SHOPPING CART

close

Kaidah Fiqih 1: Semua Urusan Tergantung Niat dan Tujuan

اَلْاُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا

(Al-u-muu-ru bi ma-qaa-shi-di-haa.)

Semua urusan itu tergantung pada niat atau tujuannya.

 

Contoh masalah:

1. Gosok Gigi

Niat atau tujuan menjadi pembeda antara ibadah dan kebiasaan. Seperti orang yang gosok gigi sebelum berwudhu. Ada yang niatnya ibadah, ada yang niatnya untuk kesehatan, ada pula yang niatnya menghilangkan bau mulut saja.

Bila niat bergosok gigi untuk ibadah, maka gosok gigi merupakan sunnah wudhu. Sehingga wudhu menjadi lebih sempurna.

BIla niat bergosok gigi adalah untuk menjaga kesehatan gigi, maka tidak menjadi amalan kesempurnaan wudhu. Demikian pula halnya dengan niat gosok gigi dengan tujuan menghilangkan bau mulut. Tidak menjadi amalan kesempurnaan wudhu.

2. Shalat Dhuha atau Shalat Shubuh Kesiangan

Niat menjadi pembeda antara satu ibadah dengan ibadah yang lain. Seperti orang yang shalat dua rakaat pada pukul sembilan pagi. Apakah dia shalat Dhuha, shalat hajat, atau shalat Shubuh kesiangan? Niatlah yg menjadi pembeda.

Bila niatnya shalat Dhuha, maka itu merupakan shalat Dhuha. Bila niatnya shalat Shubuh kesiangan, maka itu merupakan shalat Shubuh. Meskipun dilakukan pada jam 09.00. Juga meskipun bacaan dan gerakannya sama. Karena yang paling adalah niatnya. Niat membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain. Meskipun secara lahiriyah bentuk perbuatannya sama.

3. Aku antar kamu pulang

Seorang suami berkata kepada istrinya: “Mari, aku antar kamu pulang kepada kedua orangtuamu.” Niatlah yang akan menentukan, apakah suami itu mentalak istrinya dengan bahasa kiasan, atau mengajak istri menengok orangtuanya.

Bila seorang mengatakan hal itu dengan niat talak, maka jatuhlah talak satu. Bila dia mengatakan hal itu dengan niat menyuruh istri liburan, maka tidak jatuh talak.

4. Ambil Sepeda Motor Ini

Seseorang menyerahkan sepeda motor kepada temannya, dan berkata, “Ambillah sepeda motor ini!” Niatlah yang menentukan, apakah dia hendak memberikan sepeda motor itu sebagai hadiah, atau sekadar meminjamkannya.

Bila dia mengatakan hal itu dengan niat memberi, maka kepemilikan sepeda motor itu pun telah pindah. Sepeda motor itu menjadi milik orang lain.

Bila dia mengatakannya dengan niat memberikan pinjaman, maka kepemilikan sepeda motor itu tetap ada padanya. Tidak pindah kepada orang lain.

5. Doa kebaikan atau lamaran

Seorang lelaki berkata kepada seorang wanita yang ditalak suaminya, “Semoga Allah memberikan ganti yang lebih baik padamu.” Padahal wanita itu masih dalam masa iddah. Niatlah yang menentukan, apakah laki-laki itu sedang melamar dengan bahasa kiasan, atau sekedar mendoakan kebaikan.

Bila niatnya adalah melamar, maka perkataan itu merupakan lamaran. Di mana hal itu dilarang dilakukan oleh seorang laki-laki kepada wanita yang masih sedang dalam masa iddah perceraian. Baik dilakukan secara terang-terangan maupun secara tersembunyi (memakai bahasa kiasan). Maka laki-laki itu berdosa.

Bila niatnya adalah mendoakan, maka hal itu tidak masalah. Boleh-boleh saja. Tidak berdosa. Atau bahkan memperoleh pahala, karena telah mendoakan kebaikan. Namun sebaiknya tidak dilakukan, karena bisa membuat orang lain salah tafsir.

***

Catatan:

1. Niat yang baik tidak bisa menghalalkan perbuatan haram. Seperti mencuri dari orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin, hukumnya tetap haram.

2. Niat perbuatan yang baik, namun ternyata malah mencelakakan orang lain, maka pelakunya tetap wajib memberikan ganti rugi. Demikian pula perbuatan yang tidak diniatkan, alias tidak sengaja. Seperti memindahkan pot bunga di toko, kemudian tidak sengaja terlepas, jatuh dan pecah.

3. Apakah niat harus dilafazkan?

Ada niat yang wajib dilafazkan, seperti niat berhaji dan berumrah itu wajib dilafazkan. Karena hal ini diperintahkan oleh Rasulullah Saw.

Ada niat yang sebaiknya dilafazkan, seperti niat puasa Ramadhan. Karena ada peringatan dari Rasulullah Saw. bahwa puasa Ramadhan tidak sah tanpa diniatkan pada malam harinya. Dalam hal ini niat dilafazkan untuk membantu hati.

Ada niat yang boleh dilafazkan, seperti niat berwudhu dan shalat. Karena kadang setelah takbiratul ihram kita baru ingat dengan niat. Ini mau shalat sunnah tahiyatul masjid atau shalat rawatib. Dengan demikian, niat dilafazkan untuk antisipasi.

4. Ada orang melafazkan niat shalat Shubuh dengan ucapan: “Ushalli fardhas Shubhi tsalatsa raka’at…”

Bila diterjemahkan: “Aku niat shalat Shubuh tiga rakaat…” Kemudian dia shalat dua rakaat.

Apakah shalatnya sah?

Jawabannya: Shalatnya sah. Karena niat itu yang penting pada hatinya, bukan pada lisannya.

5. Untuk memahami masalah niat ini, kita bisa menyimak artikel berikut:

Arbain Nawawiyah 1: Semua Amal Tergantung Niatnya

***

Penutup

Demikian sekilas mengenai kaidah fiqih yang berkaitan dengan niat. Semoga ada manfaatnya bagi kita bersama.

Allahu a’lam.

___________________

Sumber bacaan:

– Artikel:

قاعدة: الأمور بمقاصدها

Tags:

2 thoughts on “Kaidah Fiqih 1: Semua Urusan Tergantung Niat dan Tujuan

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.