SHOPPING CART

close

Jurus Jitu Agar Anak Mudah Menghafal al-Qur’an

Pada kesempatan ini kita akan mulai praktik menghafal. Apabila kita bersedia menerapkan setiap tahapan di bawah ini, insya Allah kita akan menerima kemudahan untuk membantu anak menghafal ayat demi ayat surat-surat al-Qur’an.

Permasalahan akan muncul satu demi satu, apabila kita tidak melakukan tahapan-tahapan dimaksud secara tertib.

Oleh karena itu, marilah kita perhatikan bersama beberapa tahapan di bawah ini.

Semoga Allah memberikan pemahaman kepada kita semua…

1. Mulai dengan Berdoa

Doa merupakan wujud pengakuan, bahwa sesungguhnya kita tidak punya kemampuan apa pun. Allah adalah satu-satunya pihak yang menentukan apakah kita akan sukses atau sebaliknya, gagal.

Dengan doa, kesuksesan tidak akan menjadikan kita takabur dan tinggi hati. Sebagaimana dengan doa pula, kegagalan tidak akan menjadikan kita merasa kecil dan rendah diri. Doa membantu kita bersikap wajar dan proporsional.

Doa mengingatkan kita bahwa tujuan kita melakukan kegiatan ini, demikian pula kegiatan kita yang lain, adalah semata-mata ridha Allah I. Baik kesuksesan maupun kegagalan hanyalah bentuk ujian dari-Nya. Apakah kita tetap mampu bersyukur, apabila kesuksesan mampu kita raih. Dan apakah kita mampu bersabar, apabila kegagalan yang harus kita terima.

Karena itu, sebisa mungkin anak-anak kita latih untuk selalu berdoa dalam setiap aktivitasnya, termasuk dalam menghafal ayat-ayat al-Qur’an.

Adapun lafaz doa, bisa kita sesuaikan dengan kondisi dan kemampuan anak, juga kondisi dan kemampuan kita sebagai orang tua. Doa yang terbaik adalah doa yang terbit dari ketulusan dan kesungguhan hati kita dalam memohon. Bahasa Indonesia atau daerah juga boleh pilih. Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.

2. Baca Ayat Pertama Secara Benar  dan Perlahan

Setelah berdoa, kita bacakan ayat yang hendak kita hafalkan pada anak dengan teliti. Benar-benar teliti. Kita perhatikan huruf-hurufnya. Jangan ada satu pun huruf yang salah baca. Kita perhatikan pula harakatnya. Jangan ada satu pun huruf yang salah baca harakatnya.

Selama proses menghafal ayat-ayat al-Qur’an, bila ada satu saja huruf yang salah baca, hendaknya kita mengulang bacaan ayat tersebut dari awal. Demikian pula halnya dengan harakat. Apabila ada satu saja huruf yang salah baca harakatnya, hendaknya kita mengulang bacaan ayat tersebut dari awal pula. Hendaknya hal ini kita terapkan pula untuk anak.

Membaca ayat secara benar 100% ini perlu kita lakukan. Setiap kesalahan dalam membaca, akan kita bawa pula dalam menghafalnya. Bila kita salah membaca sebuah ayat, maka juga akan salah menghafalnya.

Kita baru akan menyadari pentingnya membaca dengan benar, setelah kita selesai menghafal sebuah ayat ataupun sebuah surat. Ternyata, memperbaiki hafalan yang terlanjur salah itu lebih susah daripada menghafal. Hal yang sama juga berlaku bagi anak-anak.

Kita membaca ayat ini dengan cara perlahan. Kita berusaha untuk membacanya dengan sesempurna mungkin. Hal ini kita lakukan sebagai bentuk penghormatan kepada kalam ilahi. Setiap ayat dalam semua surat merupakan wahyu dari Allah I sebagai curahan kasih dan sayang-Nya kepada setiap manusia, termasuk diri kita masing-masing. Sudah sepantasnya kita berusaha memperlakukan setiap ayat ini dengan sikap yang penuh hormat serta lemah lembut. Hendaknya hal ini juga kita usahakan untuk bisa tertanam dalam diri anak-anak, khususnya dengan contoh yang kita lakukan.

Setelah kita selesai membaca ayat itu, kita suruh anak untuk membacanya dengan benar. Bila anak belum bisa membaca, kita eja ayat tersebut kata per kata kepada anak, sehingga anak bisa menirukannya sedikit demi sedikit. Untuk lebih jelasnya marilah kita lanjutkan pembahasan secara lebih praktis pada poin-poin berikutnya.

3. Potong-potong Ayat Itu Menjadi Satu atau Dua Suku Kata

Apabila anak belum bisa membaca, kita potong ayat itu menjadi beberapa bagian yang mudah ditirukan oleh anak. Sebuah misal kita akan menuntun anak menghafal ayat pertama surat an-Nashr berikut ini:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ.

Idzâ jâ-a nashrullâhi wal-fath.

Kita potong menjadi:

إِذَا…  جَاءَ… نَصْرُ اللَّهِ… وَالْفَتْحُ.

  • idzâ…
  • jâ-a…
  • nashrullâhi…
  • wal-fath.

Dalam memotong ayat ini, kita boleh menyesuaikan dengan kemampuan anak. Dengan demikian, kita pun bisa memotong ayat di atas dengan bacaan:

  • idzâ…
  • jâ-a…
  • nash…
  • rullâ…
  • hi…
  • wal…
  • fath

4. Ajak Anak Menirukannya

Berikutnya, kita ajak anak untuk menirukan bacaan ayat di atas, sepotong demi sepotong. Hendaknya kita perhatikan bacaan anak dengan teliti. Kita dengarkan bacaan anak secara seksama. Sekali lagi, kita usahakan jangan sampai ada satu huruf pun yang salah baca. Jangan sampai ada satu harakat pun yang salah baca.

  • idzâ…
  • jâ-a…
  • nash…
  • rullâ…
  • hi…
  • wal…
  • fath

Apabila ada satu huruf saja yang salah baca, kita bacakan lagi bacaan yang benar, lalu kita minta anak untuk menirukannya sampai benar. Demikian pula halnya dengan harakat. Di sinilah ketelitian, ketelatenan, dan kesabaran kita perlukan dalam usaha mengajak anak menghafalkan ayat-ayat Allah.

Semoga Allah memberikan balasan yang sebesar-besarnya, juga sebanyak-banyaknya, bagi setiap orang tua yang dengan tulus bersabar dan telaten mengajarkan ayat-ayat Allah kepada anak-anaknya.

5. Sambung Menjadi Tiga atau Empat Suku Kata

Masih pada ayat yang sama. Apabila anak sudah bisa menirukan bacaan ayat tersebut sepotong demi sepotong dengan benar, kita sambung potongan-potongan tersebut menjadi tiga atau empat “suku kata”.

إِذَاجَاءَ… نَصْرُ اللَّهِ… وَالْفَتْحُ.

  • idzâ jâ-a…
  • nashrullâhi…
  • wal-fath…

6. Tingkatkan Lagi Menjadi Lima atau Enam Suku Kata

Bila anak sudah bisa menyambung bacaan menjadi tiga atau empat “suku kata” di atas, barulah kita tingkatkan bacaan menjadi lima atau enam “suku kata”. Ayat yang semula kita baca:

إِذَاجَاءَ… نَصْرُ اللَّهِ… وَالْفَتْحُ.

Idzâ jâ-a… nashrullâhi… wal-fath.

Kita tingkatkan bacaan ayat dengan membacanya:

إِذَاجَاءَ نَصْرُ اللَّهِ… وَالْفَتْحُ.

Idzâ jâ-a nashrullâhi… wal-fath.

Kembali kita ajak anak membacanya:

  • idzâ jâ-a nashrullâhi
  • wal-fath.

7. Demikian dan Seterusnya Hingga Menjadi Satu Ayat Penuh

Demikianlah secara bertahap kita mengajarkan bacaan kata demi kata kepada anak, atau bahkan suku kata demi suku kata sehingga dia mudah menghafalnya secara benar. Kita membacanya, lalu anak kita minta menirukan bacaan tersebut. Demikian seterusnya, sehingga hafalan lengkap satu ayat penuh.

إِذَاجَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ.

Idzâ jâ-a nashrullâhi wal-fath.

8. Jangan Menambah Ayat Bila Ayat Pertama Belum Hafal Sempurna

Hendaknya kita tidak menambah hafalan ayat, selama ayat yang sedang kita hafal belum berhasil kita hafalkan dengan sempurna. Hal ini hendaknya juga kita terapkan untuk anak-anak. Hendaknya kita tidak menambah hafalan ayat untuk anak, apabila anak belum menghafalnya dengan sempurna.

Ini merupakan kaedah yang sederhana, tapi terasa amat berat untuk diterapkan, karena biasanya kita ingin menyelesaikan tugas secepat mungkin. Sekali lagi, di sinilah ketelatenan dan kesabaran amat diperlukan.

Menambah hafalan dengan ayat yang baru, padahal ayat yang sedang dihafal belum sempurna, sama dengan menambah masalah baru, padahal masalah yang sebelumnya belum selesai. Apabila hal ini terus-menerus dilakukan, maka tidak ada ayat yang berhasil dihafal dengan sempurna. Dan hasilnya adalah hafalan ayat demi ayat yang compang-camping.

Sikap demikian jelas merupakan sikap yang tidak terpuji. Sikap ini sama dengan meremehkan ayat-ayat al-Qur’an. Apalagi kita sedang berusaha memberikan pelajaran kepada anak. Sikap ini sama dengan mengajari anak untuk meremehkan ayat-ayat al-Qur’an. Na’ûdzu billâh min dzâlik

9. Tanda Anak Sudah Hafal Sebuah Ayat dengan Sempurna

Banyak di antara kita mengira, apabila sudah bisa membaca sebuah ayat di luar kepala sekali saja, berarti kita sudah menghafal ayat tersebut dengan sempurna. Padahal tidak demikian.

Tanda bahwa kita sudah hafal sebuah ayat dengan sempurna, apabila kita bisa membacanya sebanyak tiga kali berturut-turut, dan tidak ada satu pun huruf maupun harakat yang salah baca. Apabila masih ada satu saja huruf atau harakat yang salah baca, berarti kita belum menghafal ayat tersebut dengan sempurna.

Hal ini hendaknya juga kita terapkan untuk anak-anak. Kita minta anak untuk mengulangi hafalan ayat tersebut sebanyak minimal tiga kali berturut-turut. Apabila dua kali bisa membacanya dengan benar, lalu yang ketiga ada huruf atau harakat yang salah, hitungan kita mulai dari awal lagi.

Bila baru dua kali secara berututan, lalu yang ketiga ada salahanya, berarti itu baru dua kali berturut-turut. Dinamakan tiga kali berturut-turut apabila kita bisa membacanya tiga kali berturut-turut. Bukan sekedar tiga kali.

10. Pindah ke Ayat Berikutnya

Setelah anak berhasil membaca ayat tersebut sebanyak tiga kali berturut-turut, barulah kita berpindah kepada ayat yang berikutnya. Untuk menghafal ayat yang berikutnya, kita lakukan seperti yang telah kita lakukan pada ayat yang pertama, yaitu:

a. Baca ayat secara benar dan perlahan

وَرَأَيْتَ النَّاسَ… يَدْخُلُونَ… فِي دِينِ اللَّهِ… أَفْوَاجًا.

Wa ra-aitann-nâsa… yadkhûlûna… fî dînillâhi… afwâjâ.

b. Potong-potong menjadi satu atau dua suku kata

وَرَأَيْتَ النَّاسَ… يَدْخُلُونَ… فِي دِينِ اللَّهِ… أَفْوَاجًا.

Wa ra.. ai… tann… nâsa… yad… khulûna… fî dî… nillâhi… afwâjâ.

c. Ajak anak menirukannya

  • wa ra..
  • ai tann…
  • nâsa…
  • yad…
  • khulûna…
  • fî dî…
  • nillâhi…
  • af…
  • wâjâ…

d. Sambung menjadi tiga atau empat suku kata

  • wa ra-ai…
  • tann-nâsa…
  • yadkhûlûna…
  • fî dînillâhi…
  • afwâjâ…

e. Tingkatkan menjadi lima atau enam suku kata

  • wa ra-aitann-nâsa…
  • yadkhûlûna fî dî…
  • nillâhi afwâjâ…

f. Terus tingkatkan

  • wa ra-aitann-nâsa yadkhûlûna…
  • fî dînillâhi afwâjâ.

Lalu:

  • wa ra-aitann-nâsa yadkhûlûna fî dînillâhi…
  • afwâjâ…

Dan akhirnya:

  • wa ra-aitann-nâsa yadkhûlûna fî dînillâhi afwâjâ…

g. Ulangi tiga kali berturut-turut tanpa ada kesalahan

  • wa ra-aitann-nâsa yadkhûlûna fî dînillâhi afwâjâ…
  • wa ra-aitann-nâsa yadkhûlûna fî dînillâhi afwâjâ…
  • Terakhir: wa ra-aitann-nâsa yadkhûlûna fî dînillâhi afwâjâ…

11. Sebelum Pindah ke Ayat Ketiga

Sebelum pindah ke ayat ketiga, hendaknya kita cek dahulu hafalan ayat pertama. Jangan-jangan ada bagian dari ayat pertama yang tercecer. Bila benar ada bagian yang tercecer pada ayat yang pertama, hendaknya kita ulang proses menghafal ayat yang pertama.

Sekali lagi dan sekali lagi, di sinilah kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan kita perlukan. Di sinilah kita benar-benar sedang diuji.

a. Memperbaiki hafalan ayat pertama

Ayat yang pertama sudah hafal dengan baik, kita pindah ke ayat kedua. Kita hafal ayat yang kedua, ternyata ayat pertama kelupaan. Hendaknya kita tidak heran, bingung ataupun panik, karena memang demikianlah yang dialami oleh hampir semua orang. Kita tidak sendirian. Oleh karena itu, kita tidak perlu memarahi anak gara-gara dia lupa. Marah membuat anak ketakutan, sehingga konsentrasinya buyar. Selanjutnya dia akan lebih susah menghafal.

Untuk menghafal ayat yang pertama untuk yang kedua kali hanya memerlukan waktu beberapa saat saja. Tetap fokus pada proses menghafal yang benar. Cek kata per kata bacaan anak. Setiap ada kata yang salah, langsung betulkan. Kita ulangi proses dari awal.

b. Mengecek hafalan ayat kedua

Setelah anak mengingat kembali ayat yang pertama dengan sempurna, dengan cara membacanya sebanyak tiga kali berturut-turut, kita cek lagi hafalan ayat yang kedua. Boleh jadi selama memperbaiki hafalan ayat yang pertama, hafalan ayat yang kedua sedikit berantakan. Sekali lagi kita tidak perlu heran, bingung maupun panik. Hal ini juga dialami oleh hampir semua orang.

Kembali kita perbaiki hafalan ayat yang kedua dengan proses seperti kita memperbaiki hafalan ayat yang pertama. Setelah berhasil, jangan buru-buru menghafal ayat yang ketiga. Cek kembali ayat yang pertama.

c. Memastikan hafalan ayat pertama dan ayat kedua

Sebelum kita pindah ke ayat ketiga, hendaknya kita telah menghafal ayat yang pertama dan ayat kedua dengan sempurna. Tanda bahwa kita telah menghafal kedua ayat itu secara sempurna, apabila kita mampu membaca kedua ayat itu sambung-menyambung sebanyak tiga kali berturut-turut.

  • Idzâ jâ-a nashrullâhi wal-fath.
  • Wa ra-aitann-nâsa yadkhûlûna fî dînillâhi afwâjâ.
  • Idzâ jâ-a nashrullâhi wal-fath.
  • Wa ra-aitann-nâsa yadkhûlûna fî dînillâhi afwâjâ.
  • Idzâ jâ-a nashrullâhi wal-fath.
  • Wa ra-aitann-nâsa yadkhûlûna fî dînillâhi afwâjâ.

Setelah mampu membaca kedua ayat itu sambung-menyambung sebanyak tiga kali berturut-turut, insya Allah itu merupakan tanda kita telah menghafal kedua ayat itu dengan sempurna. Hal yang sama juga berlaku bagi anak-anak. Setelah itu, silakan kita berpinda kepada ayat ketiga.

12. Pindah ke Ayat Ketiga

Teknik menghafal ayat yang ketiga sama dengan menghafal ayat yang sebelumnya. Kita potong-potong ayat ini menjadi beberapa potong, dan seterusnya, dan seterusnya.

فَسَبِّحْ… بِحَمْدِ… رَبِّكَ… وَاسْتَغْفِرْهُ… إِنَّهُ …كَانَ… تَوَّابًا.

Fasabbih… bihamdi… rabbika… wastaghfirhu… innnahû… kâna… tawwâbâ.

Fasabbih bihamdi… rabbika wastaghfirhu… innnahû… kâna tawwâbâ.

Fasabbih bihamdi rabbika wastaghfirhu… innnahû kâna tawwâbâ.

Fasabbih bihamdi rabbika wastaghfirhu innnahû kâna tawwâbâ.

13. Tanda Anak Sudah Hafal Sebuah Surat

Tanda anak sudah hafal sebuah surat dengan baik, apabila dia mampu membaca surat tersebut, dari ayat pertama hingga ayat terakhir  sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa ada kesalahan sama sekali. Apabila masih ada satu saja kesalahan, baik pada bacaan pertama, bacaan kedua maupun bacaan ketiga, maka sebenarnya dia belum benar-benar hafal. Anak tersebut masih memerlukan latihan untuk membaca dengan lancar tanpa kesalahan sama sekali. Hal ini juga berlaku bagi orang dewasa, yaitu kita para orang tua.

14. Berikan Penghargaan

Setiap anak berhasil menghafalkan sebuah ayat ataupun surat, hendaknya kita berikan penghargaan. Penghargaan di sini tidak harus berupa materi. Kalau pun hendak diwujudkan berupa materi, juga tidak harus berupa barang yang mahal. Senyum yang tulus, atau pujian yang sewajarnya, insya’ Allah sudah cukup membuat anak tetap bersemangat untuk melanjutkan kegiatan menghafal.

Alhamdulillâh, Allah telah memberiku anak yang pintar.”

Subhânallâh, satu surat sudah selesai. Ayah saja dulu perlu waktu tiga hari untuk menghafalnya. Sedangkan kamu hanya perlu waktu dua hari. Alhamdulillâh… Siapa dulu dong ayahnya.”

___________

Sumber:

Buku Jurus Jitu Agar Anak Rajin Shalat, Cepat Hafal al-Qur’an dan Berbakti kepada OrangtuaAhda Bina, Lc.

Tags:

0 thoughts on “Jurus Jitu Agar Anak Mudah Menghafal al-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.