SHOPPING CART

close
Qawaid Fiqhiyah

Kaidah Fiqih 1: Semua Urusan Itu Tergantung pada Niat dan Tujuannya

اَلْاُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا

(Al-u-muu-ru bi ma-qaa-shi-di-haa.)

Semua urusan itu tergantung pada niat atau tujuannya.

Contoh masalah:

1. Niat atau tujuan menjadi pembeda antara ibadah dan kebiasaan. Seperti orang yang gosok gigi sebelum berwudhu. Ada yang niatnya ibadah, ada yang niatnya untuk kesehatan, ada pula yang niatnya menghilangkan bau mulut saja.

2. Niat menjadi pembeda antara satu ibadah dengan ibadah yang lain. Seperti orang yang shalat dua rakaat pada pukul sembilan pagi. Apakah dia shalat Dhuha, shalat hajat, atau shalat Shubuh kesiangan? Niatlah yg menjadi pembeda.

3. Seorang suami berkata kepada istrinya: “Mari, aku antar kamu pulang kepada kedua orangtuamu.” Niatlah yang akan menentukan, apakah suami itu mentalak istrinya dengan bahasa kiasan, atau mengajak istri menengok orangtuanya.

4. Seseorang menyerahkan sepeda motor kepada temannya, dan berkata: “Ambillah sepeda motor ini!” Niatlah yang menentukan, apakah dia hendak memberikan sepeda motor itu sebagai hadiah, atau sekadar meminjamkannya.

5. Seorang lelaki berkata kepada seorang janda yang ditinggal mati suaminya: Semoga Allah memberikan ganti yang lebih baik. Niatlah yang menentukan, apakah laki-laki itu melamar dengan bahasa kiasan, atau sekedar mendoakan kebaikan.

***

Catatan:

1. Niat yang baik tidak bisa menghalalkan perbuatan haram. Seperti mencuri dari orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin, hukumnya tetap haram.

2. Niat perbuatan yang baik, namun ternyata malah mencelakakan orang lain, maka pelakunya tetap wajib memberikan ganti rugi. Demikian pula perbuatan yang tidak diniatkan, alias tidak sengaja. Seperti memindahkan pot bunga di toko, kemudian tidak sengaja terlepas, jatuh dan pecah.

3. Apakah niat harus dilafazkan?

Ada niat yang wajib dilafazkan, seperti niat berhaji dan berumrah itu wajib dilafazkan. Karena hal ini diperintahkan oleh Rasulullah Saw.

Ada niat yang sebaiknya dilafazkan, seperti niat puasa Ramadhan. Karena ada peringatan dari Rasulullah Saw. bahwa puasa Ramadhan tidak sah tanpa diniatkan pada malam harinya. Dalam hal ini niat dilafazkan untuk membantu hati.

Ada niat yang boleh dilafazkan, seperti niat berwudhu dan shalat. Karena kadang setelah takbiratul ihram kita baru ingat dengan niat. Ini mau shalat sunnah tahiyatul masjid atau shalat rawatib. Dengan demikian, niat dilafazkan untuk antisipasi.

4. Ada orang melafazkan niat shalat Shubuh dengan ucapan: “Ushalli fardhas Shubhi tsalatsa raka’at…”

Bila diterjemahkan: “Aku niat shalat Shubuh tiga rakaat…” Kemudian dia shalat dua rakaat.

Apakah shalatnya sah?

Jawabannya: Shalatnya sah. Karena niat itu yang penting pada hatinya, bukan pada lisannya.

Allahu a’lam.

Tags:

0 thoughts on “Kaidah Fiqih 1: Semua Urusan Itu Tergantung pada Niat dan Tujuannya

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Klik di sini
Perlu penjelasan tambahan?