui orang itu pada keesokan harinya, tapi dia tidak mencegahnya, karena dia telah makan, minum dan duduk bersama dengan orang itu. Ketika mereka telah melakukan semua itu, maka Allah pun menjadikan hati mereka saling bermusuhan.”

Kemudian beliau membaca ayat (yang artinya), “Telah dilaknat orang-orang kafir dari golongan Bani Israel dengan lisan Dawud dan ‘Isa bin Maryam.” Hingga ayat (yang artinya), “Mereka itu orang-orang yang fasiq).” Kemudia beliau bersabda, “Sungguh, demi Allah, kalian harus memerintahkan perbuatan yang makruf, mencegah perbuatan yang mungkar, menghentikan orang yang bertindak zalim, serta mencintai dan membela kebenaran.” (HR. Abu Dawud)

3. Buruknya Sifat Kitman

Sebagai lawan dari sifat tabligh yang mulia, sifat kitman merupakan sifat yang amat dicela dalam agama Islam. Dalam al-Qur’an, sifat kitman ini merupakan sifat orang-orang Yahudi yang suka memonopoli segala sesuatu, baik yang berupa materi maupun non-materi, termasuk berbagai informasi yang berkaitan dengan ajaran para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw.

Kisah orang-orang Yahudi

Karena demikian kuatnya sifat kitman orang-orang Yahudi ini, sehingga Allah pun memberikan peringatan kepada Nabi Muhammad Saw. untuk tidak terlalu mengharapkan keislaman orang-orang Yahudi itu. Allah berfirman:

أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ. وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آَمَنُوا قَالُوا آَمَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالُوا أَتُحَدِّثُونَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاجُّوكُمْ بِهِ عِنْدَ رَبِّكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ. أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ.

Apakah kamu masih mengharapkan Bani Israel itu akan percaya padamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “Kami pun telah beriman.”

Tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, mereka berkata, “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang yang beriman) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan argumentasimu di hadapan Tuhanmu? Tidakkah kamu berpikir?” Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan? (al-Baqarah: 75-77)

Mereka dilaknat Allah

Untuk mengingatkan umat Islam agar tidak mengulang sifat buruk orang-orang Yahudi yang amat tercela itu, Allah pun memberikan penjelasan, bahwa orang-orang Yahudi itu merupakan orang-orang yang dilaknat. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ.

Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam al-Kitab (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan dilaknat pula oleh mereka yang melaknat. (al-Baqarah: 159)

Motivasi duniawi

Sifat kitman orang-orang Yahudi itu ternyata didorong oleh keuntungan sementara yang bersifat duniawi. Sikap yang demikian itu sesungguhnya merupakan sikap yang akan merugikan diri mereka sendiri. Mereka telah menukar hidayah yang seharusnya bisa mereka menjadi kesesatan dengan kesadaran diri mereka. Bahkan mereka telah menukar ampunan yang sebenarnya bisa mereka rengkuh dengan adzab yang pedih. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ، وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ، وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ، فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ.

Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al-Kitab, dan menjualnya dengan harga yang murah, mereka hanya menelan api neraka ke dalam perutnya. Dan Allah tidak akan menyapa mereka pada hari kiamat, dan tidak akan pula menyucikan mereka. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, dan azab dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka. (al-Baqarah: 174-175)

_____________

Sumber dan Bacaan: 

– Buku ar-Rusul war-Risalat‘, Syeikh Umar Sulaiman al-Asyqat.

– Artikel Shifat al-Anbiya’ war RusulSyeikh Batul ad-Daghim. mawdoo3.com

– Buku Dahsyatnya 4 Sifat NabiAhda Bina A. Lc. 

 

[1] Wizarah al-Auqaf wa as-Syu’un al-Islamiyah, . Kuwait: Wizarah al-Auqaf wa as-Syu’un al-Islamiyah, 1987. Vol. 10 hal. 116.

[2] Ibid.

Tags:

One thought on “Tabligh: Pengertian dan Kemuliaannya dalam al-Qur’an-Hadits

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.